Dari Werianggi untuk Papua: Komite Eksekutif Papua Dukung Hilirisasi Produk Unggulan TEP UI
Jakarta- Wartakiat Ι Semangat mempercepat pembangunan Papua melalui penguatan potensi lokal mendapat dukungan dari Ketua Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua, Dr. Velix Vernando Wanggai. Dalam audiensi dengan Assoc.Prof.Dr. Hendra Kaprisma, Ketua Tim Ekspedisi Patriot Universitas Indonesia (TEP UI) bidang Hilirisasi, di Kantor Pusat Komite Eksekutif, Medan Merdeka,Jakarta, Velix Wanggai menyampaikan apresiasi atas berbagai capaian TEP UI dalam mendampingi masyarakat di kawasan transmigrasi Werianggi-Werabur, Teluk Wondama, Papua Barat.

Ketua Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua Dr. Velix Vernando Wanggai bersama Ketua TEP UI bidang Hilirisasi Assoc.Prof.Dr. Hendra Kaprisma
TEP UI merupakan bagian dari Ekspedisi Patriot Kementerian Transmigrasi RI yang pelaksanaannya di Universitas Indonesia berada di bawah koordinasi Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Inovasi Sosial (DPIS UI). Dalam pelaksanaannya, tim tidak hanya melakukan pemetaan potensi, tetapi mendorong agar potensi lokal dapat berkembang menjadi produk bernilai tambah, memiliki identitas, memiliki pasar, dan mampu menjadi sumber ekonomi masyarakat. Dalam pertemuan tersebut, Hendra Kaprisma memaparkan perkembangan agenda hilirisasi yang telah dirintis TEP UI di Werianggi-Werabur, khususnya pengembangan komoditas pala sebagai salah satu kekuatan ekonomi lokal.
Dari Pala Menjadi Ekosistem Nilai Tambah
Salah satu inovasi yang mendapat perhatian khusus adalah konsep pala zero-waste yang dikembangkan TEP 7 UI—yang merupakan TEP 3 dalam skema Ekspedisi Patriot Kementerian Transmigrasi RI—dipimpin oleh Hendra Kaprisma beranggotakan Edelleit Rose, Salsabila Erlindita, Yusril Ikhtiar Muhammad, Maulana Rizqi, dan Bella Rose Simangunsong. Konsep tersebut tidak berhenti pada pemanfaatan biji pala sebagai komoditas utama, tetapi berupaya mengembangkan pendekatan pemanfaatan seluruh bagian buah pala agar limbah dapat dikurangi dan nilai ekonomi yang dihasilkan masyarakat semakin meningkat.
Pendekatan ini kemudian dikembangkan lebih lanjut melalui penguatan identitas produk, branding, dan packaging. Salah satu hasil hilirisasi yang diperkenalkan adalah “Kakomi”, produk turunan pala yang telah memperoleh sentuhan pengembangan merek dan kemasan sehingga memiliki peluang lebih besar untuk masuk ke pasar yang lebih luas.
Bagi TEP UI, hilirisasi bukan sekadar mengubah bahan mentah menjadi barang jadi. Hilirisasi dipahami sebagai proses yang menghubungkan potensi lokal, pengetahuan masyarakat, inovasi, desain, identitas budaya, kewirausahaan, dan pasar dalam satu rantai nilai yang berkelanjutan. Konsep tersebut sejalan dengan pendekatan whole-fruit valorization dan ekonomi sirkular yang dikembangkan dalam agenda hilirisasi Werianggi, dengan melihat pala sebagai ekosistem produk, bukan sekadar komoditas.
Menanggapi paparan tersebut, Velix Wanggai memberikan apresiasi terhadap kerja TEP UI, khususnya keberanian tim dalam menerjemahkan potensi lokal menjadi produk yang bernilai ekonomi dan identitas. Velix secara khusus memberikan pujian terhadap konsep pala zero-waste serta branding dan packaging produk Kakomi yang dinilainya menunjukkan bahwa komoditas lokal Papua dapat dikembangkan menjadi produk yang lebih bernilai dan memiliki daya tarik pasar.
Lebih jauh, Velix menyatakan kesediaannya untuk mendukung promosi produk-produk hasil hilirisasi tersebut. Ia bahkan menyampaikan bahwa produk Kakomi dan produk unggulan Werianggi-Werabur dapat dipajang di ruang pertemuan Komite Eksekutif ataupun ruang publik lainnya sebagai bagian dari upaya memperkenalkan potensi ekonomi masyarakat Papua.“Produk-produk ini bisa dipajang dan dipromosikan di ruang pertemuan Komite serta ruang publik lainnya. Kami siap mengawal,” ujar Velix.
