Pendidikan Berkelanjutan dan Pengembangan Karakter (Sekilas Catatan Tausiyah Ketua Utama Alkhairaat)

Pendidikan Berkelanjutan dan Pengembangan Karakter  (Sekilas Catatan Tausiyah Ketua Utama Alkhairaat)

Oleh: Ahmadan B. Lamuri

Tepat tanggal 12 Syawwal, abnaulkhairaat atau warga Sulawesi Tengah khususnya dan Indonesia bagian Timur umumnya secara rutin setiap tahun merayakan wafatnya pendiri Alkhairaat Habib Sayyid Idrus bin Salim Aljufri atau dikenal dengan panggilan “Guru Tua”. Tahun ini peringatannya sangat berbeda dengan tahun sebelumnya, pelaksanaannya nampak biasa saja, namun tetap penuh khidmat. Tidak meriah, mengingat Alkhairaat secara kelembagaan mendukung sepenuhnya upaya memutus mata rantai penyebaran covid-19.

Walaupun demikian, esensi haul Guru Tua tetap berjalan seperti biasanya. Diadakan pembacaan Yasin, Tahlil, serta doa bersama yang dilakukan oleh masing-masing abnaulkhairaat atau pengurus di rumah maupun daearah masing-masing. Begitu juga dengan Tausiyah Ketua Utama Alkhairaat Habib Sayyid Saggaf bin Muhamad Aljufri juga tetap dilaksanakan secara virtual. Banyak informasi penting dalam tausiahnya tersebut, tetapi tulisan ini hanya memetik penegasan sang Guru Mulia itu dimana kehadiran pendidikan perlu mendapat perhatian serius, apalagi pendidikan agama. Tulisan ini hanya mengetengahkan “Pendidikan Berkelanjutan dan Pengembangan Karakter” seperti disari dari sekian banyak tausiahnya tersebut.

Islam telah menuntun setiap muslim dan muslimah wajib menuntut ilmu. Kewajiban itu tidak lain adalah untuk kepentingan hidup manusia itu sendiri. Bahkan Islam menegaskan bahwa menuntut ilmu itu sejak dari ayunan hingga ke liang lahat. Prinsip ini telah diadopsi oleh UNESCO dengan bahasa “lifelong education” atau belajar sepanjang hayat. Berpikir nasib hidup yang lebih baik di masa depan itu sesungguhnya telah diajarkan Islam sejak awal kehadirannya. Bahkan Rasulullah pun mengingatkan jika hendak meraih hidup dunia akhirat yang lebih baik harusnya dengan belajar ilmu.

Mengapa Islam menekankan belajar sejak awal kehidupan manusia? Dalam kajian Tafsir Tematik terbitan Kementerian Agama dijelaskan minimal ada dua alasan sehingga perlunya belajar ilmu sejak awal, yaitu:

Pertama, penyerapan ilmu pengetahuan dan karakter terjadi sangat pesat di awal-awal kehidupan seorang anak hingga masa remaja. Ada pandangan yang mengatakan bahwa pada tingkat usia anak-anak, salah satu pendidikan yang paling tepat adalah “pendidikan nilai etis yang dikembangkan berdasarkan psikologi perkembangan moral kognitif anak”. Oleh sebab itu, sebagai upaya menjawab tuntutan ini, Perguruan Alkhairaat banyak mendirikan madrasah diniyah awwaliyah atau madrasah ibtidaiyah di berbagai daerah dan wilayahnya. Tujuannya adalah menanamkan aspek ketauhidan (mengenal Tuhan) dan mendidik karakternya. Anak usia demikian lebih banyak mencontoh atau mengikuti apa yang biasa disaksikannya. Penekanan materi pendidikan yang seperti ini menjadi basic keagamaan ketika memasuki masa remaja dan dewasa. Para ahli telah merancang bahwa materi-materi pokok yang perlu ditanamkan kepada anak usia 0 -12 tahun adalah: ketauhidan, adab, tanggung jawab, kepedulian, dan kemandirian.

Kedua, ilmu pengetahuan dan karakter diperlukan dalam keberlangsungan kehidupan. Artinya, hidup ini harus dijalani dengan ilmu dan akhlak. Kedua pilar ini di dapati melalui pendidikan baik formal, informal, maupun non formal. Untuk membekali manusia dengan ilmu dan akhlak, maka Guru Tua membangun madrasah yang hingga saat ini mencapai ribuan cabang. Tentu targetnya adalah manusia dapat terbentuk kepribadiannya berkat ilmu dan akhlak tersebut. Olehnya, aktivitas apapun yang digeluti seseorang sangat membutuhkan ilmu. Mengerjakan suatu pekerjaan tanpa ilmu bisa menimbulkan masalah di kemudian hari. Ilmu lah yang membedakan seseorang. Allah swt telah menyatakan dengan jelas bahwa antara mereka yang mengetahui dengan mereka yang tidak mengetahui sangat berbeda. Sebenarnya hanya orang yang berakal sehat yang dapat menerima pelajaran (al-Zumar: 9).

Walaupun demikian, dengan ilmu pengetahuan yang dimiliki seseorang belumlah cukup; masih membutuhkan karakter sekaligus. Karakter itu harus di bangun sejak dini, sebab manusia diciptakan Allah untuk beribadah dan menjadi khalifah di muka bumi ini yang selanjutnya akan memakmurkan bumi (khalifah & imarah). Menjadi khalifah dan imarah haruslah ditopang dengan ilmu pengetahuan demikian juga karakter. Khalifah dan imarah yang punya kapasitas ilmu pengetahuan dan karakter akan melahirkan sikap bijak dalam melaksanakan tugasnya. Guru Tua, sejak awal telah mengingatkan kepada manusia bahwa “dengan ilmu dan akhlak akan digapai apa yang dicita-citakan, jika manusia menginginkan ilmu pengetahuan, hendaknya jangan bersikap sombong”.

