Abuya Al Habib Abu Bakar bin Hasan Al Attas Az Zabidi, Ini Sosok Guru yang Diteladani

Abuya Al Habib Abu Bakar bin Hasan Al Attas Az Zabidi, Ini Sosok Guru yang Diteladani

Palu-Wartakiat| Ulama Kharismatik, Abuya Al Habib Abu Bakar bin Hasan Al Attas Az Zabidi, saat mengisi pengajian yang dilangsungkan secara hybrid luring dan daring, Senin, (8/8), memberikan ijazah seperti yang diterimanya dari ulama zabidi. Sebelum melakukan pengajian kitab Al Manhaj As Sawi Syarh Ushul Thariqah Al Saadah Al Ba’alawi, yang dimulai pukul, 20.00 – 21.00 WIB itu, Abuya menjelaskan perihal  ijazah otu untuk dibaca dan diamalkan, “hasbunnallaa wani’mal wakil ni’malmaulaa wa’nimannasir” sebanyak 80 kali di baca setelah waktu ashar tanggal 10 Muharram. Bacaan ini, kata Abuya, dibaca oleh para pengikut Imam Husein waktu berjalan dari Thaif sampai ke Karbala.

“Mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang di katakan oleh nabi, ya Allah, cintailah orang orang yang mencintai Husien. Doa nabi tidak pernah di tolak, mudah mudahan kita termasuk orang orang yang mencintai Nabi, mencintai keluarga nabi, mencintai ulama. Sebaiknya kita selalu husnuzon kepada orang lain, jangan berburuk sangka kepada orang lain. Walaupun bacaan kita dihadapan Allah dan Rosul seperti setetes air hujan atau air lautan, tapi yang penting ada”jelas Abuya.

Pada bagian lain Abuya menerangkan, ada dua orang yang nama dan kabilahnya sama yakni, Syech Abdurrahman Assulami meninggal tahun 400, mengarang tabagatussufi, banyak mengarang kitab tasawuf dan Syech Abdurrahman Assalami Al Awwal, seorang tabiin yaitu murid mutlak dari Amiril Mukminin Ali ibni Abu Thalib di bidang Qiroatul Qur’an.

“Sehingga apabila kita membaca Alquran, semua muslimin di dunia ini dalam membaca Alquran baik dalam sholat maupun tidak, sanad nya adalah kepada Syaidina Ali bin Abi Thalib yang sanad nya langsung dari Rosulullah SAW dan Rosulullah SAW dari malaikat Jibril dan malaikat Jibril dari Allah Subhana wataala,”jelasnya

Abuya menegaskan, agar tidak takut menyebut nama Imam Ali bin Abi Thalib, beliau adalah menantu Rasulullah, beliau ketemu Jibril, perbuatannya sudah sangat banyak dalam membela Rosulullah, kenapa kita harus takut menyebut imam Ali? takut di bilang Syiah. Kalau kita takut menyebut beliau, maka hilang sanad membaca Alquran, menjadi haram ilmu Qiroatul Qur’an , karena takut menyebut imam Ali.

“Belajarlah dalam adab menuntut ilmu, karena kamu punya nama akan dihilangkan sebagai murid jika melawan gurunya atau menyatakan ahh kepada gurunya, maka putus sanad ilmunya,”tegas Abuya.

Abuya juga menyebutkan, bahwa ilmu nahwu, bersumber dari Ali bin Abi Thalib, kalau tidak ada ilmu nahwu, kata Abuya maka tidak bisa baca kitab.

Abuya juga mengutip pernyataan Sayyidina Umar bin Khattab, yang menyatakan kalau tidak ada Abal Hasan, maksudnya, Ali bin Abi Thalib, maka habislah aku. Kata Abuya mengutip pernyataan Sayyidina Umar.

