Perguruan Tinggi Swasta di Sulawesi Raih Skor Signifikan Klasterisasi Kemendikbud

Perguruan Tinggi Swasta di Sulawesi Raih Skor Signifikan Klasterisasi Kemendikbud

Palu-wartakiat | Perguruan Tinggi Swasta (PTS), di wilayah Sulawesi mengalami peningkatan ranking dan skor yang signifikan pada Klasterisasi Perguruan Tinggi (PT) Tahun 2020 yang diumumkan Dirjen Dikti pada tanggal 17 Agustus 2020.

Siaran pers LLDIKTI wilayah IX yang diterima redaksi wartakiat.com, Rabu,(19/8), menyebutkan, dua PTS di Makassar, yakni, Universitas Muslim Indonesia (UMI), dan Universitas Bosowa (Unibos) berhasil masuk dalam peringkat 100 Perguruan Tinggi Terbaik di Indonesia.

Humas LLDIKTI wilayah IX dalam siaran pers tersebut menyampaikan rasa gembira Prof. Jasruddin, Kepala LLDIKTI Wilayah IX Sulawesi atas capaian tersebut.

Menurut Prof. Jasruddin, capaian tersebut sudah sesuai dengan target yang ingin dicapai tahun ini. Karena tahun lalu, tidak ada satupun PTS di Sulawesi yang masuk kategori 100 PT Terbaik Nasional.

“UMI tahun ini berhasil naik peringkat 64 dari peringkat 102 tahun lalu, sedangkan UNIBOS meloncat dari peringkat 189 tahun lalu ke peringkat 82 tahun ini,” ujar Prof. Jasruddin.

Prof. Jasruddin menambahkan, sejak awal tahun 2020, LLDIKTI Wilayah IX memang intens melakukan pendampingan untuk memastikan agar PTS di Sulawesi melaporkan semua capaian yang menjadi indikator penilaian Klasterisasi dan Pemeringkatan PT tahun ini.

Klasterisasi dan Pemeringkatan PT yang dilakukan oleh Ditjen Dikti sejak tahun 2015 memang berbasis data yang dilaporkan PTS melalui Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PD DIKTI), maupun sumber data terkait lainnya seperti Simlitabmas, SINTA, SIMANIS dan lain-lain.

“Kami intensif berkomunikasi dengan PTS untuk meningkatkan kesadaran PTS dalam melaporkan data aktivitas Tri Dharmanya kepada Kementerian. Hasilnya, bisa kita lihat, mayoritas PTS di Sulawesi meningkat rangking dan skornya” tambah Prof. Jasruddin

Selain UMI dan UNIBOS, beberapa PTS di Sulawesi yang naik peringkatnya adalah Universitas Fajar yang pada tahun 2019 berada di peringkat 320, tahun ini berhasil naik peringkat 205. Begitu juga halnya dengan Universitas Muhammadiyah Parepare yang naik dari peringkat 332 menjadi 151. STIE Nobel juga menjadi salah satu PTS dengan peningkatan peringkat yang signifikan karena berhasil naik dari 307 menjadi 145 secara nasional. Bahkan STIKES Mega Buana Palopo dan Universitas Al-Asyariah Mandar yang tahun lalu peringkatnya berada di atas 700 tahun ini bisa meraih peringkat masing-masing 275 dan 292.

Menurut Prof. Jasruddin hasil positif dicapai karena selain mengintensifkan komunikasi dengan PTS, LLDIKTI Wilayah IX juga mendorong kolaborasi dan sinergi antara PTS, dimana PTS yang tahun lalu mendapatkan skor yang baik pada beberapa indikator membagikan pengalaman dan best-practicenya kepada PTS lain agar dapat direplikasi.

Sekretaris LLDIKTI Wilayah IX, Drs. Andi Lukman, MSi, menambahkan, untuk perguruan tinggi baru hasil penggabungan seperti Universitas Muhammadiyah Bulukumba, Universitas Bina Mandiri Gorontalo dan Universitas Trinita Manado, serta perguruan tinggi yang melakukan perubahan bentuk seperti STIM Nitro yang berubah menjadi Institut Bisnis dan Keuangan (IBK) Nitro, memang skor dan peringkatnya belum optimal dan tidak menggambarkan kondisi real karena datanya belum migrasi sepenuhnya dari PTS lama.

“STIM Nitro tahun lalu berhasil masuk Top 300 PT di Indonesia, dan berada di peringkat 10 di Sulawesi, namun karena berubah bentuk menjadi IBK Nitro, maka skor dan peringkatnya tahun ini mengalami penyesuaian karena datanya belum sepenuhnya direcover dari STIM Nitro. Oleh karena itu untuk PTS perubahan seperti IBK Nitro tidak bisa dinilai kinerjanya dengan melihat hasil data tahun ini, kita harus tunggu data tahun depan”, ujar Andi Lukman.

Klasterisasi dan Pemeringkatan PT setiap tahun dilakukan Kemendikbud untuk memberikan informasi kepada masyarakat terkait kinerja perguruan tinggi di Indonesia. Selain itu, data klasterisasi dan pemeringkatan ini juga menjadi dasar bagi Kementerian dalam menyusun program dan kebijakan yang relevan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan perguruan tinggi di Indonesia.

Andi Lukman mengatakan, ada dua puluh dua indikator dalam klasterisasi dan pemeringkatan ini, termasuk di dalamnya kinerja penelitian, kinerja kemahasiswaan, kinerja pengabdian pada masyarakat, akreditasi, kerjasama hingga jumlah paten, sitasi, dan artikel ilmiah terindeks per dosen.

Tahun ini, kata Andi Lukman, beberapa indikator baru terkait kebijakan Merdeka Belajar – Kampus Merdeka (MBKM) juga ditambahkan, seperti jumlah prodi dan mahasiswa yang mengikuti program Merdeka Belajar, serta jumlah dosen yang bekerja sebagai praktisi di industri selama minimal 6 bulan dalam 5 tahun terakhir. (rl)

Ridwan Laki

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

shares