Pesan Ketua Utama pada haul Habib Idrus bin Salim al-jufrie ke 52 bahwa pendidikan agama itu penting, sebab dengan pendidikan itu akan membentuk karakter kepribadian seorang anak. Jadi pembangunan madrasah yang dilakukan oleh Habib Idrus yang sampai saat ini merupakan amanahnya untuk seluruh umat adalah bukti kecintaan al-Habib terhadap pembangunan manusia seutuhnya. Olehnya pesan Habib Saqqaf, semua kalangan masyarakat ikut bertanggung jawab menjaga kelangsungan hidup madrasah dimaksud. Pesan ini juga sejalan dengan apa yang telah dicontohkan oleh Luqman al-Hakim yang digambarkan Allah dalam surah Lukman ayat 13-19; yang intinya: jangan sekali-kali syirik kepada Allah; berbaktilah kepada kedua orang tua; banyak bersyukur kepada Allah; semua makhluk manusia akan kembali kepada Allah; biasakanlah mengikuti jejak orang-orang shaleh yang selalu taat kepada Allah; ingat sebesar apapun perbuatan yang dilakukan manusia semuanya akan diketahui oleh Allah bahkan yang tersembunyi sekalipun; saling mengajaklah dalam segala kebaikan dan melarang dalam segala kejahatan; jauhilah sikap sombong apalagi memalingkan dari orang lain; dan belajarlah untuk rendah diri serta bersikap sederhanalah dalam segala hal.

Seluruh informasi dan didikan Lukman Hakim kepada anaknya menjadi penekanan utama dalam proses pembelajaran di madrasah yang didirikan oleh sang Guru Tua. Oleh sebab itu, Habib Saqqaf menyampaikan sekiranya pendidikan agamanya bagus, maka akan menghindarkan seseorang dari korupsi atau perbuatan jahat lainnya. Pendidikan agama (khususnya Islam) merupakan pendidikan yang lebih banyak ditunjukkan kepada perbaikan sikap mental yang akan terwujud dalam amal perbuatan, baik bagi keperluan individunya, orang lain, maupun dalam kehidupan bernegara. Pembangunan infrastruktur lebih muda dibandingkan dengan membangun karakter manusianya. Sehingga pendidikan ini menjadi sesuatu yang sangat penting dan perlu mendapat perhatian.

Apa yang dititipkan Lukman Hakim untuk kita semua adalah mendidik anak sejak dini dengan ilmu dan karakter. Ilmu dan karakter inilah yang akan mengembangkan dirinya menghadapi segala macam tantangan yang akan menghadangnya di masa depan. Sebab nilai: kejujuran, ketabahan, istiqamah, kreativitas, dan kesederhanaan itulah menjadi jembatan menyelesaikan semua masalah.

Oleh sebab itu, pendidikan yang telah didirikan oleh Habib Idrus merupakan amanah yang perlu dipelihara, dikembangkan, dilanjutkan sebagai bagian dari upaya menjaga keberlangsungan basis pendidikan agama bagi manusia. Pendidikan berkelanjutan dan pengembangan karakter (akhlak) menjadi tugas bersama. Mempersiapkan generasi tangguh dan tafaqquh fi al-din merupakan pendidikan harapan al-Qur’an. Setiap muslim baik sebagai individu, komunitas, wajib mewujudkan generasi berkualitas dalam semua aspek kehidupannya. Inilah yang diingatkan Allah swt dalam al-Qur’an Surah al-Nisa ayat 9. Intinya jangan tinggalkan generasi yang lemah di kemudian hari. Artinya menjadi keharusan memberikan pendidikan sejak dini bagi generasi manusia.

Pakar pendidikan Athiyah Abrasyi menyatakan bahwa tidak diragukan lagi kalau aktivitas pendidikan dan pengajaran di dalamnya merupakan sesuatu yang sangat bermanfaat bagi manusia, dan oleh karenanya pendidikan menjadi kewajiban social masyarakat (wajib ijtima’i). Bagi umat Islam dalam hal pengelolaan pendidikan dimisalkan oleh al-Nahlawi sebagai pendidikan yang didasarkan pada prinsip yang menganggap masyarakat muslim sebagai entitas hidup yang satu. Urusan pendidikan termasuk urusan bersama. Menyiapkan generasi tangguh dan berkualitas menjadi misi bersama, sebab masyarakat yang aman, damai, sejahtera, dan sentosa hanya akan tercipta apabila masyarakatnya berilmu pengetahuan dan berkarakter sebagaimana telah ditegaskan oleh Habib Idrus dalam syairnya di atas.

Madrasah Alkhairaat telah berada di mana-mana, madrasah yang menanamkan ilmu pengetahuan dan membentuk karakter, seyogyanya menjadi perhatian untuk semua kalangan tanpa kecuali. Siapa yang memperhatikan dengan seksama perkembangan madrasah Alkhairaat berarti membuktikan cintanya kepada sang Pendiri Utama Habib Sayyid Idrus bin Salim Aljufri. Wallahul A’lam !

Penulis adalah  Wakil Rektor bidang Kemahasiswaan Unisa & Ketua BAZNAS Kota Palu

Ridwan Laki

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

shares