Pernyataan tersebut menjadi dorongan penting bagi TEP UI bahwa kerja hilirisasi yang dimulai dari lapangan memiliki peluang untuk berkembang menuju ruang promosi, jejaring kelembagaan, dan pasar yang lebih luas.
Werianggi: Laboratorium Nyata Pembangunan Berbasis Potensi Lokal
Bagi Hendra Kaprisma, dukungan tersebut memiliki makna yang lebih luas. Werianggi-Werabur menunjukkan bahwa percepatan pembangunan Papua dapat dimulai dari mengenali kekuatan masyarakat dan mengembangkan apa yang sudah mereka miliki. Dalam perjalanan Ekspedisi Patriot, TEP UI tidak memosisikan masyarakat sebagai objek program, tetapi sebagai subjek penting dari proses pengembangan. Berbagai agenda dikembangkan melalui pendekatan kolaboratif yang mencakup penguatan komoditas unggulan, ekonomi kreatif, pendidikan, budaya, serta pengembangan kapasitas masyarakat.
Agenda hilirisasi pala menjadi salah satu contoh bagaimana potensi lokal dapat dikembangkan melalui pendekatan yang mengintegrasikan produksi, inovasi, branding, packaging, dan peluang pasar. Sementara itu, berbagai program lain seperti digitalisasi UMKM “Wondama Gold”, Papua Creative Branding Initiative, Sekolah Pesisir, dan Festival Pala menjadi bagian dari ekosistem pemberdayaan yang lebih luas. Dengan demikian, pencapaian TEP UI di Werianggi bukan sekadar menghasilkan sejumlah produk, melainkan membangun cara baru melihat pembangunan Papua: dari potensi menjadi nilai, dari nilai menjadi produk, dan dari produk menjadi kekuatan ekonomi masyarakat.
Pertemuan Hendra Kaprisma dan Velix Wanggai memperlihatkan satu pesan penting: hilirisasi dapat menjadi salah satu pintu masuk untuk mempercepat pembangunan Papua. Ketika komoditas lokal memiliki kualitas, identitas, kemasan, cerita, dan akses pasar, masyarakat tidak lagi hanya berada pada posisi sebagai pemasok bahan mentah. Mereka memiliki kesempatan untuk memperoleh nilai tambah yang lebih besar dari sumber daya yang tumbuh di wilayahnya sendiri.
Semangat inilah yang menjadi bagian dari kerja TEP UI di Werianggi-Werabur. Pengembangan pala zero-waste, Kakomi, dan berbagai inisiatif lainnya diarahkan agar tumbuh menjadi gerakan ekonomi lokal yang berkelanjutan, bukan program sesaat. Pendekatan TEP UI juga menempatkan berbagai hasil kerja tim sebagai satu kesatuan dalam lima klaster—pendidikan dan kesehatan, pertanian-perkebunan, komoditas unggulan, ekonomi kreatif, serta adat dan budaya.

Produk “Kakomi” sebagai Hasil Kolaborasi Ayawata Nikiwar dan TEP UI
Bagi Universitas Indonesia, pengalaman Werianggi menunjukkan bahwa percepatan pembangunan Papua tidak selalu harus dimulai dari proyek-proyek besar. Ia dapat dimulai dari satu komoditas, satu kampung, satu kelompok masyarakat, dan satu gagasan yang dikerjakan secara serius hingga menghasilkan nilai tambah. Dukungan Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua terhadap hilirisasi Werianggi menjadi energi baru bagi TEP UI untuk terus mengembangkan model tersebut.
Dari Werianggi, pala tidak berhenti menjadi pala. Ia menjadi produk. Produk menjadi identitas. Identitas menjadi nilai ekonomi. Hal itu menjadikan nilai ekonomi sebagai bagian dari jalan menuju kemandirian masyarakat Papua. Pada titik inilah semangat Ekspedisi Patriot UI bertemu dengan agenda besar percepatan pembangunan Papua: membangun dari potensi lokal, memperkuat masyarakat, dan membawa hasilnya ke ruang yang lebih luas. Papua memiliki potensi. Tugas kita adalah memastikan potensi itu tumbuh menjadi kekuatan.
TIM