Memilih Kampus di Era Persaingan Kerja: Jangan Hanya Cari Ijazah
Oleh: Sonny Lahati, S.Pi., M.Si.*
Dalam dunia kerja setiap dekade tahun di pastikan berbeda rekruimen tenaga kerja dan orientasi pekerjaan. Tahun 90 an bisa jadi lebih muda mencari kerja karena memang persaingan kerja rendah. Pada suatu ketika saat saya berbelanja di salah satu kota bertemu dengan mahasiswa yang sempat saya ngajar, ditempat kerjanya rautnya enjoi dengan pekerjaan akan tetapi pekerjaannya tidak sesuai dengan bidang ilmu yang dia pelajari atau prodi saat perkuliahan padahal hampir semua kampus dalam membuat konsep luaran alumninya sangat mumpuni dan anak tersebut merupakan anak yang cerdas di angkatannya, tapi saya bersyukur alumni tersebut telah bekerja sebagai proses awal masa depan setelah mereka sarjana.
Fenomena bekerja tidak sesuai dengan bidang ilmu seperti itu merupakan hal lumrah dalam dunia kerja, ketika kita berselancar dalam dunia media sosial cukup banyak curhatan dari para pekerja dan pencari kerja. Artinya sebagai sebagai dosen kita tidak bisa hanya hidup dalam zona nyaman atau menganggap kampus sebagai menara gading artinya sangat wajib melihat fenomena ketenaga kerjaan di platform media sosial dapat menambah empati sebagai dosen karena banyak sarjana baik alumni kampus mentereng maupun kampus yang biasa-biasa saja yang curhat mengungkapkan posisi mereka saat ini yang tidak baik baik saja. Ketika berposisi sebagai dosen maka harusnya dosen sekali-kali keluar dari zona nyaman yakni pandai melihat fenomena sosial. Apalagi jika dosen tersebut diberikan amanah bagian dari manajemen kampus.
Memilih perguruan tinggi bukan lagi sekadar persoalan memilih tempat untuk mendapatkan gelar sarjana. Di tengah persaingan dunia kerja yang semakin ketat, mahasiswa dan orang tua perlu lebih kritis dalam menentukan kampus. Pertanyaan yang seharusnya diajukan bukan hanya, “Kampus mana yang terkenal?”, tetapi juga, “Setelah lulus, apakah kampus ini benar-benar membekali mahasiswa dengan kompetensi yang dibutuhkan dunia kerja?” atau bisa jadi berwirausaha sendiri/ menciptakan lapangan kerja.
Pertanyaan tersebut menjadi semakin penting bagi masyarakat di daerah. Perguruan tinggi tidak boleh hanya menjadi tempat berlangsungnya proses perkuliahan, ujian, kemudian wisuda. Kampus harus menjadi jembatan antara dunia pendidikan, dunia usaha, dunia industri, pemerintah, dan kebutuhan masyarakat.
Kita tentu tidak ingin perguruan tinggi hanya menghasilkan lulusan yang pandai menjawab soal ujian, tetapi kebingungan ketika berhadapan dengan persoalan nyata di lapangan. Karena itu, ada setidaknya beberapa indikator yang perlu diperhatikan ketika memilih perguruan tinggi: kurikulum yang relevan dengan kebutuhan industri, jaringan kerja sama yang produktif, dan sistem pengembangan karier yang nyata.
Kurikulum Tidak Boleh Berhenti di Ruang Kelas
Kampus yang baik bukan berarti kampus yang meninggalkan teori. Justru teori tetap menjadi fondasi pendidikan tinggi. Namun, teori harus mampu dihubungkan dengan persoalan nyata. Dunia kerja berubah sangat cepat. Teknologi digital, kecerdasan buatan, analisis data, ekonomi biru, energi terbarukan, industri kreatif, kewirausahaan, hingga transformasi bisnis telah mengubah jenis kompetensi yang dibutuhkan oleh dunia kerja.
Karena itu, kurikulum perguruan tinggi harus terus diperbarui. Mahasiswa tidak cukup hanya menghafal konsep. Mereka harus diberi kesempatan untuk menganalisis masalah, melakukan praktik, bekerja dalam tim, menggunakan teknologi, berkomunikasi, mengambil keputusan, dan menghasilkan solusi. Pertanyaannya apakah human resouces kampus mampu menyiapkan kebijakan serta perangkat lainnya, contoh sederhana ketika pemerintah menyiapkan program magang bagi mahasiswa maka hanya sebagian kampus saja yang merespon dan semangat dengan program tersebut.
Praktikum menjadi sangat penting. Mahasiswa perikanan, misalnya, tidak cukup hanya mempelajari teori ekosistem perairan di dalam kelas. Mereka perlu turun ke lapangan, mengambil sampel air, menganalisis kualitas lingkungan, menggunakan perangkat pemetaan, mengolah data, memahami teknologi budidaya, mengenal rantai bisnis perikanan, serta memahami persoalan masyarakat pesisir.
Begitu pula mahasiswa bidang lainnya. Pembelajaran harus bergerak dari “mengetahui” menuju “mampu melakukan”. Inilah esensi link and match yang sesungguhnya. Link and match bukan sekadar mencantumkan nama perusahaan atau lembaga dalam dokumen kerja sama. Link and match harus terlihat dalam proses pembelajaran dan kompetensi lulusan.
Kurikulum juga harus memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengenal persoalan lokal. Perguruan tinggi di Sulawesi Tengah, misalnya, memiliki lingkungan sosial, ekonomi, kelautan, pertanian, pertambangan, pariwisata, dan sumber daya alam yang sangat besar. Potensi tersebut seharusnya menjadi laboratorium pembelajaran.Mahasiswa tidak harus selalu belajar dari kasus yang jauh dari daerahnya. Teluk Palu, kawasan pesisir, pertanian, pertambangan, UMKM, pariwisata, dan persoalan lingkungan di Sulawesi Tengah dapat menjadi ruang belajar yang sangat kaya.Dengan demikian, lulusan tidak hanya memiliki ijazah, tetapi juga memiliki pengalaman menyelesaikan persoalan nyata.
MoU Jangan Hanya Menjadi Pajangan
Indikator kedua adalah jaringan kerja sama perguruan tinggi. Saat memilih kampus, calon mahasiswa dan orang tua sebaiknya tidak hanya bertanya berapa banyak MoU yang dimiliki. Pertanyaan yang lebih penting adalah: berapa banyak kerja sama tersebut benar-benar menghasilkan kegiatan untuk mahasiswa? Kita sering melihat daftar kerja sama yang panjang. Namun, kerja sama yang hanya berhenti pada penandatanganan dokumen tentu belum memberikan manfaat yang berarti.
Kerja sama yang produktif seharusnya melahirkan program konkret: magang, penelitian bersama, praktisi mengajar, kunjungan industri, sertifikasi kompetensi, proyek mahasiswa, pertukaran, kewirausahaan, rekrutmen lulusan, hingga pengembangan inovasi.
Di sinilah perguruan tinggi harus mengubah paradigma. Kerja sama bukan sekadar MoU, tetapi harus berubah menjadi MoA, implementasi program, dan hasil yang dapat diukur. Sebuah kampus mungkin memiliki ratusan mitra. Tetapi apabila mahasiswa tidak pernah berinteraksi dengan dunia industri, tidak pernah magang, tidak pernah mengerjakan proyek nyata, dan tidak memiliki akses terhadap dunia profesional, maka daftar mitra tersebut belum banyak berarti bagi masa depan mahasiswa.
Sebaliknya, kampus dengan jumlah mitra yang lebih sedikit tetapi mampu menghasilkan program nyata dan berkelanjutan justru dapat memberikan manfaat yang lebih besar. Karena itu, calon mahasiswa perlu bertanya: “Di mana mahasiswa kampus ini magang? Dengan lembaga apa mereka melakukan penelitian? Apakah ada praktisi yang mengajar? Apakah lulusan memiliki akses ke dunia kerja melalui jaringan kampus?” Pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebut jauh lebih penting daripada sekadar melihat kemegahan gedung kampus.
Indikator ketiga adalah keberadaan dan fungsi Career Center. Banyak mahasiswa baru memikirkan pekerjaan ketika sudah mendekati wisuda. Padahal persiapan karier seharusnya dimulai sejak mahasiswa memasuki perguruan tinggi. Kampus perlu memiliki sistem yang membantu mahasiswa memahami dunia kerja sejak awal. Mahasiswa harus dibekali kemampuan membuat CV, membangun personal branding, menghadapi wawancara kerja, membangun jejaring profesional, mengikuti sertifikasi kompetensi, menyusun portofolio, hingga memahami peluang kewirausahaan.
Career Center juga seharusnya tidak hanya bekerja ketika ada acara job fair. Fungsinya harus lebih luas, yaitu menjadi pusat informasi dan pengembangan karier mahasiswa dan alumni.
Lebih jauh lagi, perguruan tinggi perlu memiliki tracer study yang serius. Kampus harus mengetahui ke mana lulusannya bekerja, berapa lama mereka mendapatkan pekerjaan, apakah pekerjaan mereka sesuai dengan bidang keilmuan, berapa banyak yang menjadi wirausaha, dan kompetensi apa yang masih kurang.
Apa visi dari manajemen kampus ?
Kampus tidak boleh menjanjikan pekerjaan, tetapi harus meningkatkan kesiapan kerja Istilah “kampus anti-pengangguran” memang menarik secara komunikasi, tetapi perlu digunakan secara hati-hati. Tidak ada perguruan tinggi yang secara realistis dapat menjamin setiap lulusannya langsung mendapatkan pekerjaan. Dunia kerja dipengaruhi oleh banyak faktor: kondisi ekonomi, pertumbuhan industri, kompetensi individu, jaringan profesional, lokasi, dan perubahan teknologi.
Yang dapat dan harus dilakukan kampus adalah meningkatkan employability lulusan. Artinya, kampus harus membuat lulusannya memiliki kemampuan yang membuat mereka lebih siap memasuki dunia kerja, berwirausaha, menciptakan lapangan kerja, maupun melanjutkan pendidikan.
Ukuran keberhasilan perguruan tinggi karena itu tidak boleh berhenti pada jumlah mahasiswa yang diterima atau jumlah mahasiswa yang diwisuda. Ukuran keberhasilan harus bergeser menjadi:Apa kompetensi yang dimiliki lulusan? Apa yang mampu mereka kerjakan? Di mana mereka bekerja?
Apa kontribusi mereka bagi masyarakat? Dan yang tidak kalah penting: Apakah lulusan mampu menciptakan pekerjaan, bukan hanya mencari pekerjaan? Kampus Harus Menjadi Bagian dari Ekosistem Pembangunan Daerah. Bagi daerah seperti Sulawesi Tengah, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab yang lebih besar. Kampus tidak boleh berjalan sendiri sebagai menara gading.
Daerah memiliki persoalan sekaligus peluang yang membutuhkan pengetahuan. Pengelolaan pesisir, perikanan, pertanian, pertambangan, lingkungan, pariwisata, UMKM, teknologi, kesehatan masyarakat, dan ekonomi kreatif membutuhkan sumber daya manusia yang terdidik. Karena itu, kampus harus hadir sebagai pusat pengetahuan dan inovasi daerah.
Pemerintah menjadi mitra kebijakan. Dunia usaha menjadi ruang implementasi. Masyarakat menjadi penerima manfaat sekaligus sumber pengetahuan lokal. Jika keempat unsur tersebut dapat bekerja bersama, perguruan tinggi tidak hanya menghasilkan sarjana, tetapi juga menghasilkan solusi bagi daerah. Inilah yang semestinya menjadi arah baru pendidikan tinggi: dari kampus yang hanya mengajarkan pengetahuan menjadi kampus yang menghasilkan kompetensi, inovasi, jejaring, dan dampak.
Jangan memilih kampus hanya karena gedungnya, pada akhirnya, memilih perguruan tinggi adalah investasi jangka panjang. Gedung yang megah memang penting. Laboratorium yang baik juga penting. Akreditasi dan reputasi tentu harus diperhatikan. Tetapi semua itu belum cukup. Calon mahasiswa dan orang tua harus melihat lebih jauh. Apakah kurikulumnya relevan? Apakah praktikumnya kuat? Apakah mahasiswa memiliki akses ke dunia industri? Apakah kerja sama kampus benar-benar berjalan? Apakah ada Career Center yang aktif? Apakah alumni terserap di dunia kerja atau mampu menciptakan usaha? Apakah kampus memiliki hubungan nyata dengan kebutuhan daerah?
Penutup
Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan membantu masyarakat memilih perguruan tinggi secara lebih rasional. Perguruan tinggi pada akhirnya bukan sekadar tempat mendapatkan ijazah. Kampus adalah tempat membangun kompetensi, karakter, jejaring, pengalaman, dan masa depan. Karena itu, ukuran kampus yang baik bukan hanya seberapa banyak mahasiswa yang masuk, tetapi seberapa besar perubahan yang terjadi pada diri mahasiswa ketika mereka keluar sebagai lulusan. Kampus hanya merupakan gerbang mahasiswa mengasah kepemimpinannya lingkungannya yang sangat menentukan.
Penulis adalah: Dosen Prodi Sumberdaya Akuatik (SDA) Fakultas Perikanan Universitas Alkhairaat (UNISA) Palu*
