BAGAIMANA “NIKMAT” MERDEKA ITU BUNDA PERTIWI

BAGAIMANA “NIKMAT” MERDEKA ITU BUNDA PERTIWI

Oleh : Kasman Jaya

Dihari lahirmu bunda pertiwi, maafkan kami anakmu bernama petani ini, kalau masih juga bertanya, bagaimana “nikmat” merdeka itu, karena yang kami pahami merdeka itu adalah jembatan emas menuju kesejahteraan bagi seluruh anak negerimu, tanpa kecuali, termasuk kami anakmu bernama petani. Namun di usiamu yang ke 76, lara dan derita, masih juga terus menderah. Di taman nirwana bunda pertiwi, mata air kehidupan mudah berubah menjadi air mata bagi kami. Para pemimpin datang silih berganti, namun kami tak juga berajak dari derita dan nestapa. Mereka tak hirau dengan nasib kami yang dililit dengan berbagai keterbatasan dan kendala, mulai soal mahalnya bibit, beredarnya pupuk palsu, pestisida yang mahal dan tidak aman, keterbatasan modal dan hingga minimnya teknologi. Bahwa ada dari kami yang berhasil, lalu diklaim itu peran mereka yang punya kuasa, tentu tak sanggup kami anakmu petani melawannya.
Bunda pertiwi, kami anakmu bernama petani memang selalu dibanggakan, dipuja diruang-ruang publik sebagai pelaku utama produk-produk pertanian di negerimu yang dikenal sebagai negeri agraris, namun posisi kami tetap saja marginal dan memprihatinkan, hanya sebagai obyek dari segala program pertanian di negerimu. Kami tak berdaya bunda, organ hidup kamipun dirancang secara nasional oleh anakmu yang berkuasa dengan hanya melibatkan segala jajaran dan petugasnya serta didukung oleh mitra kerja mereka termasuk dunia usaha dan dunia pendidikan tinggi.
Pola pemberdayaan “kebanyakan” masih satu arah, tidak partisipatoris, inisiatif dan pelaksananya dari mereka yang kuasa, bukan kami. Penerapan juga dilakukan secara luas dan seragam, berlabel program secara nasional yang bertumpu pada teknologi pertanian konvensional membuat kami semakin tidak berdaya, tidak mandiri dan bahkan tidak percaya diri. Kami, jadinya sangat tergantung pada uluran tangan pihak-pihak lain terutama oleh penguasa, para pengusaha dan peneliti. Dengan ketergantungan tersebut berbagai potensi, aktivitas, kreatifitas dan kearifan kami menjadi tersumbat dan tidak dapat berkontrubsi secara aktif lagi bagi pembangunan pertanian negerimu. Dan itu membuat kami tak pernah lepas dari masalah dan berbagai tekanan hidup menyertai usaha pertanian yang kami lakukan.

Keterbatasan pengetahuan dan teknologi membuat kami juga mudah diintervensi, termasuk dalam mengelolah lahan sendiri. Kemerdekaan yang selalu dipekikkan dalam banyak kesempatan, dan terlebih dihari jadimu, terasa tak begitu dalam maknanya, karena besarnya kendala eksternal seperti akses pasar, penetapan harga, perubahan iklim dan lain-lainnya yang memaksa kami tak juga memiliki kemerdekaan dalam menentukan komoditas yang ditanam, yang sesuai dengan keberadaan dan potensi lahan yang dimiliki.
Di negerimu yang kaya sumber daya alam ini, kami memiliki “bergaining position” yang begitu lemah dalam program pembangunan pertanian yang dirancang dan dilaksanakan oleh penguasa yang didukung oleh pengusaha dan peneliti. Bagi yang kuasa, sampai saat ini, kami masih dianggap sebagai obyek berbagai program dan proyek pembangunan pertanian. Dan bagi para pengusaha, kami hanya dianggap sebagai pasar potensial banyak jenis produk-produk industri mereka seperti benih, pupuk, pestisida dan alat mesin pertanian. Kami dibuat begitu tergantung dengan produk yang mereka tawarkan. Dalam benak mereka hanya profit oriented, bukan mensejahterahkan. Hanya untung dan untung. Mereka tak peduli akan beban dan dampak yang kami pikul. Bahwa tuduhan kepada kami sebagai penyebab terjadinya pencemaran lingkungan, karena penggunaan pupuk dan pestisida yang berlebihan, itu juga tak dapat kami lawan.
Dan yang memprihatinkan, “banyak” peneliti dari insan akademis, kami hanya dianggap sebagai obyek kegiatan penelitian an sich, -pembiayaan dari lembaga negeri atau swasta- lalu mereka seminarkan, mendapat tepuk tangan dan koin, namun hasilnya miskin implementasi. Produk penelitian “sering” tidak relevan dengan masalah yang kami alami dan meninggalkan kami tetap menderita.

Bunda pertiwi, bila kami anakmu petani tetap marginal dan tak berdaya, itu karena begitu kuatnya kepentingan mereka (target penguasa, untung bagi pengusaha dan pragmatisme peneliti) mencengkeram kehidupan kami. Kami sudah pekikkan kemerdekaan itu juga bunda, namun buta tuli karena tikaman pragmatisme kehidupan mereka, membuat kami bertanya, bagaimana “nikmatnya” merdeka itu bunda?. Padahal menyangkut hajat hidup banyak anak negerimu kami bekerja, menghidupkan dan memberi makan mereka yang setiap tahunnya bertambah seiring dengan laju peningkatan populasi pendudukmu yang masih bertumbuh secara eksponensial.
Bunda pertiwi, kedepannya kami tetap berharap bisa menikmati kemerdekaan itu, dan tidak sekedar menjadi obyek, namun harus sebagai subyek atau pelaku utama pertanian itu dengan posisi sejajar sebagai mitra kerja mereka yang kuasa. Merdeka!!!

Penulis : Dosen Universitas Alkhairaat

Wartakiat

Leave a Reply

Your email address will not be published.