Menenun Keberagaman di Bumi “Tepe Asa Aroa”: Derap Semangat Menjelang Haul Perdana Pendiri Alkhairaat di Morowali Utara

Menenun Keberagaman di Bumi “Tepe Asa Aroa”: Derap Semangat Menjelang Haul Perdana Pendiri Alkhairaat di Morowali Utara

Oleh: Dr. Ibrahim Ismail, S. Ag., M. HI *

Kabupaten Morowali Utara (Morut) bukan sekadar hamparan tanah dengan kekayaan nikel yang melimpah atau keindahan Teluk Tomori yang memukau. Ia adalah sebuah mozaik kemajemukan, tempat di mana falsafah “Tepe Asa Aroa” (Bersatu Hati) menjadi napas dalam keseharian masyarakatnya. Di tengah dinamika pembangunan yang pesat, sebuah helatan mulia kini tengah dipersiapkan: Haul perdana pendiri Alkhairaat, Guru Tua (Habib Idrus bin Salim Al-Jufri) Ke-58.

Pelaksanaan Haul perdana ini bukan sekadar seremoni keagamaan, melainkan sebuah peristiwa sejarah yang menandai kokohnya fondasi pendidikan dan dakwah di tanah Morowali Utara.

Sosok Sentral dan Gagasan Besar

Gagasan untuk menggelar Haul di Morut tidak lahir begitu saja. Ada peran penting dari para Abnaul Khairaat, tokoh agama setempat, serta pemerintah daerah yang menyadari bahwa nilai-nilai yang dibawa oleh Guru Tua sangat relevan dengan visi pembangunan manusia di Morut.

Sosok Guru Tua adalah simbol moderasi. Beliau membangun Alkhairaat dengan prinsip bahwa pendidikan adalah kunci kemerdekaan jiwa. Menghadirkan Haul di Morowali Utara berarti menghadirkan kembali semangat perjuangan beliau dalam menyatukan umat tanpa memandang perbedaan latar belakang.

Para penggerak dibalik layar, tampak kolaboratif penuh antusias baik dari jajaran pengurus Komisariat Daerah (Komda) Alkhairaat, Pemerintah Daerah (FORKOPIMDA) maupun para simpatisan, telah bekerja keras menjadikan agenda ini sebagai momentum konsolidasi batin bagi seluruh warga Morut. Tentu saja tak lepas dari sosok muda enerjik, visioner, sang inisiator yaitu Kepala Kantor Kementrian Agama Morowali Utara, Hasyim Al Idrus, M.HI. dan seluruh jajarannya berperan aktif dalam mempersiapkan diri sebagai tuan rumah, menyambut tamu GURU TUA bil khusus zurriyah Guru Tua yang akan hadir dari berbagai wilayah, daerah bahkan diperkirakan tamu dari luar provinsi.

Relevansi di Tengah Kemajemukan dan Potensi Alam

Mengapa Haul ini menjadi sangat krusial bagi Morowali Utara saat ini?

  1. Perekat Sosial di Tengah Heterogenitas: Morut adalah miniatur Indonesia. Dengan kehadiran berbagai etnis dan agama, pesan Guru Tua tentang persaudaraan (ukhuwah) menjadi oase. Haul ini adalah ruang di mana nilai-nilai spiritual bertemu dengan semangat toleransi, memperkuat ketahanan sosial masyarakat.
  2. Keseimbangan antara Material dan Spiritual: Di tengah masifnya pengelolaan potensi alam (pertambangan dan agraris), manusia Morut memerlukan kompas moral. Ajaran Alkhairaat menekankan bahwa kekayaan alam harus dikelola oleh tangan-tangan yang memiliki integritas dan kedalaman ilmu.
  3. Wisata Religi dan Identitas Daerah: Sebagai pelaksanaan yang perdana, Haul ini berpotensi menjadi ikon baru wisata religi di Morowali Utara, yang menarik ribuan jamaah dan menggerakkan ekonomi lokal, sekaligus mempertegas identitas Morut sebagai daerah yang religius namun terbuka.

Penutup: Sebuah Ikhtiar Mulia

Melalui Haul Guru Tua Ke-58, Perdana di Kabupaten Morowali Utara ini, kita diajak untuk menoleh sejenak ke belakang, mengambil api semangat dari sang Muassis (pendiri), dalam bingkai “Tepe Asa Aroa” untuk kemudian melangkah maju membangun Morowali Utara.

Keberhasilan acara ini nantinya bukan hanya diukur dari banyaknya jumlah undangan yang hadir, melainkan dari seberapa dalam nilai-nilai kejujuran, kasih sayang, moderasi dan semangat belajar—yang merupakan warisan Guru Tua—mampu terpatri di hati masyarakat Tepe Asa Aroa.

Selamat menyongsong perhelatan mulia ini. Semoga cahaya Alkhairaat terus bersinar, menjaga harmoni di atas bumi Morowali Utara yang kaya dan mulia.

Penulis adalah Pimpinan BAT Poso*.

 

 

 

Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *