MENJAGA TUBUH TETAP SEHAT DI TENGAH KEMARAU PANJANG DAN CUACA EKSTRIM
Oleh: dr. Fathurrahman Muiz,M.Biomed, Sp.PA.*
Musim Kemarau panjang disertai panas terik sering hanya dipandang soal cuaca ekstrem saja. Padahal, dampak pada tubuh bisa jauh lebih serius dari yang dibayangkan orang kebanyakan. Mulai dari efek pada kulit hingga saluran pernapasan, sampai kondisi darurat seperti heat stroke yang bisa merenggut nyawa dalam hitungan jam. Pengetahuan terhadap efek kondisi cuaca ekstrim terhadap cara tubuh bekerja saat terpapar suhu tinggi, dan tahu kapan harus waspada, menjadi hal yang penting untuk diketahui bersama.
Fakta Umum:
- Tubuh manusia mengontrol suhu inti dalam rentang 36,5–37,5°C melalui keringat dan pelebaran pembuluh darah kulit.
- Dehidrasi ringan sudah bisa memicu pusing, lemas, dan penurunan konsentrasi – jauh sebelum rasa haus muncul.
- Heat stroke adalah kondisi darurat medis: suhu tubuh bisa melewati 40°C dan kulit justru kering, bukan berkeringat.
- Anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit kronis paling rentan terdampak suhu tinggi dalam kondisi cuaca ekstrim.
- Waktu paling berisiko untuk aktivitas di luar ruangan biasanya pukul 10.00 -15.00.
- El Nino 2026 sudah masuk kategori kuat (indeks ENSO +1,59) dan diperkirakan bertahan hingga awal 2027, membuat kemarau di Sulawesi Tengah, termasuk Palu, lebih kering dari biasanya.
El Nino 2026: Mengapa Kemarau Kali Ini Terasa Lebih Berat
Kalau belakangan ini kemarau di Palu dan sekitarnya terasa lebih panjang dan lebih kering dari biasanya, itu bukan sekadar kesan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat fenomena El Nino pada 2026 telah masuk kategori kuat. El Nino adalah pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur yang menggeser pola angin serta curah hujan secara global. Di Indonesia, dampaknya biasanya berupa musim kemarau yang lebih kering dan lebih panjang dari kondisi normal. Sulawesi Tengah, termasuk Kota Palu, Kabupaten Sigi, dan Donggala, punya kondisi geografis yang membuatnya lebih rentan terhadap dampak ini.
Bagaimana Tubuh Merespons Suhu Panas
Saat suhu lingkungan meningkat, kelenjar keringat bekerja lebih dengan melepaskan panas lewat penguapan cairan di permukaan kulit. Pembuluh darah di kulit ikut melebar, istilah medisnya vasodilatasi, supaya panas dari dalam tubuh bisa dibuang lebih cepat. Mekanisme ini sangat efisien, tapi ada syaratnya: cairan tubuh harus cukup.
Cuaca ekstrim dengan suhu tinggi dalam kondisi el nino saat ini memberikan tantangan yang serius pada sistem tubuh. Ditambah aktivitas fisik dan paparan matahari langsung, cairan tubuh bisa hilang jauh lebih cepat dari yang kita sadari. Bila asupan cairan tidak cukup, tubuh perlahan jatuh ke kondisi dehidrasi. Jika hal ini terus berlanjut, dapat berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih serius.
Gangguan Kesehatan yang Perlu Diwaspadai
Dehidrasi. Awalnya cuma rasa haus dan mulut kering. Tapi perhatikan juga urine yang berwarna lebih gelap dan lebih sedikit, badan lemas, serta pusing. Pada anak kecil dan lansia, tanda-tanda ini sering tidak terlalu kelihatan, jadi orang di sekitarnya perlu lebih peka.
Heat cramps atau kram akibat panas. Gejalanya ditandai dengan kejang otot ringan sampai sedang, biasanya di tungkai atau perut, akibat tubuh kehilangan elektrolit seperti natrium dan kalium lewat keringat berlebih.
Heat exhaustion (kelelahan akibat panas). Keringat berlebihan, kulit pucat dan lembap, denyut nadi cepat, mual, dan badan terasa sangat lemah. Ini semacam sinyal peringatan sebelum heat stroke, dan masih bisa ditangani dengan mendinginkan tubuh serta mengganti cairan yang hilang.
Heat stroke. Kondisi darurat medis sesungguhnya. Suhu tubuh inti bisa melewati 40°C, kulit justru kering dan panas karena mekanisme berkeringat sudah gagal berfungsi. Gejala lain berupa kebingungan, kesadaran menurun, bahkan kejang. Kalau tidak segera ditangani, organ vital seperti otak, jantung, dan ginjal bisa rusak.
