MELAJU UNTUK MAJU (Refleksi HUT RI ke-78)

MELAJU UNTUK MAJU  (Refleksi HUT RI ke-78)

Oleh:  Dr. Ahmadan B. Lamuri,S.Ag.,M.HI*

PERINGATAN kemerdekaan Indonesia yang jatuh pada hari Kamis telah berusia 78 tahun. Kegembiraan telah menyelimuti alam nusantara dari Sabang sampai Merauke; dari dusunan sampai ibu kota negara; dari anak-anak sampai orang tua, dan seterusnya. Semua jenis kegiatan tujuannya adalah sebagai apresiasi atas kemerdekaan itu. Setiap peringatan pemerintah menetapkan tema utama yang selalu berbeda-beda yang nampak mengikuti dinamika sosial bangsa yang sedang terjadi. Tema tahun ini adalah “Terus Melaju untuk Indonesia Maju”. Tulisan ini hanya mengambil dua kata penting yakni “melaju dan maju”. Bagaimana makna kata-kata tersebut dalam konteks kekinian?

Kita telah sepakat bahwa kemerdekaan yang dicapai tidaklah datang atau diterima begitu saja, tetapi diperjuangkan dengan jerih payah. Mengapa diperjuangkan? Sebab penjajahan, penindasan, kezaliman, keterbelakangan dan pembodohan selama ratusan tahun di wilayah nusantara ini dilakoni oleh kolonial tidak sepantasnya terus dibiarkan. Karena itu segala jenis penjajahan harus diperangi, disingkirkan, dan bahkan di bumi hanguskan; dan tepat pada tanggal 17 Agustus 1945 kemerdekaan itu diperolah. Jadi kemerdekaan Indonesia bukanlah hadiah dari para kolonial, tetapi diperoleh dan diraih dengan tetesan keringat, air mata, darah, dan bahkan jiwa. Jiwa raga para pejuang dan pendahulu bangsa ini telah dikorbankan untuk hajat besar yakni “meraih kemerdekaan.”

Sebagai upaya mengisi kemerdekaan dan sekaligus mengenang kisah nyata masa lalu (melawan penjajah) oleh para pejuang; maka sepantasnya seluruh rakyat Indonesia untuk terus menanamkan nilai-nilai kemerdekaan dan cara mengisinya. Merujuk pada tema peringatan yang dirangkai dalam judul tulisan ini, mari kita gelorakan:

Kemerdekaan Bukanlah Akhir dari Proses Perjuangan

Perjuangan merebut kemerdekaan merupakan bagian terpenting yang selalu menjadi keinginan bagi setiap orang, kelompok, dan bangsa. Segala kekuatan yang dimiliki biasanya dikerahkan guna mencapainya. Bahkan jiwa raga siap dikorbankan demi pencapaian kemerdekaan itu. Lantas ketika telah merdeka apakah perjuangan telah berakhir? Jawabnya “belum dan tidak akan pernah berakhir”. Justru perjuangan semakin menantang. Proses mengisi itulah perjuangan yang sangat berat. Memprogram, mendesain, menata, mengelola segala yang ada dalam negara untuk menjadi konsumsi terbaik yang dinikmati oleh seluruh rakyatnya, tidak lah lebih mudah dari mengusir kaum kolonial. Bagi Indonesia tujuan utama setelah kemerdekaan itu adalah “mencapai masyarakat adil dan makmur”. Tujuan ini telah tertanam jauh sebelum kemerdekaan. Yang mendorong adanya perlawanan menghadapi penjajah adalah untuk bisa hidup lebih baik dan sejahtera. Hajatan besar itu terungkap setelah kemerdekaan itu diraih. Namun apakah tujuan utama itu telah tercapai? Hidup berkeadilan dan berkemakmuran masih belum tergambarkan. Bahkan perilaku, keputusan, kebijakan yang diterapkan lebih mengembalikan pada “sistem penjajahan terstruktur dan terkendali oleh kekuasaan”. Oleh sebab itu, perjuangan setelah kemerdekaan jauh lebih berat dibandingkan ketika melawan dan mengusir kaum penjajah. Ayo bersama melawan segala jenis dan bentuk penjajahan untuk terus mengisi kemerdekaan.

Kemerdekaan Sebagai Momentum Mempersatukan Rakyat

Kemerdekaan menjadi ruh bagi pembangunan kesatuan dan persatuan masyarakat dan rakyat. Sebab pencapaian kemerdekaan itu karena dilatarbelakangi oleh bangkitnya Budi Utomo sampai puncaknya adanya pernyataan sikap secara kolektif yang disebut dengan “Sumpah Pemuda”. Ternyata para pejuang dan para pendahulu kita sadar tanpa persatuan seluruh elemen bangsa di seluruh wilayah kepulauan nusantara ini untuk mengusir penjajah tidak akan pernah berhasil. Propaganda kaum penjajah kepada penghuni kepulauan nusantara ini menjadi santapan empuk yang mengakibatkan perang antar sesama anak nusantara terjadi di mana-mana, sementara penjajah memanfaatkan untuk terus menguras kekayaan alam nusantara. Maka dengan tekad yang satu, keiinginan dan tujuan yang sama, melalui persatuan kemerdekaan dapat diraih. Oleh sebab itu, hanya dengan komitmen membangun kesatuan dan persatuan seluruh elemen bangsa, kemerdekaan yang telah diraih dapat diisi dengan kejayaan bangsa dan negara.

