Meraih Keutamaan Asyura dengan Iman dan Amal

Meraih Keutamaan Asyura dengan Iman dan Amal

Oleh: Suparto, S.Pd.I.,M.Pd.*

Setiap tanggal 10 Muharam, umat Islam memperingati hari Asyura, sebuah hari yang memiliki kedudukan istimewa dalam tradisi Islam. Keistimewaan tersebut tidak hanya didasarkan pada peristiwa-peristiwa bersejarah yang dikaitkan dengannya, tetapi juga karena Rasulullah saw memberikan perhatian khusus terhadap amalan yang dilakukan pada hari itu, terutama ibadah puasa. Di tengah dinamika kehidupan modern yang ditandai dengan meningkatnya individualisme, materialisme, dan krisis spiritual, Asyura menghadirkan pesan yang tetap relevan: memperkuat iman dan menerjemahkannya dalam amal nyata.

Islam memandang waktu bukan sekadar rangkaian hari yang berlalu, melainkan ruang bagi manusia untuk meningkatkan kualitas ketakwaan. Allah Swt berfirman, “Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan…” (QS. At-Taubah [9]: 36). Muharam sebagai salah satu dari empat bulan mulia mengandung pesan bahwa terdapat momentum-momentum tertentu yang patut dimanfaatkan untuk memperbanyak ibadah dan amal saleh.

Keutamaan Hari Asyura memiliki landasan yang kuat dalam hadis sahih. Dari Ibnu Abbas ra, diriwayatkan bahwa ketika Rasulullah saw,  tiba di Madinah, beliau mendapati kaum yahudi berpuasa pada hari Asyura. Mereka menjelaskan bahwa hari tersebut merupakan hari ketika Allah menyelamatkan nabi Musa a.s. dan bani Israil dari kejaran Fir’aun. Mendengar hal itu, Rasulullah saw, bersabda, “Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian,” kemudian beliau berpuasa dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Hadis tersebut memberikan pelajaran penting bahwa Islam mengajarkan penghormatan terhadap sejarah para nabi sebagai bagian dari kesinambungan risalah tauhid. Nabi Musa a.s,  bukan hanya milik satu umat, melainkan bagian dari mata rantai kenabian yang berpuncak pada kerasulan Muhammad saw. Oleh karena itu, puasa Asyura bukan sekadar tradisi, melainkan bentuk syukur kepada Allah atas kemenangan kebenaran atas kezaliman.

Dalam hadis lain, Rasulullah saw. bersabda, “Puasa pada hari Asyura, aku berharap kepada Allah agar menghapus dosa-dosa setahun yang lalu” (HR. Muslim). Hadis ini menunjukkan besarnya rahmat Allah kepada hamba-Nya. Melalui ibadah yang relatif ringan, Allah membuka pintu ampunan bagi mereka yang menjalankannya dengan keikhlasan dan keimanan.

Namun demikian, keutamaan Asyura tidak boleh dipahami secara parsial. Menghapus dosa dalam hadis tersebut dipahami oleh para ulama sebagai dosa-dosa kecil, sedangkan dosa besar tetap memerlukan taubat yang sungguh-sungguh. Dengan demikian, puasa Asyura bukanlah “jalan pintas” menuju keselamatan, melainkan bagian dari proses pembinaan spiritual yang lebih luas.

Di sinilah pentingnya memahami hubungan antara iman dan amal. Dalam Al-Qur’an, kedua konsep tersebut hampir selalu disebut secara beriringan. Orang-orang yang beriman dituntut untuk membuktikan keimanannya melalui amal saleh. Sebaliknya, amal yang dilakukan tanpa landasan iman akan kehilangan dimensi spiritualnya. Asyura menjadi momentum yang mempertemukan keduanya: memperbarui keyakinan kepada Allah sekaligus memperbanyak amal kebajikan.

Puasa Asyura mengajarkan pengendalian diri. Menahan lapar dan dahaga hanyalah aspek lahiriah dari puasa. yang lebih penting ialah kemampuan mengendalikan hawa nafsu, menjaga lisan dari kebohongan, menahan amarah, menghindari ghibah, serta menumbuhkan kepekaan terhadap penderitaan orang lain. Nilai-nilai inilah yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan masyarakat saat ini.