“Saya tidak takut menyebut Imam Ali, karena saya takut ilmu saya menjadi haram, silsilah saya haram /terputus, jadi harus berani menyebut Imam Ali, karena ilmu Qiro’atul Qur’an ini dipakai dalam sholat, dipakai menghadap Tuhan.Yang kita bicarakan adalah ilmu sanad, bukan tentang fanatik,”kata Abuya.

Abdurrahman Assalami, mengatakan, ilmu itu harus disampaikan oleh seorang guru kepada muridnya yang mampu mengenalkan Allah, lalu timbul cinta kepada Allah, selanjutnya timbullah rasa takut kepada Allah, karena takut kehilangan hubungan kita dengan Allah. Inilah makna dari Hasyyah.

Seorang sufi mengatakan, aku tidak takut tidak diterima doaku tapi yang aku takutkan jika Allah katakan bahwa aku tidak perlu berdoa lagi.

“Bisa saja saat ini doa kita belum dikabulkan, tapi dikabulkan nanti. Tapi kalau tidak berdoa lagi, tidak merasa perlu berdoa, berarti kita bukan muslim, kita tidak perlu lagi dengan Allah, hilang sudah hubungan kita dengan Allah,”tandas Abuya.

Lebih lanjut Abuya mengatakan, Imam Ali Zainal Abidin bin Husien bin Ali setiap akan berwudhu, mukanya pucat, ketakutan, karena akan menghadap Allah, raja diraja, kata Imam Ali Zainal Abidin dirinya sangat kecil, lebih kecil dari butiran pasir, bagaimana aku tidak takut, inilah yang disebut hasyyah.

Abuya menceritakan, sufi adalah seorang yang makrifat kepada Allah, setiap detik, setiap waktu, setiap hari, semakin memiliki rasa takut kepada Allah, mengapa demikian, karena setiap hari setiap detik semakin dekat , semakin dekat kepada kematian, yang ditakuti adalah kematianku tidak di ridhoi oleh Allah, artinya tidak mendapatkan husnul khatimah.

Abuya melanjutkan, Syaidatu Nafisah Al Anwar, seorang yang sangat besar, sangat banyak karyanya, diantara munajatnya adalah, gembirakanlah aku wahai Tuhan, dengan keridhoanMu, harapanku hanyalah keridhoanMu.

“Seorang yang takut kepada Allah, memiliki ma’rifat kepada Allah, memiliki sifat hasyyah, sakit dibadan sangatlah kecil bagi orang yang hasyyah kepada Allah, tapi sakitnya dosa yang sangat penuh didalam hatilah yang tidak mendapatkan ridho Allah,”kata Abuya.

Pada kesempatan itu, Abuya mengisahkan, Ubaidillah bin Zubair bin Awwam, karena sakit, kakinya terpaksa harus dipotong, saat itu, tidak ada obat bius, Ubaidillah lalu meminta waktu untuk berwudhu dan sholat dua rakaat, lalu melafazkan kalimat laa Ilaha illallah, terus menerus semakin keras beliau menyebut asma Allah itu sehingga ia tidak merasakan sakit sama sekali saat kakinya dipotong, hingga ia ketiduran.Kenapa itu bisa terjadi, karena beliau memiliki sifat hasyyah.

Abuya meminta, untuk mencari guru yang mengenalkan hasyyah kepada Allah.
Selanjutnya carilah guru yang mengajarkan sifat tawadhu, ilmu tasawuf, karena ilmu ini mengajarkan rasa takut kepada Allah, jauh dari sifat kikir, sombong, riya, takabbur, ingin dipuji, bakhil. Abuya mengingatkan, orang yang memiliki sifat kikir, musuhnya adalah Allah, orang tersebut kata Abuya dipersamakan dengan Namrud dan Firaun, karena musuhnya Allah, dipastikan tidak akan selamat.

Tasawuf juga kata Abuya, mengajarkan sifat tawadhu, mampu menekan kebencian, emosi, tidak menghianati orang. Kelebihan orang yang memiliki sifat ini kata Abuya, Allah menjanjikan akan diangkat derajatnya, walaupun difitnah, tetap tidak bisa ditutup derajat kemuliannya.

Menurut Abuya, orang yang memiliki sifat tawadhu tidak bisa dijatuhkan, sekalipun difitnah, kecuali dibunuh. Abuya mencontohkan, Sayyidina Usman bin Affan, Sayyidina Umar bin Khattab, Sayyidina Ali bin Abi Thalib, Sayyidina Hasan bin Ali, Sayyidina Husien bin Ali, Abu Hanifah, Akhmad bin Hambal dan Imam Syafi’i, yang terkena wasir akibat pukulan, cambuk yang didapat dari mahkamah, karena difitnah.

Lebih lanjut Abuya menceritakan, Imam Ali, dibunuh saat sedang sholat oleh Abdurrahman bin Muljam dengan satu pukulan, kemudian menancapkan sebuah pisau dikepalanya. Oleh sayyidatul Zainab dicabut pisaunya dan ditunjukkan kepada ayahnya. Imam Ali mengatakan, ini adalah pisau Abdurrahman bin Muljam.

Imam Ali berkata kepada anak dan murid-muridnya, kalau dia tertangkap, aku ingin bertemu dengan orang yang telah melukai aku, akan disampaikan padanya bahwa aku memaafkannya bila aku panjang umur, tapi bila aku pendek umur, maka hukum Allahlah yang berlaku.

Pesan Imam Ali kepada putra putrinya dan pencintanya, jangan menghukum keluarga anak istrinya, kerana mereka tidak bersalah, yang bersalah adalah dia. Jangan mengikatnya terlalu keras, karena dia juga memiliki kebutuhan untuk bergerak, ingin berwudhu, ingin sholat, ingin berhadats. Bereskan tempat tidurnya, rapikan ruangan nya, berikanmakanan dan minuman yang sempurna karena dia sama kebutuhannya dengan aku.

Bahkan tak kala, Zainab binti Ali membawakan minuman susu kepada ayahnya itu, setelah diminum seteguk oleh Amirul Mukminin, ia meminta puterinya memberikan kepada Abbdurrahn bin Muljam padahal jarak antara waktu beliau ditikam sampai beliau memberi susu tidak lebih dari 24 jam. Inilah guru yang memiliki sifat Assafaqah.

Abuya juga menyarankan untuk mencari sosok guru yang memiliki sifat Assafaqah, yaitu guru yang mengajarkan kasih sayang kepada muridnya. Memberi rahmat kepada kawan dan lawan sebagaimana yang dimiliki olah Sayyidina Ali bin Abi Thalib yang diperoleh langsung dari baginda nabi Muhammad SAW.

Sifat safaqah ini juga yang dipraktekkan olehNabi Muhammad SAW, mahaguru yang mengajarkan sifat kasih sayang, saat penaklukkan Mekkah, tidak ada yang membunuh Suhail bin Amr, tidak ada yang membunuh Hakam bin Hisyam bin Huwailid,
siapa yang masuk ke Masjidil Haram maka selamat, siapa yang masuk ke rumah Abu Sofyan, maka aman, padahal Abu Sofyan saat itu dalam posisi lemah, sudah 23 tahun memfinah nabi, habis hartanya hanya untuk berusaha mencelakan nabi. Tapi oleh nabi, siapa yang masuk kerumah Abu Sofyan, maka dia selamat. Padahal para sahabat banyak yang ingin membunuhnya.

Abu Sofyan mengatakan, kau adalah musuh manusia yang paling aku benci, tapi pada hari ini engkau yaa Muhammad, adalah manusia yang paling aku cintai.

Rasulullah adalah maha guru dalam mengajarkan kasih sayang, maka siapa yang memiliki sifat kasih sayang, berarti adalah pengikut Nabi Muhammad SAW.

Laporan: Habib Musthafa bin Saggaf Aljufri

Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published.