Dosen UNISA Palu Temukan Tiga Mikroba Bertahan di Tengah Tekanan Insektisida pada Agroekosistem Bawang Merah Lokal Palu

Dosen UNISA Palu Temukan Tiga Mikroba Bertahan di Tengah Tekanan Insektisida pada Agroekosistem Bawang Merah Lokal Palu

Palu-WartakiatΙ Penggunaan insektisida secara intensif pada budidaya bawang merah lokal Palu ternyata tidak sepenuhnya mampu menekan keberadaan mikroorganisme di dalam agroekosistem. Sebuah penelitian yang dilakukan Hasmari Noer, Sri Sudewi, If’all, dan Abdul Rahim Saleh menemukan tiga mikroba yang mampu bertahan di tengah tekanan insektisida pada agroekosistem bawang merah lokal Palu.

Temuan tersebut menjadi bagian penting dalam upaya memahami kondisi mikrobiologis tanah pada lahan pertanian bawang merah, khususnya di tengah penggunaan bahan kimia pengendali organisme pengganggu tanaman.

Penelitian ini menunjukkan bahwa keberadaan mikroba di dalam agroekosistem tidak serta-merta hilang akibat paparan insektisida. Sebaliknya, terdapat mikroba tertentu yang memiliki kemampuan adaptasi sehingga tetap mampu bertahan dan berkembang pada lingkungan yang mengalami tekanan bahan kimia pertanian.

Keberadaan mikroba tersebut dinilai penting karena mikroorganisme tanah memiliki peran dalam menjaga keseimbangan ekosistem pertanian. Mikroba dapat berkontribusi terhadap proses penguraian bahan organik, siklus unsur hara, serta berbagai proses biologis yang mendukung produktivitas tanah.

Bagi pengembangan bawang merah lokal Palu, hasil penelitian ini memberikan perspektif bahwa pengelolaan agroekosistem tidak hanya berorientasi pada pengendalian hama melalui insektisida, tetapi juga perlu memperhatikan keberadaan organisme yang berperan dalam menjaga kesehatan tanah.

Ketua tim peneliti, Dr. Hasmari Noer, mengatakan penelitian tersebut dilakukan untuk melihat hubungan antara tekanan insektisida, kondisi tanah, kehidupan mikroba, dan respons tanaman bawang merah lokal Palu.

“Kami ingin mengetahui apa yang terjadi di dalam tanah ketika lahan menerima tekanan insektisida dengan intensitas berbeda. Karena itu, penelitian tidak hanya mengamati tanaman, tetapi juga menganalisis sifat fisik dan kimia tanah, jumlah mikroba, tingkat kehijauan daun, dan penyerapan unsur hara oleh umbi,” jelas Hasmari.

“Ketiga mikroba tersebut adalah Aspergillus niger, Trichoderma asperellum, dan Bacillus cereus, temuan ini sudah kami publish di jurnal International Journal of Agriculture and Biosciences (IJAB), jurnal internasional bereputasi kuartil dua (Q2), yang merupakan bagian dari penelitian kami yang berjudul Soil-Plant-Microbe Interactions under Insecticide Pressure,” kata Dr.Ir. If’all, M.Si salah seorang peneliti.

Aspergillus niger merupakan cendawan yang umum ditemukan di tanah dan berperan dalam penguraian bahan organik. Sementara itu, Trichoderma asperellum dikenal sebagai cendawan tanah yang dapat berinteraksi dengan akar tanaman dan berpotensi menekan sejumlah patogen penyebab penyakit.

Adapun Bacillus cereus dapat ditemukan di berbagai lingkungan, termasuk tanah pertanian. Meskipun terdeteksi sebagai salah satu mikroba dominan, pemanfaatannya sebagai agen hayati tetap memerlukan identifikasi hingga tingkat strain dan pengujian keamanan hayati secara ketat.

Temuan ini juga dapat menjadi dasar bagi penelitian lanjutan untuk mengidentifikasi lebih jauh karakteristik ketiga mikroba tersebut, termasuk potensinya dalam mendukung pertumbuhan tanaman dan menjaga keseimbangan agroekosistem bawang merah.

Sri Sudewi, pakar mikroba, menegaskan bahwa keberadaan ketiga mikroba tersebut tidak serta-merta menunjukkan bahwa semuanya dapat langsung dimanfaatkan sebagai agen hayati.

“Sebagian mikroba memang masih mampu bertahan, tetapi tanah tetap menunjukkan tanda-tanda tekanan. Temuan mikroba tersebut menjadi titik awal bagi kami untuk mencari kemungkinan solusi pemulihan fungsi tanah,” jelasnya.