Fenomena maraknya ujaran kebencian di media sosial, meningkatnya intoleransi, serta melemahnya etika dalam ruang publik menunjukkan bahwa persoalan bangsa tidak hanya berkaitan dengan pembangunan ekonomi, tetapi juga pembangunan karakter. Dalam konteks ini, ibadah memiliki fungsi sosial yang tidak kalah penting dibandingkan fungsi ritualnya. Puasa yang benar semestinya melahirkan pribadi yang lebih jujur, sabar, disiplin, dan bertanggung jawab.

Asyura juga mengajarkan makna syukur. Syukur dalam Islam bukan sekadar ucapan alhamdulillah, melainkan sikap hidup yang diwujudkan melalui ketaatan kepada Allah dan kepedulian terhadap sesama. Kisah nabi Musa a.s mengajarkan bahwa pertolongan Allah selalu hadir bagi mereka yang tetap beriman dan berjuang di jalan yang benar.

Bangsa Indonesia memiliki banyak alasan untuk bersyukur. Kemerdekaan, persatuan dalam keberagaman, kekayaan sumber daya alam, serta kehidupan beragama yang relatif harmonis merupakan nikmat yang patut dijaga. Namun, rasa syukur tersebut harus diwujudkan melalui kerja keras, kejujuran, dan semangat membangun peradaban yang bermartabat. Tanpa itu, syukur hanya akan berhenti sebagai ungkapan verbal.

Selain puasa, hari Asyura juga menjadi momentum yang tepat untuk memperbanyak sedekah, membaca Al-Qur’an, berzikir, mempererat silaturahmi, dan melakukan muhasabah. Muhasabah merupakan proses mengevaluasi diri secara jujur. Dalam kehidupan yang serba cepat, manusia sering kali lebih sibuk menilai kesalahan orang lain daripada memperbaiki dirinya sendiri. Padahal, perubahan sosial selalu diawali oleh perubahan individu.

Muhasabah mengingatkan bahwa setiap manusia memiliki keterbatasan. Tidak ada seorang pun yang luput dari kesalahan. Karena itu, Asyura seharusnya menjadi kesempatan untuk memperbarui komitmen dalam menjalankan ajaran Islam secara lebih baik. Apabila setiap Muslim memanfaatkan momentum ini untuk memperbaiki kualitas dirinya, maka dampaknya akan terasa dalam kehidupan keluarga, masyarakat, hingga bangsa.

Di sisi lain, umat Islam juga perlu menyikapi hari Asyura secara proporsional. Berbagai tradisi yang berkembang di tengah masyarakat hendaknya diukur berdasarkan tuntunan Al-Qur’an dan sunah yang sahih. Islam menghargai budaya selama tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariat. Oleh karena itu, semangat Asyura hendaknya diarahkan pada penguatan ibadah, peningkatan akhlak, dan kepedulian sosial, bukan pada praktik-praktik yang tidak memiliki dasar yang kuat dalam ajaran Islam.

Dalam perspektif pembangunan bangsa, nilai-nilai Asyura memiliki relevansi yang sangat besar. Bangsa yang maju bukan hanya ditentukan oleh kemajuan teknologi dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga oleh kualitas moral warganya. Kejujuran, integritas, disiplin, kepedulian, dan tanggung jawab merupakan modal sosial yang tidak dapat digantikan oleh kemajuan material. Semua nilai tersebut sesungguhnya diajarkan melalui ibadah yang dilakukan dengan penuh kesadaran.

Akhirnya, Asyura bukan sekadar tanggal dalam kalender Hijriah, melainkan pengingat bahwa iman harus selalu diperbarui dan diwujudkan dalam amal nyata. Puasa, sedekah, zikir, serta berbagai bentuk kebaikan bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana untuk membentuk manusia yang bertakwa dan bermanfaat bagi sesama. Ketika iman melahirkan amal, dan amal memperkuat iman, di situlah hakikat keutamaan Asyura benar-benar tercapai.

Semoga peringatan Asyura tidak berhenti sebagai rutinitas tahunan, tetapi menjadi momentum membangun pribadi yang lebih dekat kepada Allah, lebih peduli kepada sesama, dan lebih siap menghadapi berbagai tantangan kehidupan dengan keimanan yang kokoh serta amal yang berkelanjutan. Dengan demikian, semangat Asyura akan terus hidup, tidak hanya dalam ibadah individual, tetapi juga dalam ikhtiar bersama membangun masyarakat yang adil, beradab, dan diridhai Allah Swt.

Penulis adalah: Dosen Tetap Yayasan pada Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam*

 

 

Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *