Air Jernih Belum Tentu Sehat: Ancaman Diam-Diam Logam Berat dan Eutrofikasi bagi Perairan Kita
Oleh: Sonny Lahati, S.Pi.,M.Si.*
Danau Paisupok merupakan danau yang sangat jernih memukau sangat viral bahkan wisatawan macanegara cukup banyak yang mengunjungi danau tersebut.
Praktek lapangan mata kuliah limnologi, mahasiswa sumberdaya akuatik Unisa pada awal Februari 2026 berencana riset ke Danau Paisupok yang berada di Kabupaten Banggai Kepulauan.
Ketika melihat sungai atau danau yang airnya tampak jernih, kita sering menganggap perairan tersebut masih sehat. Anggapan itu tidak selalu benar. Air dapat terlihat bersih, tidak berbau, dan tidak menunjukkan perubahan warna yang mencolok, tetapi pada saat yang sama mengandung logam berat, pestisida, atau senyawa toksik yang membahayakan kehidupan akuatik.
Inilah persoalan pencemaran perairan yang sering tidak terlihat. Pencemaran tidak selalu datang dalam bentuk air hitam, berbusa, atau berbau menyengat. Sebagian pencemar bekerja perlahan dan baru menunjukkan dampaknya setelah terakumulasi dalam organisme atau mengubah keseimbangan ekosistem.
Bahan kajian tentang perairan darat menunjukkan bahwa logam seperti merkuri (Hg), kadmium (Cd), timbal (Pb), kromium (Cr), tembaga (Cu), dan seng (Zn) dapat berasal dari aktivitas alami, tetapi peningkatan konsentrasinya sangat berkaitan dengan aktivitas manusia, antara lain pertambangan, industri, pertanian, dan limbah domestik.
Pencemaran yang tidak selalu terlihat
Persoalannya menjadi lebih serius karena logam berat dapat berada dalam berbagai bentuk. Sebagiannya terlarut dalam air, sebagian berikatan dengan bahan organik, partikel tersuspensi, atau mengendap di dasar perairan.
Artinya, ketika kita hanya mengamati warna dan kejernihan air, kita belum tentu mengetahui kondisi sebenarnya.
Lebih jauh lagi, kondisi kimia perairan seperti pH, suhu, oksigen terlarut, dan bahan organik dapat memengaruhi kelarutan serta ketersediaan biologis logam. Pada kondisi tertentu, logam dapat menjadi lebih mudah tersedia bagi organisme sehingga meningkatkan risiko toksisitas. Di sinilah publik perlu memahami bahwa kualitas air tidak cukup dinilai hanya dari apa yang terlihat oleh mata.
Dari air ke ikan, dari ikan ke manusia
Dampak pencemaran tidak berhenti pada air. Ikan dan organisme akuatik dapat menyerap dan mengakumulasi bahan pencemar dalam tubuhnya. Jika proses ini berlangsung terus-menerus, pencemar dapat berpindah melalui rantai makanan.
Jika bahan pencemar bersifat bioakumulatif, konsentrasi yang masuk ke organisme dapat menjadi persoalan ekologis sekaligus persoalan kesehatan masyarakat. Bahan yang menjadi dasar artikel ini mencatat bahwa paparan Hg, Cd, dan Pb dapat mengganggu berbagai fungsi fisiologis organisme akuatik, sementara sifat bioakumulatif logam berat memungkinkan pencemar berpindah ke tingkat trofik yang lebih tinggi.
Karena itu, pengelolaan perairan bukan hanya persoalan menyelamatkan ikan. Ia juga berkaitan dengan keamanan pangan dan kesehatan manusia.
Danau yang tampak hidup tetapi daya dukung kimianya menurun
Salah satu contoh yang dapat digunakan untuk menjelaskan persoalan ini adalah eutrofikasi danau. Bayangkan sebuah danau yang menerima limpasan pupuk dari lahan pertanian, limbah domestik, serta bahan organik dari daerah tangkapan air.
