Ancaman Kehidupan

Ancaman Kehidupan

Oleh : Ratnawati

Bukan virus korona yang lagi trend itu,  awal mewabah di Wuhan Cina dan sudah merepotkan banyak negara menjadi  ancaman kehidupan yang saya maksud dalam tulisan ini. Namun soal menyusutnya berbagai jenis Serangga. Ya serangga, dan sengaja saya tidak menulisnya dalam judul besar tulisan ini, semata untuk lebih memberi kesan “penasaran” saja bagi pembaca.  Selain itu, karena kita cenderung tak peduli dengan keberadaan serangga di muka bumi ini, padahal perannya sangat luar bisa bagi kehidupan manusia.

Selama ini, upaya konservasi dan studi ilmuwan lebih fokus  pada fauna besar, seperti gajah,  harimau, bahkan buaya. Di daerah ini, di kota Palu, buaya berkalung ban itu mendapat perhatian bukan saja dari BKSDA negeri ini, namun juga dari banyak negara untuk menyelamatkannya/melepaskan kalung ban dari buaya itu. Ahli buaya asal Australia  Matt Wringht  sudah beberapa hari di Palu untuk maksud itu. Begitu fokus dan peduli.

Lantas bagaimana dengan serangga?. Banyak yang tidak peduli dengan menyusutnya berbagai jenis serangga di planet bumi ini. Oleh karena itu para ilmuwan aliansi ilmuwan dunia mengingatkan dengan mengeluarkan manifesto (pernyataan terbuka) yang berkaitan dengan soal alarm ancaman kehidupan dengan makin menyusutnya berbagai jenis serangga.  Manifesto  “Pernyataan ilmuwan dunia untuk kemanusiaan”  didukung data ilmiah dari hasil riset tentang penyebab kepenuhan serangga dan konsekuensinnya bagi kehidupan itu telah dipublikasi di jurnal ilmiah Biological Conservation (9/2/2020). Setengah dari satu juta spesies hewan dan tumbuhan di bumi ini yang terancam punah adalah serangga.

Ulah manusia adalah menjadi penyebab punahnya atau hilangnya jenis serangga di muka bumi.  Ulah manusia yang tidak memiliki kesadaran ekologis dalam mengelolah alam ini. Dalam agroekosistem (ekosistem pertanian)  penggunaan bahan kimia (pestisida dan pupuk sintetis) demikian masif dilakukan, seakan produksi diatas segala-galanya. Matinya banyak jenis serangga bermanfaat tak dihiraukan. Hal ini menyebabkan agroekosistem menjadi ekosistem yang labil, sehingga membutuhkan tambahan energi dari luar makin meningkat.

Demikian halnya eksploitasi yang berlebihan yang dilakukan. Paham antroposentrisme, menilai manusia, berkuasa atas segala sesuatu di alam ini, segala sesuatu di alam semesta ini hanya akan mendapat nilai dan perhatian sejauh menunjang untuk kepentingan manusia, lingkungan atau alam hanya dilihat sebagai obyek bagi pemenuhan kebutuhan dan kepentingan manusia.  Alam tidak mempunyai nilai pada dirinya sendiri. Bahkan dengan kemajuan teknologi dewasa ini membuat manusia makin egoistis, tidak peduli lingkungan sekitar, termasuk keberadaan serangga.  Berbagai pencapaian teknologi tersebut telah membutakan manusia terhadap akan adanya berbagai keterbatasan manusia di dalam ekosistem. Akibatnya, banyak tindakan manusia yang tidak bijaksana terhadap lingkungan serta menimbulkan berbagai kerusakan lingkungan termasuk hilangnya habitat, degradasi dan fragmentasi habitat serangga.

Apa kaitannya dengan kepunahan serangga dengan kemanusiaan. Menurut Otto Soemarwoto, bahwa kehidupan manusia sejatinya dipengaruhui oleh keberadaan mahluk lain di muka bumi ini, salah satu makhluk yang berperan itu adalah kelompok arthropoda, khususnya serangga.  Peran penting serangga itu dalam ekosistem demikian beragam, mulai dari penyerbukan, menyuburkan tanaman hingga perannya sebagai dekomposer (pengurai) sampah. Oleh sebab itu bila terjadi kepunahan serangga dapat pula menyebabkan terjadinya kepunahan kehidupan kita sendiri atau paling sedikit ekosistem tempat kita hidup dapat mengalami keambrukan yang mengakibatkan banyak kesulitan yang akan kita alami.   80 % dari semua tanaman dimuka bumi adalah angiospermae atau tanaman berbunga yang membutuhkan  serangga untuk dapat berproduksi. Contohnya Kopi, tanpa serangga tak bisa berbuah. Artinya tanpa serangga maka akan terjadi kesulitan makanan bagi kita manusia, disinilah makna kemanusiaan itu.  Dalam laporan panel ilmiah hayati untuk keanekaragaman hayati PBB 2019 menyebutkan besarnya  jasa lingkungan yang diberikan serangga. Jasa penyerbukan serangga mencapai 235 miliar dolar AS hingga 577 miliar dolar AS.

Fakta ancaman kepunahan-menyusutnya serangga itu sudah terjadi.  Dalam menifesto ilmuwan itu mengingatkan bahwa telah terjadi 5 hingga 10 % dari semua spesies serangga hilang dengan kecepataan tinggi dibandingkan 200 tahun lalu. Di Indonesia menurut Rosichon Ubaidillah, ahli serangga dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) kecepatan penyusutan populasi dan jenis serangga lebih parah dibandingkan dengan kondisi global karena meluasnya kebakaran hutan, sebagai habitat serangga.

Dengan peran yang besar dari serangga itu dan perilaku banyak pihak yang tidak peduli, maka manefisto itu perlu mendapat perhatian serius.  Dan juga peringatan bagi kita untuk lebih wise dalam mengelolah alam termasuk menjaga dan memelihara habitat  serangga. Semoga.

 

(Penulis : Dosen Universitas Alkhairaat)

Wartakiat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

shares