Dengan demikian kemerdekaan telah menitipkan pesan dan amanah bahwa mengisi dan mencapai tujuannya “masyarakat adil dan makmur” serta kemakmuran yang berkeadilan dan beradab; apabila komitmen untuk terus berjuang mengisinya serta menanamkan nilai-nilai persatuan antar seluruh masyarakat akan terwujud. Kenyataan yang disaksikan saat ini sungguh memilukan; sebab di sana sini pertikaian, permusuhan, intimidasi antar sesama anak bangsa masih saja menjadi konsumsi yang sangat terbuka, bahkan pendatang yang mencari hidup di bangsa besar ini tidak segan-segan melakukan perlawanan terhadap pemilik bangsa ini, anehnya justru kadang dibela oleh yang merasa berwenang. Ketika kondisi dan sikap ini menyelimuti kehidupan anak bangsa pertanda “kita masih berada dalam penjajahan dibalik kemerdekaan yang telah diperolehnya”. Karakter dan gaya hidup kolonial masih tertanam bagus dalam gaya hidup kita.

Agar bangsa ini semakin maju mencapai tujuannya; maka hal yang perlu diimplementasikan adalah:

Melaju dan Maju

Kemerdekaan menuntut kepada pemiliknya untuk terus merenung dan bergerak bersama menuju masa depan yang lebih cemerlang. Perenungan atas segala usaha dan jerihpayah oleh para pendahulu, pejuang dalam merebut kemerdekaan. Berapa banyak materi dan non materi yang telah dikorbankan serta menjadi korban akibat kerja tersebut. Renungan itu mendorong lahirnya sikap sadar dan inspiratif guna hasil perjuangan itu tidak boleh disia-siakan begitu saja. Seluruh masyarakat dan rakyat sebagai mesin penggerak kemajuan bangsa harus semakin ditingkatkan kualitas kinerjanya agar energi yang dikeluarkan semakin kuat dan akibatnya daya dorong menuju kemajuan pun semakin cepat dan melaju.

Selain terus melakukan renungan, setiap warga negara harus menanamkan motivasi kalau kemerdekaan itu bukanlah akhir dari sebuah perjuangan. Harus melaju sebab yang dihadapi setelah kemerdekaan bukan lagi penjajah dari bangsa lain; melainkan usaha mengisinya untuk masa depan bangsa serta seluruh rakyanya merupakan program berkelanjutan. Apabila ini tidak disikapi, ditanggapi dengan cepat atau melaju, maka kemerdekaan yang ada hanya sebuah kisah masa lalu yang berlalu begitu saja tanpa memiliki efek kemajuan yang dapat dibanggakan oleh generasi masa depan. Perjuangan menghadapi ragam kepentingan dari seluruh rakyat adalah termasuk tantangan yang membutuhkan kecerdasan intelektual, emosional, sikap, spiritual; agar tidak melahirkan permusuhan atau perpecahan antar sesama anak bangsa.

Realita hari ini dapat menjadi catatan bersama dengan ±275 juta jiwa (2022) tidaklah mudah untuk diurus dan dimerdekakan, akan tetapi telah memunculkan ragam polemik yang bisa memicu instabilitas sosial. Bukankah ini lebih berat dari pada melawan penjajah dari bangsa lain? Kalau dalam kajian Islam, perang Badar adalah perang paling akbar, tetapi nabi Muhammad saw katakan itu bukanlah perang yang besar, sebab perang paling besar dan berat dihadapi adalah “perang melawan hawa nafsu”. Ini dimiliki oleh setiap orang dan tidak akan ada yang bisa mengendalikan serta mengalahkannya kecuali yang bersangkutan sendiri. Pertahanan terbaik yang perlu disiapkan adalah pendidikan diperbaiki, kesejahteraan ditingkatkan, keamanan dijamin, keadilan ditegakkan.

Apabila perjuangan membangun bangsa terus bergelora dan membahana kepada seluruh masyarakat Indonesia (amal shalih), tafakkur dan tadabbur terhadap peristiwa sejarah masa lalu dan menikmati sumber daya alam sesuai dengan peruntukkannya, seluruh kebijakan penguasa diarahkan bagi keamanan negara, serta menempatkan kepentingan bangsa diatas segala kepentingan pribadi (individu) dan kelompok, sumber daya manusia ditempatkan dan dimanfaatkan sesuai dengan martabat dan kedudukannya, sumber daya alam dikelola mengikuti amanah konstitusi “untuk kesejahteraan seluruh masyarakat”; barulah kita bisa mengharapkan “kemajuan” menjadi kenyataan.

Perlu dicamkan bahwa 78 tahun telah merdeka: sumber daya alam berupa tambang emas, nikel, batubara, gas, kelautan, dan lainnya belum sepenuhnya dinikmati oleh seluruh masyarakat Indonesia. Indonesia kaya dengan semuanya tapi masyarakatnya melarat dalam kebutuhannya. Kaya dengan semuanya tetapi pemerintah masih terus menambah jumlah hutang. Itu artinya pendapatan sumber daya alam belum dikelola dan dimanfaatkan demi untuk kemajuan bangsa dan negara. Merdeka yang terkekang.

Penulis adalah Dosen Tetap Yayasan Universitas Alkhairaat Palu

Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *