Pakar Ilmu Falak Ini Sebut Hari Lahir Alkhairaat 11 Juni 1930

Pakar Ilmu Falak Ini Sebut Hari Lahir Alkhairaat 11 Juni 1930

Palu-WartakiatΙ Pakar ilmu falak pengadilan tinggi agama Palu,  Drs. Abd Kadir, MH menyebutkan tanggal lahirnya Alkhairaat, organisasi Islam terbesar di kawasan Timur Indonesia itu,  lahir pada hari Rabu tanggal 11 Juni 1930 Miladiyah atau bertepatan pada tanggal 14 Muharram 1349 Hijriyah.

‘Tanggal 10 Juni, seperti yang disampaikan oleh ustadz Sofyan Lahilote  tadi itu berdasarkan perhitungan jenis ‘urfi,  namun jika mengacu pada perhitungan mu’assirah yang memiliki akurasi tinggi, maka tanggal miladiyah yang tepat adalah 11 Juni 1930,” ungkap Abd Kadir saat FGD Milad Alkhairaat  melalui meeting zoom, Sabtu, (11/5).

Tidak hanya menjelaskan dari segi perhitungan, Abd Qadir juga menjelaskan dari sisi sejarah dipilihnya tanggal 14 Muharram sebagai hari lahir Alkhairaat dan sebab tertulisnya tanggal 30 Juni pada dokumen AD/ART berdasarkan hasil wawancaranya dengan  K.H Rustam Arsyad saat masih hidup.

Pengurus Pusat Ikatan Alumni Abna Alkhairaat (PP IKAAL), sebagai salah satu Badan Otonom (BANOM), Alkhairaat ditugaskan oleh Ketua Utama Alkhairaat melaksanakan kegiatan Focus Group Discussion (FGD) dengan tema “Milad Alkhairaat dan Pilihan Penggunaan Hijriyah atau Miladiyah dalam Sistem Kalender Alkhairaat” yang dilaksanakan secara daring via zoom meeting.

Tema ini diangkat, kata Ketua PP IKAAL Dr Abd. Gafar Mallo, sebagai respon  dan permintaan masyarakat yang menemukan adanya perbedaan hari lahir Alkhairaat pada penulisan tanggal miladiyah pada buku sejarah Alkhairaat yang diterbitkan oleh yayasan dan kitab Kaukab ad-durrii yang disusun oleh Alhabib Saggaf bin Muhammad Aljufri.

FGD ini dibuka secara resmi oleh Ketua Umum PB Alkhairaat, Dr. Mochsen Al Idrus, MM. dalam sambutannya, Pengurus Besar Alkhairaat sangat mengapresiasi PP- IKAAL yang sudah menginisiasi kegiatan ini dan merespon kegelisahan para Abna Alkhairaat khususnya pada penanggalan miladiyah yang mana telah terjadi perbedaan, dan ini sudah lama menjadi pembicaraan, sehingga perlu solusi yang dapat dipertanggung jawabkan.

“Kami sangat bangga kepada PP-IKAAL mampu bergerak cepat dan efektif untuk menemukan solusi terhadap permasalahan ini, serta mampu menghadirkan para tokoh penting Alkhairaat sebagai pemateri dalam FGD ini, suatu kehormatan besar bagi kami bahwa murid guru tua menyempatkan waktu memberikan konstribusi pemikiran untuk hadir dalam diskusi ini, bahkan mengikutinya sampai selesai,” kata Ketua Umum PB Alkhairaat dengan suara bergetar menahan haru.

Sesuai rencana sebelumnya, FGD ini akan menghadirkan 13 pembicara yang dibagi dalam tiga sesi. Namun beberapa diantaranya berhalangan hadir.  Prof. Dr. H. Abdul Wahab abd Muhaimin, MA menjadi pembicara pembuka, menyampaikan bahwa seluruh kehidupannya tidak pernah lepas dari Alkhairaat, walaupun dengan kesibukan di Jakarta, jika menerima perintah Ketua Utama,  dirinya bersama almarhumah istri tercinta Prof Huzaemah T. Yanggo, selalu siap mengurusnya sampai tuntas, terkait tanggal berdirinya Alkhairaat ia mengacu pada buku yang disusunnya bersama tim yang kemudian diterbitkan oleh Yayasan SIS Aljufri.

