Sehat, Kuat, dan Bangkit; Marsiadapari Tandihat UI Dampingi Warga Huntara Pascabencana
Tapanuli Selatan-Wartakiat Ι Pemulihan pascabencana tidak hanya membutuhkan perhatian terhadap kondisi fisik, tetapi juga kesehatan psikologis dan kebutuhan sehari-hari masyarakat. Semangat tersebut menjadi bagian dari rangkaian Marsiadapari Tandihat 2026 ketika warga Hunian Sementara (Huntara) Tandihat mengikuti edukasi kesehatan, skrining psikososial, pemeriksaan kesehatan, hingga bakti sosial pada Jumat (25/9/2026).
Kegiatan ini merupakan bagian dari Program UI Peduli di bawah koordinasi Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Inovasi Sosial Universitas Indonesia (DPIS UI), bekerja sama dengan Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI UI) dan Universitas Aufa Royhan (UNAR). Melalui pendekatan kolaboratif, Tim Marsiadapari Tandihat 2026 berupaya menghadirkan pendampingan yang menyentuh berbagai aspek kehidupan masyarakat, mulai dari kesehatan fisik dan psikologis hingga dukungan terhadap kebutuhan dasar dan lingkungan belajar anak.
Rangkaian kegiatan diawali dengan edukasi kesehatan yang mengangkat isu yang dekat dengan pengalaman masyarakat pascabencana, yaitu Psychological First Aid (PFA), penyakit degeneratif, dan kesehatan psikologis pascatrauma. Materi PFA disampaikan oleh Ns. Fadly Rasyid, S.Kep., yang mengajak warga mengenali respons emosional setelah menghadapi situasi sulit serta memahami bentuk dukungan psikologis awal yang dapat diberikan kepada diri sendiri ataupun orang di sekitar.
Edukasi kemudian dilanjutkan dengan materi mengenai penyakit degeneratif yang disampaikan oleh Ibu Erna Divilu dari Puskesmas. Penyampaian materi menggunakan bahasa Batak Mandailing agar lebih mudah dipahami masyarakat, terutama para lansia. Edukasi tersebut membantu warga mengenali berbagai faktor risiko dan pentingnya menjaga kesehatan dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam situasi pascabencana yang dapat mengubah pola hidup dan kesejahteraan masyarakat.
Selain mendapatkan edukasi, warga juga mengikuti skrining gejala Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD). Skrining ini menjadi salah satu upaya untuk mengenali gejala psikologis yang mungkin muncul setelah pengalaman bencana. Proses tersebut sekaligus memberikan ruang bagi warga untuk berbagi dan merasa didengar dalam menghadapi perubahan kehidupan setelah bencana.
“Marsiadapari Tandihat kami rancang bukan hanya sebagai kegiatan pemeriksaan kesehatan, tetapi sebagai ruang untuk mendengarkan dan memahami masyarakat. Dalam situasi pascabencana, kesehatan fisik dan psikologis tidak dapat dipisahkan. Karena itu, kami berupaya menghadirkan edukasi, skrining, pemeriksaan, dan pendampingan dalam satu rangkaian yang saling melengkapi.” ucap Assoc. Prof. Dr. Hendra Kaprisma, Ketua Tim Pengmas UI.
Mengenali Kondisi Kesehatan dari Hal-Hal Sederhana
Setelah edukasi dan skrining, warga melanjutkan pemeriksaan kesehatan melalui beberapa pos. Pada pos pertama dilakukan anamnesis serta pengukuran tinggi badan, berat badan, dan lingkar perut untuk memperoleh gambaran awal kondisi kesehatan sekaligus mengenali faktor risiko yang perlu diperhatikan.
Pemeriksaan dilanjutkan di pos berikutnya dengan pengukuran tekanan darah serta pemeriksaan gula darah, kolesterol, dan asam urat. Hasil pemeriksaan tidak hanya disampaikan dalam bentuk angka, tetapi juga disertai penjelasan mengenai makna hasil tersebut dan langkah sederhana yang dapat dilakukan warga untuk menjaga kesehatan. Leaflet turut diberikan sebagai media informasi yang dapat dibawa pulang dan dipelajari kembali.
Bagi Tim Marsiadapari Tandihat, pemeriksaan kesehatan menjadi lebih dari sekadar pengumpulan data. Interaksi langsung dengan warga memberikan kesempatan kepada mahasiswa dan tenaga pendamping untuk memahami berbagai keluhan kesehatan yang mereka hadapi sekaligus membangun komunikasi yang lebih dekat dengan masyarakat.
Setelah jeda untuk istirahat, ibadah, dan salat Jumat, kegiatan dilanjutkan dengan bakti sosial berupa pembagian sembako kepada warga Huntara. Setiap keluarga menerima satu paket yang berisi beras, minyak, telur, vitamin, mi kuning, roti, gula, dan kopi. Bantuan tersebut menjadi bentuk dukungan terhadap kebutuhan sehari-hari masyarakat sekaligus melengkapi rangkaian intervensi yang sebelumnya berfokus pada aspek kesehatan fisik dan psikologis.

Warga Hunian Sementara (Huntara) Mengikuti Pemeriksaan Kesehatan dalam Rangkaian Intervensi Kesehatan
Di sisi lain, perhatian terhadap kehidupan anak-anak juga menjadi bagian dari rangkaian Marsiadapari Tandihat 2026. Tim menghadirkan pojok baca di ruang kelas 1–6 di sekolah dasar kawasan Huntara. Ruang tersebut ditata dan dihias dengan poster edukatif serta dilengkapi lemari berisi berbagai buku bacaan yang ramah anak.
Pojok baca diharapkan menjadi ruang sederhana yang dapat mendorong kebiasaan membaca, mendukung proses belajar, dan menghadirkan suasana pendidikan yang lebih positif bagi anak-anak di tengah kehidupan pascabencana.
Dengan demikian, rangkaian Marsiadapari Tandihat 2026 bergerak dari kesehatan hingga pendidikan, dari kebutuhan fisik hingga psikososial. Edukasi, skrining, pemeriksaan kesehatan, bantuan sosial, dan penyediaan ruang baca menjadi bagian dari upaya menghadirkan dukungan yang lebih menyeluruh bagi masyarakat Huntara.
Bagi tim, pengabdian bukan semata-mata tentang apa yang diberikan kepada masyarakat. Lebih dari itu, pengabdian adalah tentang hadir, mendengarkan, memahami, dan berjalan bersama masyarakat dalam proses pemulihan.
Di Huntara Tandihat, sebuah pemeriksaan kesehatan menjadi pintu untuk mengenali kondisi diri. Sebuah penyuluhan menjadi bekal untuk menjaga kesehatan; sebuah skrining menjadi ruang untuk didengar; sebuah paket sembako menjadi tanda kepedulian; dan sebuah pojok baca menjadi investasi kecil untuk masa depan anak-anak. Marsiadapari Tandihat 2026 hadir bukan hanya untuk berbagi, tetapi untuk tumbuh dan belajar bersama masyarakat.
Bersama Memulihkan. Bersama Menguatkan. Bersama Menumbuhkan Harapan.
TIM
