Sastra Anak Kaili: Warisan Kearifan Lokal yang Terpinggirkan
Oleh: Sri Sudaryati, S.Pd., M.Pd*
Ditengah gempuran literatur anak modern yang seragam dan cenderung kebarat-baratan, sastra daerah, khususnya sastra anak Kaili dari Sulawesi Tengah, seringkali terpinggirkan. Padahal, cerita rakyat, dongeng, dan ungkapan lisan Kaili bukan hanya sekadar hiburan, melainkan wadah nilai luhur yang mendalam. Sastra anak Kaili adalah “akar” yang menghubungkan generasi muda dengan kearifan lokal. Opini ini menegaskan bahwa menghidupkan kembali sastra anak Kaili adalah sebuah keharusan untuk membentuk karakter yang berakar pada budaya, namun tetap berwawasan global.
Cerita-cerita seperti Santempa Anak Pemberani atau dongeng yang bersumber dari tradisi lisan etnik Kaili, pada dasarnya memuat kearifan lokal (local genius) yang tinggi. Cerita-cerita ini tidak hanya didesain untuk menghibur, tetapi memiliki fungsi mendidik (edukatif) yang sangat kuat, menanamkan nilai kejujuran, kerja keras, dan penghormatan terhadap alam serta sesama.
Sastra anak Kaili (Sulteng), baik dalam bentuk dongeng (tutura), pantun (vaino), maupun ungkapan tradisi lisan, sesungguhnya adalah harta karun budaya yang tak ternilai. Ia bukan sekadar cerita pengantar tidur, melainkan media efektif untuk menanamkan karakter, etika, dan kearifan lokal. Salah satu aspek terpenting dari sastra anak Kaili adalah perannya dalam membentuk etika. Dalam kebudayaan Kaili, terdapat konsep yang sering diajarkan sejak dini, seperti tabe (sopan santun), nosimpotove (hidup rukun), dan nakapali (peduli sesama).
Namun, tantangan terbesar saat ini adalah minimnya bahan bacaan sastra Kaili yang dikemas secara modern dan menarik bagi anak-anak zaman sekarang. Sastra lisan cenderung dilupakan seiring berkurangnya penutur cerita. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk mengalihwahanakan sastra lisan Kaili menjadi buku cerita bergambar, komik, atau audio visual yang relevan. Penelitian menunjukkan bahwa cerita rakyat berbasis kearifan lokal Kaili terbukti efektif dalam menanamkan nilai-nilai karakter pada anak usia dini.
Berikut beberapa poin-poin opini saya mengenai hal ini:
- Degradasi Penggunaan Bahasa Daerah: tantangan terbesar sastra anak Kaili adalah memudarnya penggunaan bahasa daerah itu sendiri. Banyak generasi muda Kaili, khususnya di perkotaan seperti Palu, tidak lagi menggunakan bahasa Kaili sebagai bahasa ibu, sehingga sastra anak Kaili kehilangan relevansi fungsionalnya dalam kehidupan sehari-hari.
- Kurang Diminati Akibat Arus Modernisasi: Sastra anak Kaili kini dianggap kurang menarik dibandingkan dengan bacaan sastra luar negeri atau konten digital. Akibatnya, kekayaan cerita rakyat seperti Santempa Ananabiaatau kisah-kisah Tadulako mulai dilupakan oleh anak-anak.
- Peran Vital Keluarga yang Melemah: Pelestarian sastra anak Kaili seharusnya dimulai dari rumah. Namun, pola komunikasi keluarga saat ini jarang menggunakan bahasa daerah, yang berakibat pada terputusnya rantai pewarisan nilai budaya.
- Apresiasi Positif pada Upaya Revitalisasi: Meskipun kondisinya memprihatinkan, upaya Balai Bahasa Sulawesi Tengah dan beberapa pihak lain dalam membukukan kembali tradisi lisan dan mengadakan Festival Tunas Bahasa Ibu(lomba mendongeng, puisi, dll) patut diapresiasi. Ini adalah langkah militan untuk mendekatkan kembali bahasa Kaili dengan generasi muda.
Berdasarkan beberapa hal tersebut sehingga banyak yang pesimis bahwa sastra anak Kaili kini berada di persimpangan jalan antara kepunahan dan revitalisasi. Agar tidak hilang ditelan zaman, sastra anak Kaili perlu dikemas secara kreatif, misalnya dalam bentuk buku cerita bergambar modern, audio digital, atau film animasi pendek, agar lebih dekat dengan dunia anak-anak masa kini. Pelestarian ini bukan hanya untuk mempertahankan bahasa, tetapi menyelamatkan identitas dan karakter mulia masyarakat Kaili.
Penulis adalah: Dosen Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNISA*
