Pentingnya Puasa Sebelum Operasi
Oleh: dr. Rafly Suwandhi Wahid, M.Kes, Sp.An-Ti*
Tujuan utama puasa sebelum anestesi adalah mengurangi risiko keluarnya cairan lambung dan masuk ke saluran napas. Saat pasien mendapatkan anestesi umum atau sedasi dalam, beberapa mekanisme protektif jalan napas dapat menurun, termasuk refleks batuk dan kemampuan mempertahankan jalan napas. Apabila lambung masih berisi makanan atau cairan dalam jumlah cukup banyak, isi lambung dapat keluar, kemudian masuk ke trakea dan paru-paru sehingga terjadi aspirasi.
Secara sederhana makanan dan minuman yang berada di lambung ketika dilakukan anestesi menurunkan refleks proteksi jalan napas yang menyebabkan regurgitasi dan masuk ke paru-paru (aspirasi) yang menyebabkan gangguan pernapasan. oleh karena itu, status puasa menjadi salah satu bagian penting dalam persiapan keselamatan pasien sebelum anestesi.
Ketika pasien lupa atau tidak berpuasa untuk operasi elektif atau yang direncanakan, bisa dilakukan penundaan operasi. Namun bila operasi emergensi yang mengancam nyawa pasien, operasi mungkin tetap dilakukan karena tindakan operasi lebih besar manfaatnya daripada berpuasa.
Berapa lama sebaiknya berpuasa?
Pada dasarnya pembagiannya harus dibedakan mengikuti prinsip 2–4–6–8 jam, tetapi jenis asupan harus dibedakan.
| Asupan | Durasi Puasa Umum |
| Air Putih | 2 jam |
| ASI | 4 Jam |
| Susu Formula/ Non ASI | 6 Jam |
| Makanan Ringan | 6 Jam |
| Makanan Berat/ Berlemak/ Daging | ≥ 8 Jam |
Air putih → 2 jam
Air putih termasuk clear liquid. Jadi, pada pasien sehat yang menjalani prosedur elektif, secara umum air putih masih diperbolehkan sampai 2 jam sebelum anestesi.
ASI → 4 jam
ASI berbeda dengan air putih. ASI mengandung lemak, protein, dan karbohidrat, sehingga pengosongan lambung tidak secepat cairan jernih.
Susu formula → 6 jam
Susu formula memerlukan waktu lebih lama untuk dikosongkan dari lambung.
Makanan ringan → 6 jam
Untuk light meal contohnya roti atau sereal dengan cairan jernih, rekomendasinya sekitar: 6 jam sebelum anestesi.
Makanan berat/berlemak/daging → ≥8 jam
Ini yang paling lama. Misalnya pasien makan: nasi + ayam. Nasi + daging. Gorengan, makanan tinggi lemak, makanan dalam jumlah besar. Satu hal yang sangat penting, puasa bukan berarti tanpa asupan oral sama sekali, ini yang cukup sering terjadi di lapangan. sebagai contoh: misalnya operasi dijadwalkan jam 10.00: makanan berat terakhir jam 02.00 (8 jam sebelumnya) makanan ringan/susu formula jam 04.00 (6 jam sebelumnya) ASI terakhir jam 06.00 (4 jam sebelumnya) air putih/clear liquid terakhir jam 08.00 (2 jam sebelumnya).
Jadi pasien tidak harus berhenti minum air putih sejak tengah malam, selama tidak ada instruksi khusus dari dokter anestesi. Namun, puasa tidak berarti harus dilakukan selama mungkin, karena puasa yang terlalu lama juga dapat menyebabkan dehidrasi, gangguan metabolik, ketidaknyamanan, dan meningkatkan risiko mual muntah pascaoperasi. Oleh karena itu, durasi puasa harus disesuaikan dengan jenis anestesi, tingkat sedasi, kondisi pasien, serta protokol yang berlaku.
Bagaimana kalau anestesinya regional atau lokal? Pada regional anesthesia, terutama spinal atau epidural, pasien biasanya tidak kehilangan kesadaran dan refleks proteksi jalan napas tidak seperti pada general anesthesia. Karena itu, secara fisiologis risiko aspirasi dapat lebih rendah. Tetapi dari perspektif anestesiologi, status puasa tetap diperhitungkan. Alasannya bukan hanya karena regional anestesi itu sendiri, tetapi karena dokter anestesi harus mempertimbangkan kemungkinan yang terjadi.
Ketika blok regional anestesi gagal atau oeprasi yang memanjang, sehingga dilakukan konversi anestesi seperti sedasi dalam atau anestesi umum yang menyebabkan refleks proteksi jalan napas menurun dan risiko aspirasi meningkat.
Penulis adalah: Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Alkhairaat (UNISA) Palu.*
