11 Sekolah dan 5 Desa di Tanambulava Lakukan Kajian Ancaman dan Kerentanan Bencana

11 Sekolah dan 5 Desa di Tanambulava Lakukan Kajian Ancaman dan Kerentanan Bencana

Sigi-Yayasan Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA) melalui dukungan Mercy Relief melakukan kegiatan Fokus Group Discussion (FGD) untuk menganalisa ancaman, kerentanan dan kapasitas secara partisipasi bersama perwakilan 11 sekolah, yakni, PAUD Anantovea, TK Al Khairaat Sibalaya Utara, TK dan SD Satu Atap Sibalaya Selatan, SD dan SMP Satu Atap Lambara, SD Negeri Sibalaya Utara, SD Inpres Malakantu, MTS Al Khairaat, MTS DDI Lonja dan SMP Negeri 8 Sigi dan 5 desa; Sibowi, Sibalaya Utara, Sibalaya Selatan, Sibalaya Barat dan Lambara di kecamatan Tanambulava.

Siaran pers PKPA yang diterima MAL pekan lalu menyebutkan kegiatan itu dilakukan di aula sekolah Madrasah Tsanawiyah (MTs) DDI Lonja desa Sibowi ini dihadiri oleh 54 peserta yang merupakan perwakilan perangkat sekolah dan desa serta komite sekolah atau orang tua siswa pekan lalu.

Para peserta mendapatkan pengetahuan dasar berkaitan dengan bencana serta beberapa kebijakan yang berhubungan dengan penanggulangan bencana.

Franz Albert Hulu, fasilitator kegiatan FGD mengajak peserta untuk melakukan penggalian informasi di berbagai sektor penting yang berhubungan dengan kebencanaan, mulai dari jenis bencana, sejarah terjadinya bencana di sekitar lingkungan sekolah dan kabupaten. Peserta juga diajak untuk melakukan penilaian terhadap berbagai ancaman dan kerentanan yang ada di sekitar lingkungan sekolah.

Secara umum, mayoritas sekolah memberikan penilaian tertinggi bahwa bencana gempa merupakan ancaman yang paling tinggi karena mereka sampaikan berada pada jalur patahan Palo Koro dan dampak gempa yang sangat besar.

Ismail Marzuki, manajer program pengurangan resiko bencana berbasis sekolah menyampaikan bahwa kegiatan FGD tersebut menjadi bagian yang sangat penting untuk dilakukan oleh masing-masing sekolah, sehingga sekolah diharapkan mampu membuat rencana pengurangan resiko bencana merujuk pada ancaman, kerentanan dan kapasitas apasaja yang mereka perlukan untuk menjadikan mereka lebih siaga dan tangguh.

“Ini pertama sekali bagi saya mengikuti pelatihan pengurangan resiko bencana, dan saya mengucapkan terima kasih kepada PKPA. Kami menjadi tahu ancaman bencana, kerentanan yang kami miliki di sekolah, dan hal ini akan saya sampaikan kepada kepala sekolah sehingga rencana-rencana aksi kami nantinya dapat didukung dan kami laksanakan di sekolah,’ kata Firdawati, peserta dari SMP Negeri 8 Sigi.

Hal senada disampaikan Anwar, peserta yang mewakili orang tua siswa dari TK SD Satu Atap Sibalaya Selatan. Anwar menyampaikan bahwa kegiatan FGD sangat membantu memberikan pengetahuan bagi mereka yang masuk area rawan bencana.
Para peserta dilatih dalam kerja kelompok kemudian melakukan pembuatan rencana aksi dan peta kerawanan bencana sekolah agar guru dan siswa memahami apa dan bagaimana yang harus mereka lakukan saat terjadi bencana di masa yang akan datang.*(RL)

Wartakiat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

shares