Pada awalnya, peningkatan nitrogen dan fosfor mungkin tampak sebagai sesuatu yang positif. Nutrien tersebut memang dibutuhkan fitoplankton dan tumbuhan air untuk tumbuh. Tetapi ketika inputnya berlebihan, keseimbangan berubah.
1. Masuknya Nutrisi (Pupuk dan Limbah)
Proses ini biasanya bermula dari aktivitas manusia, seperti limpasan air pertanian yang mengandung pupuk kimia (kaya akan unsur hara) serta pembuangan limbah rumah tangga atau industri yang kaya bahan organik ke badan air (danau, sungai, atau pesisir laut).
2. Peningkatan Kadar Nitrogen (N) dan Fosfor (P)
Masuknya limbah tersebut menyebabkan konsentrasi unsur hara utama, yaitu Nitrogen (N) dan Fosfor (P), meningkat secara drastis di dalam air. Kedua unsur ini bertindak sebagai “makanan super” bagi mikroorganisme nabati di perairan.
3. Ledakan Pertumbuhan Fitoplankton
Dengan melimpahnya pasokan nutrisi, fitoplankton dan alga mikroskopis lainnya mendapatkan kondisi ideal untuk berkembang biak dengan kecepatan yang sangat luar biasa (ekponensial).
4. Terjadinya Algal Bloom
Akibat pertumbuhan yang tak terkendali, populasi alga menumpuk dan membentuk lapisan padat di permukaan air yang sering disebut sebagai algal bloom (mekarnya alga). Kondisi ini kerap mengubah warna air menjadi kehijauan, kecoklatan, atau kemerahan serta menghalangi cahaya matahari menembus lapisan air di bawahnya.
5. Kematian Biomassa Alga
Karena pertumbuhan yang terlalu cepat dan persaingan ruang serta nutrisi yang ketat, siklus hidup alga menjadi pendek. Dalam waktu singkat, jutaan alga tersebut akan mati secara bersamaan dan tenggelam ke dasar perairan.
6. Lonjakan Aktivitas Dekomposisi oleh Bakteri
Tumpukan alga yang mati menjadi bahan organik melimpah bagi bakteri pengurai (dekomposer). Populasi bakteri ini pun meledak karena mereka bekerja keras menguraikan bangkai-bangkai alga tersebut.
7. Konsumsi Oksigen Terlarut Secara Masif
Proses respirasi bakteri pengurai dalam memecah bahan organik membutuhkan banyak oksigen. Akibatnya, oksigen terlarut (Dissolved Oxygen) di dalam air terkuras secara besar-besaran dalam waktu singkat.
8. Kondisi Hipoksia hingga Anoksia
Kadar oksigen yang drastis menyusut memicu kondisi hipoksia (kekurangan oksigen) atau bahkan anoksia (ketiadaan oksigen sama sekali) di perairan tersebut, menciptakan apa yang sering disebut sebagai “zona mati” (dead zone).
9. Stres dan Kematian Massal Organisme Akuatik
Tanpa pasokan oksigen yang memadai, ikan, udang, kerang, dan berbagai organisme bentik (penghuni dasar perairan) tidak dapat bernapas. Mereka akan mengalami stres berat, terpaksa migrasi, atau berujung pada kematian massal yang merusak keseimbangan rantai makanan di ekosistem tersebut.
Inilah paradoks eutrofikasi yakni nutrien yang diperlukan untuk kehidupan justru dapat menjadi ancaman ketika jumlahnya berlebihan.
Bahan yang Anda berikan menjelaskan bahwa peningkatan nitrogen dan fosfor dapat meningkatkan biomassa fitoplankton, tetapi ketika biomassa tersebut mati dan mengalami dekomposisi, konsumsi oksigen dapat meningkat sehingga lapisan bawah perairan mengalami hipoksia bahkan anoksia.
Ketika “subur” justru menjadi masalah
Kita sering menggunakan kata subur sebagai sesuatu yang positif. Dalam pertanian, tanah yang subur adalah hal yang diharapkan. Namun dalam ekosistem perairan, terlalu banyak nutrien bukan berarti semakin baik. Danau yang terlalu kaya nitrogen dan fosfor dapat mengalami perubahan besar dalam struktur ekosistem. Pertumbuhan alga menjadi berlebihan, cahaya yang menembus kolom air berkurang, bahan organik meningkat, dan proses dekomposisi menghabiskan oksigen.
Akibat akhirnya dapat berupa kematian ikan, penurunan keanekaragaman hayati, dan perubahan struktur komunitas organisme perairan. Dengan kata lain, masalahnya bukan sekadar “air menjadi hijau”. Masalah sebenarnya adalah daya dukung kimia perairan mulai terganggu.
Daya dukung kimia: konsep yang perlu dikenal publik
Istilah daya dukung biasanya dikaitkan dengan kemampuan lingkungan untuk menopang kehidupan. Dalam konteks kimia perairan, konsep ini dapat dipahami sebagai kemampuan suatu ekosistem mempertahankan kondisi kimia yang memungkinkan organisme hidup dan proses biogeokimia berlangsung secara stabil.
Parameter seperti pH, oksigen terlarut, karbon dioksida, nutrien, alkalinitas, salinitas, serta bahan toksik berperan menentukan kondisi tersebut.
Persoalannya, daya dukung kimia memiliki batas. Ketika pencemar terus masuk, nutrien terus bertambah, dan kemampuan ekosistem untuk memproses atau menetralisasi tekanan tersebut terlampaui, maka kualitas perairan mulai menurun.
Karena itu, kita tidak boleh menunggu sampai ikan mati untuk menyatakan bahwa sebuah danau atau sungai telah tercemar. Kematian ikan adalah gejala akhir, bukan selalu awal masalah.
Apa yang harus dilakukan?
Ada tiga perubahan cara pandang yang perlu dilakukan. Pertama, pemantauan kualitas air harus lebih komprehensif. Pemerintah dan pengelola perairan tidak cukup hanya mengukur parameter yang mudah diamati. Pemantauan perlu mencakup air, sedimen, dan bila relevan jaringan biota untuk mengetahui keberadaan dan akumulasi pencemar. Bahan kajian juga menekankan pentingnya pemantauan rutin logam berat dan bahan toksik pada air, sedimen, serta jaringan biota.
Kedua, sumber pencemar harus dikendalikan dari hulu. Mengatasi ikan mati tanpa menghentikan sumber pencemar sama saja dengan mengobati gejala tanpa menyelesaikan penyebab.
Ketiga, masyarakat harus dilibatkan. Petani, industri, rumah tangga, nelayan, pembudidaya ikan, pemerintah daerah, dan perguruan tinggi memiliki peran yang berbeda tetapi saling berhubungan.
Penutup
Jangan menunggu air berubah warna, krisis kualitas perairan sering kali tidak datang secara tiba-tiba. Ia dapat berlangsung perlahan melalui akumulasi bahan pencemar, perubahan komunitas organisme, peningkatan nutrien, dan penurunan oksigen.
Karena itu, pertanyaan pentingnya bukan hanya “Apakah air ini terlihat bersih?”
Tetapi “Apakah secara kimia, biologis, dan ekologis perairan ini masih mampu menopang kehidupan?” Pertanyaan kedua jauh lebih penting. Sungai dan danau bukan sekadar saluran air atau tempat penampungan limbah. Keduanya adalah sistem kehidupan yang menyediakan habitat, sumber pangan, air, jasa ekosistem, dan menopang kehidupan masyarakat.
Menjaga kualitas perairan berarti menjaga rantai kehidupan dari mikroorganisme, plankton, ikan, hingga manusia. Dan pesan terpentingnya sederhana: air yang jernih belum tentu sehat, sementara pencemaran yang tidak terlihat bukan berarti tidak ada.
Penulis adalah: Dosen Sumberdaya Akuatik Fakultas Perikanan (Faperik), Universitas Alkhairaat (UNISA) Palu.*