Sri Sudewi menjelaskan, penelitian dilakukan untuk mengetahui hubungan antara tekanan insektisida, kondisi tanah, kehidupan mikroba, dan respons tanaman bawang merah Lokal Palu. Tim peneliti ingin mengetahui apa yang terjadi di dalam tanah ketika lahan menerima tekanan insektisida dengan intensitas berbeda.

Menurutnya, penelitian tidak hanya mengamati tanaman. Tim juga menganalisis sifat fisik dan kimia tanah, jumlah mikroba, tingkat kehijauan daun, serta penyerapan unsur hara oleh umbi.

Dalam penelitian tersebut, tim membandingkan empat kategori lahan berdasarkan tingkat tekanan insektisida. Kategorinya mulai dari lahan tanpa insektisida hingga lahan dengan intensitas penggunaan insektisida tinggi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tekanan insektisida tinggi diikuti penurunan sejumlah indikator kesuburan tanah. Kandungan fosfor tersedia (P₂O₅) menurun sebesar 85,95 persen. Kalium tersedia (K₂O) juga turun sebesar 63,08 persen. Sementara itu, kapasitas tukar kation tanah menurun sekitar 55,20 persen.

Kapasitas tukar kation merupakan salah satu indikator kemampuan tanah dalam mengikat, menyimpan, dan menyediakan unsur hara bagi tanaman. Penurunan nilai tersebut menunjukkan berkurangnya kemampuan tanah mempertahankan unsur hara.

Tim peneliti melanjutkan kajian untuk menguji aplikasi mikroba tanah pada lahan yang telah terpapar insektisida dan digunakan untuk budidaya bawang merah lokal Palu. Mikroba yang telah melalui proses seleksi dan pengujian keamanan akan diaplikasikan dalam dua bentuk, yaitu secara tunggal dan dalam bentuk konsorsium. Aplikasi tunggal bertujuan mengetahui kemampuan masing-masing mikroba.

Sementara itu, aplikasi konsorsium menggabungkan beberapa mikroba dengan karakter dan fungsi berbeda. Penelitian lanjutan diarahkan untuk mengetahui kemampuan mikroba terpilih dalam bertahan setelah diaplikasikan, membantu memperbaiki fungsi biologis tanah, meningkatkan ketersediaan unsur hara, serta mendukung pertumbuhan dan hasil bawang merah lokal Palu.

“Kami tidak hanya ingin mengetahui mikroba apa yang ditemukan. Tahap berikutnya adalah menguji apakah mikroba terpilih, baik secara tunggal maupun konsorsium, dapat membantu tanah yang telah terpapar insektisida dan memberikan pengaruh positif terhadap tanaman bawang merah,” jelas Sri Sudewi.

Penggunaan insektisida yang bijaksana menjadi salah satu aspek penting dalam menjaga keberlanjutan pertanian. Sebab, pengendalian hama yang efektif perlu berjalan seimbang dengan upaya mempertahankan organisme yang memberikan manfaat bagi tanah dan tanaman.

Penelitian terhadap mikroba yang mampu bertahan tersebut sekaligus membuka peluang pengembangan pendekatan pertanian yang lebih ramah lingkungan. Mikroorganisme yang memiliki kemampuan adaptasi terhadap tekanan insektisida berpotensi menjadi bagian dari kajian pengelolaan tanah dan tanaman secara berkelanjutan.

Bawang merah lokal Palu sendiri memiliki nilai penting dalam pertanian daerah. Karena itu, pemahaman terhadap kondisi agroekosistemnya, termasuk keberadaan mikroorganisme tanah, menjadi bagian penting dalam mendukung peningkatan produktivitas sekaligus menjaga keberlanjutan budidayanya.

Hasil penelitian Hasmari Noer, Sri Sudewi, If’all dan Abdul Rahim Saleh memperlihatkan bahwa di balik tekanan insektisida pada lahan bawang merah, kehidupan mikroba masih berlangsung. Tiga mikroba yang mampu bertahan tersebut menjadi petunjuk penting bahwa agroekosistem merupakan sistem kehidupan yang kompleks dan membutuhkan pengelolaan secara seimbang.

Temuan ini diharapkan dapat memperkaya pengembangan ilmu pertanian, khususnya terkait interaksi antara tanaman, mikroorganisme, tanah dan penggunaan pestisida pada agroekosistem bawang merah lokal Palu. (TIM)

Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *