STUNTING DIMULAI JAUH SEBELUM ANAK TERLIHAT PENDEK
Oleh: dr. Andi Handriyati, M.Kes., Sp.A*
“Dok, anak saya aktif. Makannya juga lumayan. Tapi kenapa setelah diukur katanya stunting?”
Pertanyaan seperti ini cukup sering saya dengar dari orang tua. Tidak sedikit yang mengira stunting baru menjadi masalah ketika anak tampak kurus, sering sakit, atau terlihat jauh lebih pendek dibandingkan teman seusianya.
Padahal, ketika seorang anak akhirnya terlihat pendek, proses gangguan pertumbuhannya bisa saja sudah berlangsung jauh sebelumnya, bahkan sejak masih berada dalam kandungan.
Stunting Bukan Sekadar “Kelihatan Pendek”
Secara medis, stunting pada anak balita ditentukan dari panjang atau tinggi badan menurut umur yang berada lebih dari dua standar deviasi di bawah median Standar Pertumbuhan Anak WHO. Jadi, stunting ditentukan melalui pengukuran yang benar dan sesuai usia, bukan hanya karena seorang anak tampak pendek.
Perawakan pendek juga tidak selalu memiliki penyebab yang sama. Karena itu, ketika pertumbuhan anak bermasalah, yang dibutuhkan bukan sekadar sebuah label, tetapi penilaian untuk mencari penyebab dan menentukan langkah yang tepat.
Pertumbuhan anak perlu diukur, dipantau, dan dipahami, bukan ditebak.
Ceritanya Bisa Dimulai dari Dalam Kandungan
Perjalanan pertumbuhan anak sudah dimulai sejak dalam kandungan. Kesehatan dan gizi ibu selama kehamilan ikut menentukan lingkungan tempat janin bertumbuh. Kekurangan zat gizi maupun masalah kesehatan pada ibu dapat mengganggu kehamilan dan memengaruhi kondisi bayi saat lahir.
Karena itu, pencegahan masalah pertumbuhan bukan hanya urusan memberi makan balita. Menjaga kesehatan dan gizi ibu, melakukan pemeriksaan kehamilan secara teratur, menangani masalah kesehatan ibu, serta memantau pertumbuhan janin juga merupakan bagian penting.
Periode sejak awal kehamilan hingga anak berusia dua tahun dikenal sebagai 1.000 Hari Pertama Kehidupan. Pada masa ini pertumbuhan berlangsung sangat pesat, sehingga kekurangan gizi maupun penyakit berulang dapat memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak dalam jangka panjang.
Namun, ini bukan berarti setelah usia dua tahun semuanya sudah terlambat. Pesan terpentingnya adalah: jangan kehilangan kesempatan untuk mengenali dan menangani masalah pertumbuhan sedini mungkin.
Anak Kenyang Belum Tentu Tumbuh Optimal
Ada kalimat lain yang juga sering saya dengar:
“Tapi anak saya makannya banyak, Dok.”
Pertanyaan berikutnya adalah: apa yang dimakan?
Sebab, membuat anak kenyang dan memenuhi kebutuhan tubuhnya untuk tumbuh adalah dua hal yang tidak selalu sama.
Anak membutuhkan energi, protein, lemak, vitamin, dan mineral sesuai usianya. Karena itu, yang penting bukan hanya seberapa banyak anak makan, tetapi juga kualitas dan keberagaman makanannya.
WHO dan UNICEF merekomendasikan ASI eksklusif selama enam bulan pertama. Mulai sekitar usia enam bulan, makanan pendamping ASI perlu diberikan karena kebutuhan energi dan zat gizi bayi semakin meningkat. ASI tetap dapat diteruskan hingga usia dua tahun atau lebih.
Makanan pendamping perlu diberikan dalam jumlah yang sesuai, aman, beragam, dan sesuai tahap perkembangan anak. Sumber pangan hewani seperti telur, ikan, ayam, daging, atau produk susu juga merupakan bagian penting dari pola makan yang beragam dan padat zat gizi.
Tujuan kita bukan sekadar memastikan anak kenyang. Tujuan kita adalah memastikan tubuhnya mendapatkan zat gizi yang dibutuhkan untuk tumbuh optimal.
Stunting Bukan Hanya Soal Makanan
Stunting juga tidak selalu berhenti pada apa yang ada di piring anak. Gangguan pertumbuhan dapat dipengaruhi berbagai faktor yang saling berkaitan.
Kekurangan gizi yang berlangsung lama atau berulang, infeksi berulang, pola pengasuhan, pelayanan kesehatan, kebersihan, kondisi lingkungan, hingga faktor sosial dan sumber daya keluarga dapat ikut memengaruhi pertumbuhan anak.
Anak yang berulang kali mengalami diare, infeksi, atau penyakit tertentu dapat mengalami penurunan nafsu makan maupun gangguan pemanfaatan zat gizi. Sebaliknya, pola makan yang tidak memadai juga dapat membuat kondisi gizinya semakin rentan.
Karena itu, ketika pertumbuhan anak tidak berjalan sebagaimana mestinya, kita tidak cukup hanya bertanya, “Anak ini makan apa?” Kita juga perlu mencari tahu apakah anak sering sakit, bagaimana pola makannya, bagaimana kondisi lingkungannya, dan apakah terdapat masalah kesehatan yang perlu ditangani.
Stunting bukan persoalan untuk mencari siapa yang salah. Yang dibutuhkan adalah mengenali penyebab dan memperbaiki faktor yang masih dapat diperbaiki sedini mungkin.
Jangan Hanya Melihat Anak Tetangga
Ada kebiasaan yang perlu kita ubah: menilai pertumbuhan anak hanya dengan membandingkannya dengan saudara atau anak lain seusianya.
“Anaknya memang kecil, Dok. Ayahnya juga pendek.” Atau, “Tidak apa-apa, anak tetangga saya juga seukuran.”
Kalimat seperti ini mungkin terdengar menenangkan, tetapi bisa membuat gangguan pertumbuhan terlambat dikenali.
Yang lebih tepat adalah mengukur berat badan serta panjang atau tinggi badan secara berkala, kemudian menilainya menggunakan kurva pertumbuhan.
Satu kali pengukuran adalah sebuah foto. Kurva pertumbuhan adalah sebuah film.
Foto menunjukkan kondisi anak pada satu waktu. Kurva pertumbuhan membantu kita melihat perjalanannya: apakah anak terus tumbuh sebagaimana mestinya atau pertumbuhannya mulai melambat.
Karena itu, menimbang dan mengukur anak secara berkala bukan sekadar kegiatan rutin. Kita sedang membaca perjalanan pertumbuhannya.
Masalah Ini Masih Dekat dengan Kita
Indonesia memang menunjukkan kemajuan. Hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 menunjukkan prevalensi stunting nasional turun dari 21,5 persen pada tahun 2023 menjadi 19,8 persen pada tahun 2024.
Namun, angka itu mengingatkan kita bahwa pekerjaan belum selesai.
Di balik angka stunting ada anak, ada keluarga, dan ada masa depan yang sedang bertumbuh.
Jadi, Apa yang Harus Dilakukan Orang Tua?
Pesannya tidak rumit. Jaga kesehatan dan kecukupan gizi ibu sejak sebelum dan selama kehamilan serta lakukan pemeriksaan kehamilan secara teratur.
Setelah bayi lahir, dukung pemberian ASI, berikan makanan pendamping pada waktunya dengan makanan yang beragam dan padat zat gizi, jaga kebersihan, tangani penyakit dengan baik, dan pantau pertumbuhan anak secara berkala.
Jangan hanya bertanya, “Anak saya makan atau tidak?” Tanyakan juga, “Apakah berat badannya bertambah? Apakah panjang atau tinggi badannya bertambah? Bagaimana arah kurva pertumbuhannya?”
Jika pertumbuhan mulai melambat, anak sulit makan berkepanjangan, sering sakit, atau orang tua merasa khawatir terhadap tumbuh kembangnya, jangan hanya menunggu. Bawalah anak ke tenaga kesehatan untuk dinilai lebih lanjut.
Deteksi dini bukan untuk mencari kesalahan. Deteksi dini memberi kita kesempatan untuk bertindak lebih cepat.
Jangan Tunggu Anak Terlihat Pendek
Pada akhirnya, stunting bukan hanya persoalan berapa sentimeter tinggi seorang anak. Stunting mencerminkan perjalanan pertumbuhan yang perlu kita perhatikan sejak dalam kandungan hingga anak terus bertumbuh.
Karena itu, jangan menunggu sampai anak terlihat jauh lebih pendek dibandingkan teman seusianya untuk mulai peduli. Perhatikan pertumbuhannya sejak dini, berikan nutrisi yang tepat, lindungi kesehatannya, dan pantau berat serta tinggi badannya secara berkala.
Sebagai dokter anak, saya ingin mengajak para orang tua mengingat satu hal:
Kita tidak sedang sekadar mengejar beberapa sentimeter tinggi badan. Kita sedang menjaga kesempatan seorang anak untuk tumbuh seoptimal mungkin.
Penggaris dapat memberi tahu kita bagaimana tinggi seorang anak hari ini. Tetapi jangan menunggu penggaris berbicara untuk mulai menjaga pertumbuhannya.
Sebab proses yang berujung pada stunting dapat dimulai jauh sebelum anak terlihat pendek dan pencegahannya pun harus dimulai jauh sebelum itu.
Penulis adalah: Dokter spesialis anak dan dosen Fakultas Kedokteran Universitas Alkhairaat (UNISA) Palu*.
