THE POWER TO LOVE

THE POWER  TO LOVE

Oleh : Kasman Jaya Saad

Pangkal keburukan kekuasaan negeri ini menurut Yudi Latif (Cendekiawan/Aktivis) karena orang lebih terobsesi cinta kekuasaan (The Love to Power) ketimbang kekuasaan untuk mencintai  (The Power to Love). Krisis kenegaraan di negeri ini terjadi karena jagad politik lebih didekap oleh orang-orang yang mencintai kekuasaan ketimbang kekuasaan untuk mencintai. Dalam krisis yang membutuhkan kekuasaan yang lebih bertanggung jawab pada kebaikan hidup bersama, para pemimpin justru lebih mencintai kekuasaan yang melayani kepentingannya sendiri.  Demi kekuasaan yang melayani diri sendiri itu, elit negeri tak segan menjerumuskan rakyat ke dalam kobaran api permusuhan antaridentitas yang membakar rumah kebangsaan menjadi puing-puing kesumat.

Tahun politik seperti ini, ditandai dengan akan adanya pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak, maka obsesi cinta kekuasaan begitu menguat. Pilkada bukan semata sebagai ajang perebutan kekuasaan, namun harus dimaknai sebagai bentuk kebebasan rakyat untuk menentukan nasib dan masa depan sendiri. Itu sebab, menumbukan kekuatan mencintai pada mereka yang akan berkontestasi dalam Pilkada penting untuk digelorakan. Kekuasaan untuk mencitai akan diraih bila diperoleh dengan cara yang baik dan benar, tidak dipenuhi kecurangan.

Kekuatan cinta memancarkan ketulusan mengabdi dan mengikhlaskan niat berbuat baik, bukan demi kekuasaan lantas meruntuhkan nilai kecintaan dengan melakukan tindakan yang tidak kredibel, menghalalkan segala cara, semisal politik uang. Dengan penggunaan politik uang, maka yang hadir dalam pilkada, bukanlah pilihan yang obyektif yang lahir dari kesadaran masyarakat tentang pemimpin daerahnya, namun lebih sebagai bentuk intimidasi yang soft kepada  masyarakat pemilih.  Itu sebabnya, kenapa praktik politik uang dilarang dalam pilkada, karena bukan saja sifatnya yang destruktif namun juga merusak moral bangsa.  Dan cinta tak berkenan hadir dalam perilaku destruktif, karena cinta memancarkan energi positif yang selalu menyemangati, memberi vibrasi yang menggelorakan sanubari dan pikiran untuk saling memotivasi, bukan saling mengitimidasi.

Memperhatikan berbagai perilaku para bakal calon peserta pilkada yang mengabaikan berbagai aturan yang telah ada dan cukup jelas, sebagaimana diatur dalam perundang-undangan dan peraturan KPU mengenai pilkada, membuat kita gerah. Bagaimana mungkin seorang pejabat (ASN)  tak mengerti aturan. Berbagi larangan tentu tidak dimaksudkan untuk membatasi hak politik ASN. ASN berhak ikut dalam politik pilihan.  ASN berhak memilih. Namun, demi keadilan, ASN yang ingin berkontestasi dalam pilkada harus mengundurkan diri.

Nafsu terhadap kekuasaan memang sering membutakan. The Love to Power (Cinta kekuasaan) begitu menderah ketimbang The Power to Love (kekuasaan untuk mencintai). Padahal Plato menyebut “Cinta  adalah nikmat kebaikan, indahnya kebijaksanaan dan buah keajaiban dari Tuhan”. Dan Dr. Karl Menninger seorang Psikiater asal Amerika Serikat menyatakan, “Cinta adalah solusi bagi banyak masalah di dunia.  Kekuatan cinta menancapkan ketulusan mengabdi meski tanpa jaminan popularitas dan imbalan kedudukan sekalipun”

Pilkada yang berkualitas butuh kesadaran dan ketulusan berupa energi cinta, yang memantik sense of belonging (rasa memiliki) untuk menyalami nilai-nilai kebersamaan untuk meraih kekuasaan untuk mencintai. Maka itu perlu diposisikan masyarakat pemilih agar mereka memahami posisinya sebagai pemilik kedaulatan di negeri ini. Pilkada sejatihnya menciptakan lahirnya spirit harapan dari kehidupan politik yang baik dan mencerdaskan serta membuka ruang bagi partisipasi rakyat dalam kehidupan politik formal.

Begitulah cinta, itu sebab sekecil apapun cinta  yang para bakal calon peserta pilkada miliki akan sangat bermakna bagi kemajuan demokrasi di daerah ini. Cinta adalah kehidupan. Dan bila anda kehilangan cinta, berarti anda kehilangan kehidupan ujar Leo Buscaglia. Selanjutnya John C.Maxwell menyebut “Tanpa cinta, tidak ada hubungan, tidak ada masa depan dan tidak ada kesuksesan bersama”. Tantangannya adalah bukan seberapa banyak para bakal calon itu berkontribusi bagi daerah ini, melainkan berapa banyak cinta yang mereka sampaikan saat berkontribusi bagi kemajuan daerah. Kesungguhan kontribusi dengan cinta itu, pasti akan menancapkan pengaruh bagi kesejahteraan masyarakat. Vibrasi cinta mengelorakan sanubari dan perilaku yang baik. Cinta dapat merubah ketakutan dan kekhwatiran menjadi spirit  dan motivasi yang positif. Kita mencintai bukan untuk dicintai. Kita mencintai untuk mencintai.

Akhirnya, The Power to Love adalah kekuasaan yang selalu menggenggam kekuasaan sebagai amanah, selalu mencintai sesama, kemampuan berempati, kemampuan  berkomunikasi secara transformasional (enak didengar)  dan memiliki sifat melayani. Dan kekuasaan untuk mencintai selalu menanamkan nilai-nilai kebaikan. Sebaik-baiknya kekuasaan adalah semakin lama berkuasa, makin banyak kebaikan yang ditanam, seburuk-buruknya kekuasaan adalah semakin lama berkuasa, makin banyak keburukan yang ditinggalkan.

 

Penulis : Dosen Universitas Alkhairaat Palu

Wartakiat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

shares