BERGANTINYA TAHUN ISYARAT ADANYA KESEMPATAN BERAMAL

BERGANTINYA TAHUN ISYARAT ADANYA KESEMPATAN BERAMAL

Oleh:  Dr. Ahmadan B. Lamuri, S.Ag.,M.H.I.

Pergantian tahun Miladiyah (Masehi) akan segera berlalu; dan tidak akan pernah kembali laksana air yang mengalir terus. Menjelang tahun baru berbagai kesibukan dilakukan manusia dalam rangka menyambutnya, walaupun tahun ini tidak semeriah tahun sebelumnya disebabkan oleh adanya pandemic covid-19. Tetapi semua prosesi penyambutan bukanlah yang esensi untuk di bawah menghadapinya. Melainkan datangnya sebagai peringatan keras dimana manusia yang masih hidup diberi kesempatan untuk menikmati melalui kegiatan beramal.

Pergantian tahun, selain mengandung nilai peringatan; juga sesungguhnya menitipkan pesan beragam pelajaran dan sekaligus menjadi bahan evaluasi diri untuk menuju pemanfaatannya yang lebih baik dan berguna dari tahun sebelumnya. Siapa di antara manusia yang tidak memperhatikan kehadirannya, dapat dipastikan akan mengalami kerugian. Merugi dalam hidup adalah kondisi yang sangat bertentangan dengan prinsip hidup manusia. Manusia selalu mempunyai angan-angan dan impian yang jauh lebih tinggi bahkan setinggi langit, padahal ketersediaan tenaga dan kemampuannya sangatlah terbatas. Karena impian yang demikian itulah kadang manusia terlena dan bahkan tidak mengetahui kalau waktu telah berlalu dengan cepat.

Kehadiran tahun baru; pada hakikatnya mengingatkan manusia kalau usianya telah mengalami pengurangan. Agar waktu yang baru tidak berlalu sia-sia, seyogyanya manusia harus membuat perencanaan (planning) yang matang. Perencanaan yang terbaik dari segala perencanaan ialah ikutilah petunjuk Rasulullah saw: “gunakanlah masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu; gunakanlah masa mudamu sebelum datang masa tuamu; gunakanlah masa sempatmu sebelum datang masa sempitmu; gunakanlah masa kayamu sebelum datang masa miskinmu, dan gunakanlah masa hidupmu sebelum datang masa matimu.”

Pernyataan tersebut memberi penekanan selagi nikmat hidup yang ditandai dengan masih bertemunya tahun baru, maka manfaatkanlah dengan penuh kesungguhan.  Memanfaatkan waktu sangat penting; sebab bila manusia telah ditimpa oleh lima hal: sakit, tua, sempit, miskin, dan mati; pertanyaannya masih adakah kesempatan (waktu) untuk beramal sesuai dengan hayalan dan angan-angan yang biasa ada dalam dirinya; itu merupakan sesuatu yang nista.

Masa sehat, muda, sempat, kaya, dan hidup; adalah hadiah waktu yang diberikan Allah kepada hamba-Nya untuk mempersiapkan dirinya menuju masa (waktu) yang tidak akan pernah berakhir lagi yaitu di hari kemudian nanti. Kehadiran waktu memiliki tujuan yang dibahasakan oleh al-Qur’an: pertama, menjadi tanda atau rambu-rambu untuk ukuran melaksanakan aktifitasnya; kedua, pergantian siang dan malam silih berganti adalah untuk memberi kesempatan bagi manusia mengambil pelajaran; ketiga, sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah atas nikmat-Nya (QS. Al-Furqan: 62). Jadi memperingati tahun baru bukan dalam bentuk serimonial yang hanya mengikuti bujukan syaithan atau hawa nafsu belaka, tetapi hendaknya diarahkan pada kegiatan yang menunjukkan ungkapan rasa syukur.

Tujuan di atas menekankan agar seluruh aktifitas manusia yang terdahulu (masa lalunya) harus selalu diingat dengan harapan menjadi bahan introspeksi dan evaluasi diri agar melahirkan kesadaran, sehingga diharapkan ke depan lahirnya perbaikan sekaligus peningkatan mutu amalan yang signifikan. Salah satu pesan amalan kaitannya dengan pemanfaatan waktu adalah: tingkatkan kualitas iman, amal shaleh, tolong menolong kepada kebaikan dan ketaqwaan, serta saling menegur untuk tidak terjebak dalam kemungkaran atau kemaksiatan. Kesadaran akan nikmat Allah pun mendorongnya dengan mencoba menggunakan segala potensi yang telah dianugerahkan Allah kepadanya sebagaimana tujuan nikmat itu. Sikap ini menunjukkan adanya kerja keras dan sungguh-sungguh.

Upaya pemanfaatan waktu sebagaimana diuraikan di atas seyogyanya dilandasi dan ditujukan semata-mata sebagai sebuah ‘pengabdian kepada Allah”, seperti pernyataan Allah “aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku”. Setiap orang yang beramal akan mendapatkan ujrah (upah) atau balasannya. Allah menyatakan “sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki maupun perempuan (QS. Ali Imran: 195).

Masuknya tahun baru, menunjukkan masih adanya waktu untuk berbuat. Itu artinya waktu yang bersama manusia harus dipahami sebagai usaha mempersiapkan diri menghadapi masa yang ada. Oleh karena itu, persiapan yang paling terbaik untuk mengisi kesempatan mendapatkan tahun baru adalah mengenang dan amalkan sebuah peringatan Allah dalam al-Qur’an: “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat) dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Jadi persiapan yang paling terbaik dari makna ayat di atas, yakni selalu melakukan “pekerjaan yang berorientasi masa depan”, masa depan dimaksud di mulai pada setiap hari yang akan dilaluinya sampai ajal menjemputnya. Finalisasi seluruh aktifitas manusia hendaknya tertuju pada kesuksesan meraih penghargaan Allah swt di hari akhirat. Sebab di sanalah manusia akan di kumpulkan sekaligus untuk dimintai pertanggung jawabannya terkait seluruh rangkaian amalannya di muka bumi.

Datangnya tahun baru, jadikan ia (waktu) moment yang paling tepat untuk berbuat sebanyak-banyaknya dan yang terbaik. Sekali lagi karena kehadirannya sangat super penting, maka pemanfaatannya pun harus efisien dan efektif, sehingga melahirkan produktifitas kinerja yang tinggi dan berkualitas. Implikasinya hidup manusia menjadi bermutu, dan balasan pahala dari Allah swt pun akan berlipat ganda. Oleh karena itu, tidak ada alasan untuk menghindar dari kemajuan dan kehadiran waktu melalui pergantian tahun, melainkan menjadi I’tibar bagi setiap orang yang ingin meraih keberhasilan masa depan yang abadi dan kekal. Apalagi kondisi saat ini pandemic covid-19 menjadi ancaman setiap orang, maka berjalan dan bekerja dituntut adanya perhitungan yang akurat dan memberi harapan.

Renungkanlah pernyataan Allah “dunia ini adalah panggung sandiwara, tempat yang di dalamnya penuh dengan berbagai aneka hiasan yang bisa mempesonakan manusia bila tidak diperhatikan”; maka kehadirannya bagi manusia akan menjadi jebakan atas sandiwaranya, yang akhirnya hanya akan melahirkan penyesalan belaka. Agar tidak lahir penyesalan tak berujung, buatlah inovasi lebih baik dari tahun sebelumnya demi meraih sukses masa depan dunia akhirat. Wallahul ‘Alam !. 

*Penulis adalah Wakil Rektor bidang Kemahasiswaan Universitas Alkhairaat/Ketua Baznas Kota Palu

 

Ridwan Laki

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

shares