Akar Tunggang Peradaban dan Marwah Kemandirian Bangsa: Menjaga Marwah Alkhairaat dan Kemandirian MDA

Akar Tunggang Peradaban dan Marwah Kemandirian Bangsa: Menjaga Marwah Alkhairaat dan Kemandirian MDA

Oleh: Dr. Ibrahim Ismail, S.Ag., M.H.I*

Di wilayah Sulawesi Tengah, Gorontalo, Sulawesi Utara, Maluku, hingga pelosok Kalimantan, nama Habib Idrus bin Salim Al-Jufri atau yang akrab disapa Guru Tua, adalah simbol cahaya keilmuan yang tak pernah padam. Sejak mendirikan Alkhairaat pada tahun 1930 di Palu, beliau tidak hanya membangun gedung sekolah, melainkan meletakkan sebuah fondasi peradaban melalui Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah (MDA).

MDA sebagai embrio peradaban bagi Guru Tua, MDA bukanlah sekadar pendidikan “pelengkap” sore hari. Ia adalah akar tunggang dari rahim MDA, inilah lahir embrio-embrio lembaga pendidikan yang lebih besar, mulai dari tingkat dasar (MI), menengah (MTS/MA), hingga Perguruan Tinggi yang kini tersebar diribuan titik dikawasan Timur Indonesia.

Sebagai keturunan suci Nabi Muhammad SAW, Guru Tua mewariskan semangat dakwah yang berbasis pada kemandirian masyarakat. Alkhairaat tumbuh besar bukan karena instruksi kekuasaan, melainkan karena kecintaan umat (mahabbah) dan keyakinan agama yang kuat. Inilah yang kita sebut sebagai Marwah Warisan Ulama, sebuah sistem pendidikan yang hidup dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk bangsa.

Yayasan sebagai Jembatan Strategis,  namun dinamika zaman menuntut adaptasi tanpa kehilangan jati diri. Yayasan-yayasan di bawah naungan Alkhairaat hari ini memikul tanggung jawab besar sebagai motor penggerak utama. Pengurus yayasan harus mampu memposisikan diri secara profesional sebagai jembatan strategis antara masyarakat dan negara.

Yayasan harus proaktif mengidentifikasi kekurangan dan mengembangkan potensi di lapangan, lalu mengkomunikasikannya kepada instrumen negara. Kelembagaan yayasan harus kuat agar mampu menjadi wadah yang akuntabel dalam menjemput peran negara untuk kemaslahatan umat manusia.

Negara sebagai “Pupuk dan Pagar” kehadiran negara di tengah MDA seringkali dipandang dengan keraguan  agar tidak dianggap “setengah hati”, negara harus hadir dalam fungsi pemberdayaan, bukan semata-mata memberi bantuan yang menciptakan ketergantungan.

  1. Negara sebagai Pupuk: Negara hadir memberikan nutrisi berupa peningkatan kapasitas guru, fasilitasi teknologi, dan pendampingan tata kelola. Tujuannya agar yayasan semakin kuat “ototnya” untuk mengurus diri sendiri. Ini adalah bentuk apresiasi negara atas kontribusi Alkhairaat yang telah mencerdaskan bangsa jauh sebelum kemerdekaan diproklamirkan.
  2. Negara sebagai Pagar: Negara hadir melindungi eksistensi MDA dari kebijakan yang tumpang tindih. Ijazah MDA harus diberi rekognisi formal sebagai bentuk penghormatan terhadap standar keilmuan yang telah menjaga hampir satu abad.

Guru Tua dalam untaian syairnya pernah berpesan: “Fata’allamuu fali kulli ‘abdin munsyidun, wa bi’ilmihi ya’luu azizun faadhilun” (Maka belajarlah! Karena setiap hamba itu punya cita-cita, dan dengan ilmunya seseorang akan menjadi mulia dan utama).

Beliau juga menegaskan: “Alkhairaat ka-ismihaa, lilkhairi kulla banna-in” (Alkhairaat itu sesuai dengan namanya, ia berdiri untuk segala bentuk kebajikan bagi setiap pembangun generasi).

Pesan ini merupakan mandat spiritual bagi para pengurus dan pewaris amanah Alkhairaat. Menjaga MDA adalah cara kita menjaga marwah Guru Tua. Kita tidak ingin MDA melempem karena terlalu bergantung pada bantuan materiil negara yang fluktuatif. Kita ingin MDA tetap tegak dengan kemandirian masyarakatnya, sementara negara berdiri dibelakang sebagai pendukung yang kokoh.

Menjaga kemandirian MDA berarti menjaga martabat umat. Saatnya kita melihat MDA bukan sebagai beban administrasi, melainkan sebagai pilar utama penjaga stabilitas nasional dan moralitas bangsa. Mari kita kembalikan Alkhairaat pada hakikatnya adalah sebuah jembatan cahaya bagi kemajuan umat manusia dan kedaulatan bangsa Indonesia.

Penulis adalah: Abnaul Khairaat/Asyabaalul Khairaat tinggal di Kabupaten Poso*

 

 

Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *