KITA DAN CORONA

KITA DAN CORONA

Oleh : Imad KJ.Saad

Sebulan lebih kiranya Pandemi Covid-19 (corona) menimpa negeri ini. Banyak perubahan menyentuh sendi-sendi kehidupan manusia. Manusia yang dulunya bebas berkeliaran di luar rumah kini dipaksa harus berdiam diri di rumah. Corona memaksa manusia untuk sejenak menanggalkan keinginan-keinginan untuk berkumpul, berjumpa, dan bertatap muka. Sekolah-sekolah diliburkan, kantor diistirahatkan, hingga ibadah jamaah di rumah-rumah ibadah harus dihentikan.
Sehari, sepekan, dan kini telah mencapai sebulan corona menjadi kelabu yang masih hinggap di kanvas langit ibu pertiwi. Tidak ada yang tahu kapan kelabu ini akan menguak. Yang kita tahu, ada harapan yang terus pelan-pelan tumbuh menghembuskan kabut yang melanda negeri ini.
Dengan cepat corona menjelma takdir yang tidak diinginkan manusia manapun. Bukan saja memaksa manusia menghentikkan kodratnya untuk bergerak dan bersosial sehingga harus di rumah saja, corona turut memaksa mereka di luar sana yang masih harus tetap bertarung melawan nasib di luar rumah demi sesuap nasi karena di rumah saja tidak akan bisa menghasilkan pundi-pundi rezeki.
Di tengah krisis semacam ini, kemanusiaan menampakkan wujudnya. Kemanusiaan menembus batas strata sosial, agama, suku, dan budaya. Manusia kembali belajar untuk saling memahami dan berempati. Saling berbondong-bondong menolong sesama. Dan, belajar untuk menyederhanakan hidup yang selama ini sibuk menghiasi topeng. Ini adalah kemewahan yang dimiliki umat manusia.
Kita jadi belajar bahwa jarak dan waktu adalah gemerlap kenikmatan yang selama ini telah menerangi hari-hari kita. Dan, dengan jeda yang sementara hadir menjadikan kita belajar untuk menghargai jarak dan waktu bukan hanya bagi diri sendiri tetapi juga kepada orang lain.
Jeda ini memberi waktu yang lain bagi kita untuk sekadar merasakan suasana bumi yang lebih asrih karena tidak lagi disibukkan dengan asap-asap kendaraan. Memberi kita ruang yang baru untuk dapat menikmati bau tanah yang masih tersisa embun karena selama ini kita bisa jadi terlalu sibuk mengambil jarak dengan bumi karena pekerjaan yang menumpuk.
Memasuki lerung yang baru ini, ada perasaan yang lebih akrab kepada setumpuk rindu kepada orangtua, sanak saudara, dan kampung halaman nun jauh di sana. Kita jadi mengerti bahwa rumah akan senantiasa menampung setiap inci kenangan yang ditinggalkan oleh penghuninya, menetap pada tiap barisan ingatan dan tak mengizinkan siapapun untuk melupakan.
Rumah menjadi ruang rindu yang meminta untuk ditenangkan. Tempat bagi ingatan yang ingin pulang kembali ketika jarak mulai terasa menyesakkan. Membasuh tanah kering kerinduan yang habis di makan jarak. Dan, menjelma jubah yang menyelimuti lewat kehangatan berbalut rindu.
Dalam persimpangan tahun yang bernuansa berbeda ini pula, tiap-tiap orang memiliki definisinya sendiri dalam menjalani hari. Perasaan menjalani hari terasa berbeda dan lebih dalam dari sebelum-sebelumnya. Sepanjang hari itu, pada tiap detik manapun, ada riwayat yang menyimpan pertarungan antara harapan dan keputusasaan agar badai ini segera berlalu.
Rasanya, dengan adanya kejadian ini, kita jadi lebih sering menghirup partikel-partikel masa lalu yang mengapung dan melayang di atap-atap langit. Mengingat-ingat getaran udara di kerumunan masa yang merambat dari ujung kaki hingga kepala. Dan, mencoba meraba-raba kembali jejak-jejak yang telah diukir dengan nafas yang dialiri semesta.
Nampaknya kehidupan memang seperti itu. Keberadaannya sangat misterius. Di setiap selingkup keberadaan seputar kehidupan, misteri selalu ada pada tiap potongan cerita dan kisah. Di antara cinta dan keheningan.
Maka, di tengah misteri yang menyalak kehidupan, menggalangkan doa dengan terus menerus mendarasnya adalah bagian untuk mengungkap misteri. Misteri dari akhir gelombang pandemi yang tak tahu rimanya kapan berakhir. Lantunan doa juga dapat menjadi bagian untuk mengirimkan energi halus kepada mereka yang masih harus berjuang di luar sana, para tenaga medis, para pedagang kaki lima, ibu-ibu penjual di pasar, hingga para driver ojol.
Misteri corona adalah hal yang sukar untuk diungkapan. Keberadaannya membungkus nasib dengan dengan langkah yang ragu-ragu. Meski begitu, perjalanan menguak misteri tidak akan dapat terungkap jika hanya diam. Melangkah meski ragu-ragu setidaknya sedikit memiliki kekuatan yang tak dapat dihentikkan untuk mengubah takdir.
Jika corona adalah takdir yang telah ditetapkan, maka tugas kita adalah untuk terus melangkah seraya melayangkan doa. Karena setiap langkah adalah doa.
Semua langkah disertai perjalanan akan sampai menemukan ujungnya, entah di mana dan sampai kapan. Tinggal waktu yang menjadi penentu. Untuk melihat seberapa tabah kita manusia untuk tetap melangkah dalam waktu dan tidak tunduk pada jarak.

 

Penulis adalah  Mahasiswa Magister Kepemimpinan Dan Inovasi Kebijakan UGM/Warga Palu

Wartakiat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

shares