“Pada buku Sayyid Idrus bin Salim Aljufri Pendiri Alkhairaat dan Kontribusinya dalam Pembinaan Umat, juga dimasukan tanggal berdirinya madrasah Alkhairaat, 14 Muharam 1349 H atau 30 Juni 1930 M, tanggal ini mengacu pada dokumen AD/ART dan ketika penulisan buku ini selesai, terlebih dahulu diperiksa oleh Ketua Utama dan Pengurus Besar saat itu,’ ujar Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang juga murid dari Guru Tua itu.

“Tidak masalah jika diubah tanggal miladiyahnya karena  berdasarkan riset ilmu falak dan data yang mendukung,” tambahnya

Berbeda dengan pemateri pertama, K.H. Drs Sofyan A Lahilote, SH yang juga murid guru tua menyampaikan bahwa usulan terhadap perubahan tanggal miladiyah itu sudah ia sampaikan sejak tahun 1986.

“Sejak mengikuti pendidikan hakim tahun 1986 saya sudah menyampaikan, tanggal 14 muharam 1349 jika dikonversi ke miladiyah akan bertepatan dengan tanggal 10 Juni 1930, jadi penggunaan tanggal 30 itu sangat keliru, lebih baik acuan utamanya untuk milad Alkhairaat adalah tanggal hijriyah saja, jika harus menggunakan tanggal masehi maka tanyakan kepada pakar yang mampu menghitung konversi tanggal,” Hematnya.

Diskusi semakin menarik,  ketika Drs. Abd Kadir, MH, selaku pakar ilmu falak pengadilan tinggi agama menjelaskan secara sistematis perhitungan kontemporer perubahan tanggal hijriyah kemiladiyah, bahwa 14 muharram 1439 itu bertepatan dengan hari Rabu 11 juni 1930 miladiyah.

Materi terakhir disampaikan oleh Dr. Abd Gani Jumat, M.Ag, penulis buku Nasionalisme Guru Tua itu, menjelaskan dari sisi potret Guru Tua dan Alkhairaat ditilik dari teori fungsional malinowski yang menjelaskan tokoh sejarah harus melihat peran sosio-historis-antropologis dan pergulatan pemikiran kebangsaan, ketika dia melakukan aktivitas dan tindakan kebangsaan melalui pesantren Alkhairaat.

“Eksistensi Alkhairaat sebagai organisasi keagamaan bergerak tiga gerakan,  yakni, gerakan pendidikan, gerakan dakwah, dan gerakan sosial,” ujar Gani Jumat.

“Maka tidak heran, sejak tahun 1930 sampai tahun  2024 Alkhairaat telah memberikan pengaruh pada aspek spiritual, menjadi sumber inspirasi masyarakat yang religius, sistem berpikir dan perilaku keagamaan moderat, sistem sosial dan perilaku masyarak khususnya masyarakat kaili,” Jelas alumni UNISA Palu ini.

Ketua PP IKAAL, Dr. H. Abd Gaffar Mallo, mengatakan, hasil dan kesepakatan yang diperoleh dari FGD ini akan dilaporkan kepada Ketua Utama Alkhairaat serta menjadi bahan pertimbangan untuk ditetapkan bersama.

FGD ini ditutup secara resmi oleh Sekjen PB Alkhairaat Drs. Jamaluddin A Mariajang, M.Si, Sekjend PB Alkhairaat ini meminta PP  IKAAL membawa hasil diskusi ini untuk ditetapkan bersama untuk menjadi dokumen penting Alkhairaat.

Laporan: Syarief Hidayatullah

Editor:Ridwan Laki

 

Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *