Dari Ekspresi Menuju Harapan: Marsiadapari Tandihat 2026 Dampingi Anak Pascabencana Melalui Seni, Permainan, dan Pohon Harapan

Dari Ekspresi Menuju Harapan:  Marsiadapari Tandihat 2026 Dampingi Anak Pascabencana Melalui Seni, Permainan, dan Pohon Harapan

Tapanuli Selatan-Wartakiat Ι Tawa, warna, dan cerita memenuhi ruang kelas SDN 100207 Tandihat, Kecamatan Angkola Selatan, Kabupaten Tapanuli Selatan. Di tengah situasi pascabencana yang masih dihadapi masyarakat, anak-anak diajak kembali bermain, bercerita, mengenali perasaan, dan menuliskan harapan melalui rangkaian kegiatan pendampingan psikososial Marsiadapari Tandihat 2026. Kamis, (24/9).

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Program UI Peduli di bawah koordinasi Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Inovasi Sosial Universitas Indonesia (DPIS UI) dan Ikatan Alumni Universitas Indonesia (Iluni UI). Tim UI juga berkolaborasi dengan Universitas Aufa Royhan (UNAR) serta multipihak lainnya yang terlibat pengabdian kepada masyarakat. Program ini dirancang untuk menghadirkan pendampingan yang suportif, edukatif, kreatif, dan berpusat pada anak sebagai bagian dari proses pemulihan psikososial pascabencana.

Tim Marsiadapari Tandihat 2026 dipimpin oleh Assoc.Prof.Dr. Hendra Kaprisma, Dosen Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI), dengan melibatkan 14 mahasiswa Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI), 2 alumni UI dari FIB UI dan FIK UI, serta 10 mahasiswa Universitas Aufa Royhan (UNAR). Tim lintas perguruan tinggi ini hadir di Huntara Tandihat dengan pendekatan kolaboratif melalui kegiatan literasi pendidikan, pendampingan psikososial, layanan kesehatan, dan bakti sosial bagi masyarakat di wilayah terdampak. Tim juga diperkuat oleh dosen-dosen FIK UI, yaitu Ns. La Ode Abdul Rahman, Ns. Indah Permata Sari, dan Ns. Astuti.

Kolaborasi tersebut menjadi kekuatan penting dalam menghadirkan pendekatan yang memadukan pendidikan, kesehatan, psikososial, dan konteks sosial-budaya masyarakat. Dengan demikian, program tidak hanya berfokus pada aktivitas anak, tetapi juga memperhatikan lingkungan yang mendukung proses pemulihan.

Kegiatan di SDN 100207 Tandihat diawali dengan apel pagi yang dipimpin Kepala Sekolah, Desnita Simatupang. Melalui apel tersebut, seluruh siswa diarahkan untuk mengikuti rangkaian kegiatan sekaligus didampingi para guru selama program berlangsung. Setelah apel pagi, siswa dibagi menjadi dua kelompok berdasarkan tahap perkembangan mereka. Kelompok lower class terdiri atas siswa kelas 1–3 dengan jumlah 24 siswa, sedangkan upper class terdiri atas siswa kelas 4–6 dengan jumlah 23 siswa. Pembagian ini memungkinkan kegiatan disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan masing-masing kelompok usia.

Suasana kemudian dibangun melalui sapaan hangat, doa yang dipimpin salah satu siswa, perkenalan pengajar, tepuk semangat, dan percakapan ringan. Bagi tim Marsiadapari, menciptakan rasa nyaman menjadi langkah awal sebelum anak diajak masuk ke kegiatan yang lebih reflektif. Setelah suasana kelas terbentuk, siswa mengikuti skrining awal kondisi psikososial, termasuk pengalaman dan respons yang mereka rasakan setelah bencana, dengan pendampingan fasilitator. Fasilitator membantu menjelaskan instruksi tanpa mengarahkan jawaban, sementara setiap pengajar atau fasilitator mendampingi sekitar tiga hingga empat siswa.

Hasil skrining tersebut menjadi gambaran awal bagi tim untuk memahami kondisi peserta dan menentukan bentuk pendampingan berikutnya. Setelah proses tersebut, anak-anak diajak melakukan butterfly hug dan afirmasi positif sebagai aktivitas sederhana untuk membantu mereka menenangkan diri dan mengenali kondisi emosionalnya.

Dari Ekspresi Menuju Harapan: Ketika Anak Diajak Kembali Bermimpi

Rangkaian kegiatan kemudian berlanjut melalui sesi “Kenali Ekspresi”, ketika anak-anak diajak mengenali berbagai perasaan dasar, seperti senang, sedih, marah, dan cemas. Melalui aktivitas sederhana dan menyenangkan, mereka belajar menghubungkan perasaan dengan pengalaman sehari-hari, mengenali perubahan ekspresi wajah, dan mempraktikkannya bersama teman.

Setelah itu, anak-anak mengikuti sesi “Ekspresi Kreatif” dengan aktivitas yang disesuaikan untuk masing-masing kelompok. Siswa lower class menuangkan perasaan melalui buku gambar bertema “Hal yang Membuat Aku Bahagia”, sementara siswa upper class mengekspresikan diri melalui kegiatan melukis tote bag bertajuk “Ceria Warna”.

Karya yang dihasilkan bukan sekadar hasil aktivitas seni. Bagi tim Marsiadapari, karya tersebut menjadi salah satu cara anak berkomunikasi dan menyampaikan pengalaman ataupun perasaannya. Anak-anak yang bersedia kemudian diberi kesempatan untuk menceritakan karya mereka di depan kelas. Setiap cerita mendapatkan apresiasi dan afirmasi positif dari pengajar dan fasilitator. Bagi anak yang masih malu, fasilitator membantu menyampaikan cerita di balik gambar atau karya mereka.

Setelah mengekspresikan perasaan melalui warna dan gambar, anak-anak diajak membuat “Pohon Harapan”. Mereka menuliskan atau menggambarkan harapan masing-masing pada lembar berbentuk daun, kemudian menempelkannya pada pohon yang telah disiapkan bersama. Satu demi satu daun harapan memenuhi pohon tersebut. Aktivitas ini menjadi ruang bagi anak untuk kembali membicarakan masa depan dan menyampaikan apa yang ingin mereka capai atau rasakan setelah melalui pengalaman sulit.

Dua siswa menempelkan daun berisi harapan mereka pada “Pohon Harapan.”

Sebelum kegiatan berakhir, anak-anak, pengajar, dan fasilitator bermain “Ular Naga” bersama. Permainan tradisional tersebut menghadirkan suasana ceria sekaligus memperkuat interaksi dan kebersamaan antara anak dan pendamping. Kegiatan kemudian ditutup dengan lagu “Sayonara”, doa, dan foto bersama. Bagi anak-anak Tandihat, rangkaian kegiatan tersebut memberikan ruang untuk bermain, menggambar, bercerita, tertawa, dan menuliskan harapan mereka sendiri.

Pemulihan Harus Memberikan Ruang bagi Anak untuk Tumbuh

Direktur DPIS UI, Dr. L.G. Saraswati Putri, mengatakan bahwa kehadiran UI melalui Marsiadapari Tandihat merupakan bagian dari komitmen perguruan tinggi untuk hadir bersama masyarakat dalam proses pemulihan pascabencana.

“Pemulihan pascabencana bukan hanya tentang membangun kembali apa yang rusak secara fisik. Ada proses yang sama pentingnya, yaitu membantu masyarakat, terutama anak-anak, mendapatkan kembali rasa aman, ruang untuk berekspresi, semangat belajar, dan keberanian untuk menatap masa depan.”

Kekuatan program terletak pada kolaborasi berbagai pihak. Melalui Marsiadapari Tandihat, Universitas Indonesia berupaya menghadirkan ilmu pengetahuan secara lebih dekat dan manusiawi. Kolaborasi antara UI, Iluni UI, UNAR, pemerintah, sekolah, masyarakat, dosen, mahasiswa, dan alumni menunjukkan bahwa pemulihan adalah kerja bersama.

Sementara itu, Ketua Tim Pengmas UI, Assoc.Prof.Dr. Hendra Kaprisma, menjelaskan bahwa pendekatan Marsiadapari dirancang untuk menghadirkan ruang pemulihan yang dekat dengan dunia anak.

“Anak-anak memiliki cara sendiri dalam merespons pengalaman yang mereka alami. Oleh karena itu, kami tidak ingin datang hanya untuk memberikan materi. Kami ingin menciptakan ruang yang memungkinkan mereka bermain, menggambar, bercerita, tertawa, dan mengekspresikan perasaannya dengan cara yang mereka pahami.”

Penggunaan seni, permainan, dan Pohon Harapan menjadi bagian dari pendekatan yang lebih ramah anak. Gambar yang dibuat anak, cerita yang mereka sampaikan, bahkan harapan yang mereka tuliskan di Pohon Harapan merupakan bentuk komunikasi. Di situlah Tim Pengmas UI belajar mendengarkan mereka. Dengan demikian, Marsiadapari berarti hadir bersama, bukan datang untuk menggurui.

Keterlibatan mahasiswa juga menjadi bagian penting dari program. Koordinator Mahasiswa untuk Keuangan, Najiah Sahda Fatih, mengatakan bahwa pengalaman terlibat dalam Marsiadapari Tandihat memberikan pembelajaran yang tidak diperoleh hanya dari ruang kelas.

“Kami datang ke Tandihat bukan hanya membawa program, tetapi juga membawa semangat untuk belajar bersama masyarakat. Apa yang kami lihat dan alami di sini membuat kami memahami bahwa pengabdian bukan hanya tentang memberikan sesuatu kepada masyarakat, tetapi juga tentang mendengarkan, memahami kebutuhan mereka, dan bekerja bersama.”

Keterlibatan mahasiswa menjadi kesempatan untuk menerjemahkan kepedulian ke dalam tindakan nyata. Tim Marsiadapari Tandihat 2026 berharap bahwa seluruh rangkaian dapat berjalan dengan baik dan memberikan pengalaman positif bagi anak-anak ataupun masyarakat. Hal ini adalah kesempatan penting bagi civitas akademik untuk mengubah kepedulian menjadi aksi nyata.

Marsiadapari Tandihat 2026 tidak berhenti pada satu hari kegiatan di ruang kelas. Program ini merupakan bagian dari rangkaian pendampingan yang mencakup literasi pendidikan, pendampingan psikososial, layanan kesehatan, dan bakti sosial bagi masyarakat di kawasan Huntara Tandihat. Kehadiran tim lintas perguruan tinggi tersebut mempertemukan UI, UNAR, dosen, mahasiswa, alumni, sekolah, tenaga kesehatan, pemerintah desa, dan masyarakat dalam satu ruang kolaborasi.

Pada akhirnya, sebuah gambar mungkin tampak sederhana. Sebuah permainan mungkin terlihat biasa. Sebuah daun yang ditempelkan pada pohon mungkin hanya berupa kertas. Namun, ketika semua itu menjadi ruang bagi seorang anak untuk mengatakan “ini yang saya rasakan” dan “ini yang saya harapkan”, di situlah proses pemulihan menemukan maknanya.

TIM

 

Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *