Hari Santri Momentum Kebangkitan Generasi Milenial Indonesia
Oleh: Dr. H. Abd. Azis Tammauni, S.Sos., M.M.*
Setiap tanggal 22 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Santri Nasional. Hari bersejarah ini melandaskan pengakuannya pada Resolusi Jihad yang dicetuskan oleh Hadratusy Syaikh K.H. Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945. Seruan semangat keberanian dan cinta tanah air dengan slogan hubbul wathan minal iman (cinta tanah air adalah sebagain dari iman) membakar jiwa kaum santri dan pemuda untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari kembalinya kolonialisme.
Namun, di era transformasi digital dan pesatnya arus globalisasi saat ini, makna “jihad” serta ke-santri-an telah mengalami redefinisi. Santri bukan lagi hanya mereka yang bermukim di dalam tembok pesantren dengan sarung dan peci, melainkan setiap jiwa muda yang memegang teguh nilai-nilai keagamaan, kedisiplinan, dan moralitas luhur dalam berkontribusi bagi bangsa. Dalam konteks inilah, Hari Santri menjadi momentum emas bagi generasi milenial dan Gen Z untuk bangkit memimpin masa depan Indonesia.
Ada beberapa hal penting yang perlu menjadi bahan renungna dan bahan kajian kta di masa milenial ini yaitu: 1) Reorientasi Jihad: Dari Bambu Runcing ke Inovasi Teknologi. Jika masa lalu menuntut perjuangan dengan fisik dan bambu runcing, maka pertempuran generasi milenial saat ini berada di ranah gagasan, teknologi, dan ekonomi kreatif. Santri milenial dituntut untuk menguasai berbagai bidang keilmuan antara lain Sains dan Teknologi: Memanfaatan AI, data science, dan jaringan digital untuk kebaikan masyarakat. Begitu juga tentang Literasi Keuangan dan Kewirausahaan: Membangun kemandirian ekonomi pesantren dan UMKM halal, serta yang tidak kalah penting adalah diplomasi dan Komunikasi: Menyebarkan narasi perdamaian serta menyebarkan Islam yang ramah (rahmatan lil ‘alamin) di tingkat global melalui media sosial. 2) Benteng Moral di Tengah Arus Disrupsi. Generasi milenial hidup di era disrupsi informasi, di mana berita bohong (hoaks), polarisasi sosial, dan krisis karakter kerap mengintai. Di sinilah letak keunggulan komparatif nilai-nilai kesantrian yaitu Tradisi Tabayyun yakni santri senantiasa berhati-hati dalam menerima dan menyebarkan informasi; Toleransi dan Moderasi Beragama, yakni kemampuan menjaga keharmonisan di tengah keberagaman bangsa (Bhinneka Tunggal Ika); Integritas dan Adab, yaitu menjunjung tinggi etika di atas sekadar kecerdasan intelektual. 3) Mengawal Indonesia Emas 2045. Menyongsong bonus demografi dan visi Indonesia Emas 2045. Pemuda Indonesia membutuhkan sinergi antara keimanan yang kokoh dan profesionalisme yang unggul. Santri milenial hadir sebagai wujud nyata persilangan tersebut. Mereka adalah gabungan antara spiritual quotient (SQ), emotional quotient (EQ), dan intelligence quotient (IQ) yang siap bersaing secara global tanpa kehilangan akar budaya dan agamanya.
Sebagai harapan untuk santri kita ke depan mari merawat Jiwa Santri, Menatap Masa Depan. Selamat Hari Santri Nasional. Momentum ini adalah pengingat bahwa masa depan Indonesia ada di tangan pemuda yang tidak hanya cerdas dan inovatif, tetapi juga memiliki kebersihan hati serta komitmen kebangsaan yang utuh. Mari jadikan nilai-nilai kesantrian sebagai dorongan untuk terus berkarya, berinovasi, dan memberikan dampak positif bagi bangsa dan negara. Santri Bergerak, Milenial Bangkit, Indonesia Maju.
Wallahu A’lam Bissawab.
Penulis adalah: Dosen Fakultas Ekonomi (FEKON) Universitas Alkhairaat (UNISA) Palu/ Ketua Umum Pimpinan Wilayah Ittihad Persaudaraan Imam Masjid (IPIM) Provinsi Sulawesi Tengah