Dr. Arifuddin: Pancasila Harus Jadi Kompas Moral Generasi Muda
Palu-Wartakiat Ι PALU, Pancasila tidak cukup hanya dihafalkan, tetapi harus diwujudkan dalam cara berpikir, bersikap, dan bertindak dalam kehidupan sehari-hari. Hal tersebut disampaikan Dr. Arifuddin M. Arif, akademisi UIN Datokarama Palu saat menjadi narasumber Diklat Penguatan Pancasila dan Wawasan Kebangsaan yang diselenggarakan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Palu, Selasa (29/9).
Kegiatan yang berlangsung di Aula Bantaya Kantor Wali Kota Palu tersebut diikuti mahasiswa dan generasi muda.
Dalam materi bertajuk “Aktualisasi Nilai Pancasila dalam Kehidupan Berbangsa”, Direktur Arief Institute itu menjelaskan bahwa aktualisasi merupakan proses menjabarkan, menerapkan, dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam tindakan nyata.
Menurutnya, strategi aktualisasi Pancasila dapat dilakukan melalui dua bentuk, yakni aktualisasi objektif dan aktualisasi subjektif.
Aktualisasi objektif berkaitan dengan bagaimana nilai-nilai Pancasila diwujudkan dalam penyelenggaraan negara melalui hukum, kebijakan dan tata kelola pemerintahan. Sementara aktualisasi subjektif berkaitan dengan bagaimana nilai-nilai Pancasila diwujudkan dalam perilaku setiap warga negara dalam kehidupan sehari-hari.
“Pancasila bukan hanya hafalan lima sila, tapi bagaimana kita berpikir, merasa, dan bertindak setiap hari,” kata Arifuddin M. Arif, Direktur Arief Institute.
Dalam aktualisasi subjektif, lanjut Tim Ahli Survey Indeks Aktualisasi Nilai Pancasila (IAP) Kota Palu itu menilai, keTuhanan dapat diwujudkan melalui toleransi dan penghormatan terhadap keyakinan orang lain. Nilai kemanusiaan melalui kepedulian dan penghormatan terhadap martabat manusia. Nilai persatuan melalui upaya menjaga kebhinekaan. Nilai kerakyatan melalui musyawarah dan kebebasan berpendapat yang bertanggung jawab, serta nilai keadilan melalui sikap adil, gotong royong dan kepedulian sosial.
Dr. Arifuddin juga menyoroti tantangan aktualisasi Pancasila di tengah perkembangan teknologi dan media sosial. Generasi muda menghadapi berbagai persoalan seperti cyberbullying, body shaming, hate speech, polarisasi identitas, intoleransi dan diskriminasi.
Karena itu, Pancasila perlu menjadi filter sekaligus kompas moral bagi generasi muda dalam menggunakan teknologi dan berinteraksi di ruang digital.
Nilai Pancasila dapat menjadi pijakan untuk menghargai perbedaan, menghindari ujaran kebencian, menjaga persatuan, menyampaikan pendapat secara santun dan argumentatif, serta membangun kepedulian sosial.
Ia menekankan bahwa revitalisasi dan reaktualisasi Pancasila perlu dilakukan melalui pendekatan edukatif, keteladanan, dan tindakan nyata di lingkungan keluarga, sekolah, kampus, masyarakat maupun pemerintahan.
Pada kesempatan itu juga Dr. Arifuddin mengajak peserta memulai aktualisasi Pancasila dari tindakan sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
“Mulailah dari hal kecil! Pancasila butuh tindakan, bukan hanya tepuk tangan.”, ujar Arifuddin, akademisi UIN DK Palu.
Pesan tersebut menegaskan bahwa Pancasila tidak seharusnya berhenti sebagai pengetahuan atau hafalan, tetapi perlu hadir sebagai nilai yang hidup dalam perilaku warga negara, baik dalam kehidupan sosial maupun ruang digital.
TIM