Selain empat kondisi di atas, kemarau panjang juga cenderung memperparah iritasi mata dan saluran napas akibat debu, membuat kulit lebih kering dan mudah pecah-pecah, meningkatkan risiko infeksi saluran kemih karena asupan cairan yang kurang, serta memperbesar peluang keracunan makanan sebab suhu tinggi mempercepat pertumbuhan bakteri pada makanan yang tidak disimpan dengan baik.
Kelompok yang Perlu Perhatian Khusus
Tidak semua orang punya risiko yang sama. Anak-anak lebih rentan karena rasio luas permukaan tubuh terhadap berat badannya lebih besar, sehingga cairan hilang lebih cepat — apalagi mereka belum tentu bisa mengungkapkan rasa haus dengan jelas. Lansia juga perlu perhatian ekstra sebab kepekaan terhadap rasa haus menurun seiring usia, ditambah kondisi kronis atau obat-obatan tertentu (misalnya diuretik) yang memengaruhi keseimbangan cairan tubuh.
Ibu hamil termasuk kelompok yang perlu waspada karena kebutuhan cairannya meningkat, dan dehidrasi bisa berdampak pada sirkulasi ke janin. Begitu pula penderita penyakit jantung, ginjal, atau diabetes, karena gangguan cairan dan elektrolit dapat memperberat kondisi yang sudah ada. Jangan lupakan juga para pekerja luar ruangan seperti petani, buruh bangunan, dan pedagang kaki lima, yang terpapar panas sekaligus beraktivitas fisik berat dalam waktu lama.
Langkah Praktis Menghadapi Musim Kemarau Panjang
Pertama, jaga asupan cairan secara teratur, jangan menunggu haus baru minum. Rasa haus sebetulnya sudah menjadi sinyal bahwa tubuh mulai kekurangan cairan. Kedua, perhatikan waktu beraktivitas di luar ruangan. Sebisa mungkin hindari aktivitas berat pada rentang pukul 10.00 sampai 15.00, saat suhu biasanya berada di puncaknya.
Ketiga, gunakan pakaian yang tepat. Bahan ringan, longgar, dan berwarna terang akan membantu panas lebih mudah dilepaskan dari tubuh. Tambahkan topi, kacamata hitam, dan tabir surya untuk melindungi kulit dan mata dari paparan langsung.
Keempat, perhatikan pola makan. Buah dan sayur yang kaya kandungan air bisa membantu menjaga asupan cairan harian. Pastikan juga makanan diolah dan disimpan dengan bersih, karena suhu tinggi mempercepat pertumbuhan bakteri.
Kelima, jaga sirkulasi udara di rumah. Kipas angin atau ventilasi yang baik cukup membantu. Menutup tirai pada sisi yang terkena sinar matahari langsung juga bisa menjaga suhu ruangan tetap lebih stabil sepanjang siang.
Keenam, dan ini yang paling penting, kenali tanda bahaya dan jangan ragu bertindak cepat. Kalau muncul gejala heat exhaustion, segera pindahkan diri atau orang yang mengalaminya ke tempat teduh atau ber-AC, longgarkan pakaian, beri cairan sedikit demi sedikit, dan kompres air sejuk di leher, ketiak, serta lipat paha. Tapi kalau tandanya sudah mengarah ke heat stroke — kebingungan, penurunan kesadaran, suhu tubuh sangat tinggi — jangan tunda, segera bawa ke fasilitas kesehatan terdekat. Ini kondisi yang bisa mengancam nyawa dalam waktu singkat.
Terakhir, perhatikan juga kualitas air dan sanitasi. Di sejumlah wilayah, kemarau panjang bisa membuat sumber air bersih menjadi terbatas. Pastikan air yang dikonsumsi berasal dari sumber yang aman, dan jaga kebersihan tempat penyimpanannya, agar tidak menjadi sumber penyakit tambahan.
Dengan situasi El Nino yang diperkirakan masih akan berlangsung setidaknya hingga awal 2027, kewaspadaan terhadap dampak kesehatan akibat kemarau panjang dan panas terik di Palu dan sekitarnya perlu mendapat perhatian khusus. Ini bukan cuma urusan individu, tapi juga keluarga dan komunitas, terutama dalam menjaga kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit kronis. Dengan memahami cara tubuh merespons panas, dan menerapkan langkah pencegahan sederhana secara konsisten, risiko gangguan kesehatan akibat kemarau bisa ditekan jauh lebih baik. Pada akhirnya, menjaga kesehatan di tengah kondisi iklim yang menantang bukan sekadar soal bertahan hidup, tapi juga soal menjaga kualitas hidup sehari-hari tetap baik.
Penulis adalah : Dosen Patologi Anatomi dan Biokimia Fakultas Kedokteran, Universitas Alkhairaat (UNISA) Palu.*
