BUKAN ORANG BIASA

BUKAN ORANG BIASA

Oleh : Kasman Jaya Saad

Menjelang dan setelah pengumuman menteri dan wakil menteri Indonesia maju oleh Presiden RI Joko Widodo, saya akrab membaca di media sosial (pemberitaan) kalimat “Bukan orang biasa”. Kalimat ini menarik dicermati, kenapa kalimat bukan orang biasa itu disematkan pada sang menteri atau wakil menteri yang diangkat dalam kabinet Indonesia maju, begitu juga terhadap keluarga atau istri sang menteri. Ada dua hal paling tidak melatari, menurut saya. Pertama, karena yang bersangkutan lahir dari keluarga berada, baik karena orang tua mereka adalah pemilik perusahaan besar atau dari keluarga yang memiliki jabatan mentereng di republik ini. Kedua, karena mereka memiliki latar belakang pendidikan tinggi dan setumpuk jabatan dalam pekerjaan yang pernah bersangkutan pegang. Sebagai misal, “Istri Nadiem Makarim, Franka Franklin disebut bukan orang biasa, karena background pendidikan istri mantan bos GoJek ini, merupakan lulusan dari Fashion Raffles Design Institue dan Northumbria University, Belanda. Setelah lulus kuliah, Franka Franklin  langsung bekerja di sebuah agensi periklanan di Singapura. Tahun 2007, Franka Franklin kembali ke Indonesia. Istri Mendikbud ini kemudian bergabung dengan sebuah agensi branding ternama. Ketika berusia 29 tahun, Franka Franklin, sebagai penganut Katolik sempat menjabat sebagai Chief Marketing Officer (CMO) di sebuah ritel e-commerce kosmetik di Indonesia.
Begitulan kira-kira media sosial (pemberitaan) menafsirkan bukan orang biasa. Jadi indikatornya pada materi dan prestasi akademik an sich, dan itu menjadi standar untuk menyebut seseorang sebagai bukan orang biasa.
Ketegorisai orang biasa dan bukan orang biasa yang berpusar di komosmologi seseorang, lebih ditentukan pada aspek materi dan akademik, bukan pada karakter, menyebabkan banyak capaian hidup atau ukuran kesuksesan dinilai pada bergelimangnya harta atau kekayaan dan gelar akademik yang telah dimiliki seseorang. Orang pun berlomba-lomba menjadi pemuja materi agar dinilai sukses dan menjadi bukan orang biasa. Orang lalu berkejaran dengan waktu untuk mencapai kepuasan materi itu dan ingin cepat sukses dan cepat berhasil. Para pengejar gelar akademik tidak luput dari perilaku ini. Semua ingin dilakukan dengan cara cepat-instant. Tidak peduli lagi dengan proses akademik yang harusnya dilalui. Para kapitalis pendidikan, termasuk para pendidik melakukan hal yang sama, orientasi mereka hanya mengejar materi. Tidak peduli dengan etika akademik. Kelimpahan materi menjadi tujuan, apapun caranya. Penting cepat kaya dan sukses, dan menjadi bukan orang biasa.
Dan para politisi juga semakin kemaruk dan miskin integritas. Dimabuk asesoris keduniaan. Kolusi menjadi santapan keseharian. Ingin cepat kaya dan cepat dianggap sukses, menjadi bukan orang biasa. Mimpi jadi politisi–senator, menghinggapi banyak anak muda kini. Orientasi mereka hanya pada kekuasaan an sich, begitu pragmatis, cita-cita hidup sekedar menjadi ‘The have’,menjadi bukan orang biasa. Dan kita larut memuliakan mereka sebagai produk demokrasi, sebagai wakil rakyat.
Para birokrat yang dimuliakan dengan anggaran negara juga terobsesi ingin cepat sukses dan kaya, menjadi bukan orang biasa. Tidak peduli dengan proses. Ukuran keberhasilan ketika cepat memiliki kendaraan, rumah dan segala kebutuhan sekunder yang menjadikan mereka merasa lebih terhormat, bukan orang biasa. Proses dalam kehidupan diganti sukses yang diperoleh dengan cara gampang -Instant. Demi kepentingan pribadi dan untuk memperoleh jabatan (kekuasaan) semua akan dilibas. Tidak peduli itu hak orang lain atau rakyat sekalipun. Itu sebab, jalan pintas dengan cara korupsi begitu membudaya di negeri ini. Ironi.
Namun bila nilai imperatif yang dijadikan indikator dalam menilai bukan orang biasa, maka karakter seseorang menjadi sandarannya. Karakter dapat dimaknai sebagai lukisan jiwa, yang menjadi dasar kepribadian seseorang yang terkait dengan kualitas-kualitas moral, integritas, dan ketegaran pada prinsip hidup yang diyakini kebenarannya. Jiwa yang berkarakter tidak sepenuhnya dipenuhi rasionalitas dan materi, namun yang terpenting memiliki sandaran transenden (spiritual) yang kokoh, yang dapat membawa siapapun orang (termasuk orang biasa) ke level tinggi kecerdasan yang menguatkan nilai transenden (spritual) dan amal dalam kehidupan. Dan disinilah letaknya esensi kehidupan seseorang karena misi (spiritual) jelas. Tidak gamang, tidak kemaruk alias rakus karena dipenuhi jiwa yang tenteram. Ilmu atau kekuasaan yang dimiliki tidak menggoyangkan kualitas spritualnya. Jadi menakar seseorang “bukan orang biasa’ pada aspek materi dan prestasi akademik an sich sungguh nisbi. Tabe….

Penulis  :
Orang Biasa & Mengabdi di Universitas Alkhairaat Palu

Wartakiat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

shares