Bubuk Daun Kelor Antarkan Universitas Alkhairaat Raih Silver Winner Nasional Dosen Pendamping Inspiratif BEM Berdampak

Bubuk Daun Kelor Antarkan Universitas Alkhairaat Raih Silver Winner Nasional Dosen Pendamping Inspiratif BEM Berdampak

Yogyakarta-WartakiatΙ Prestasi membanggakan ditorehkan Tim dari Universitas Alkhairaat (Unisa) Palu, dikancah nasional, melalui Program Mahasiswa Berdampak. Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Alkhairaat, menurunkan judul “Pemanfaatan Bubuk Daun Kelor sebagai Sumber Gizi Makanan Tambahan Anak Balita dalam Menekan Prevalensi Stunting di Desa Walatana,” menjadi satu-satunya perwakilan dari Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah XVI bersaing ditingkat nasional. Bertempat di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta, baru-baru ini.

Tim yang diketuai Dr. Jumardin, S.P.,M.P berhasil mendapatkan Silver Winner, kategori Dosen Pendamping Inspiratif Program Mahasiswa Berdampak Tahun Anggaran 2025. Ia bersama anggota tim dosen lainnya yakni, Dr. Misriyani, S.Si.,M.Sc dan Spetriani, S.TP.,M.Sc, memaparkan judul pemanfaatan bubuk daun kelor sebagai sumber gizi tambahan anak balita menekan prevalensi stunting di desa Walatana  mendapatkan perhatian dari tim pakar dari Kemendiktisaintek.

Sementara tim dari BEM Universitas Alkhairaat, masing-masing atas nama Munifa A. Asyura, Suayub, Yuni Reza Worotikan, Siti Wilda, Moh. Riski, Moh. Radjab, Friska Cristin Day, Asria, Iis Afriani, Farida Yusuf, Bulan, Ardiansyah, Moh. Fahri Baktir, Moh. Rivan Ar. Sunua, Naila Febriani, Moh. Fachri Risky Dunanta, Fadhil Trizky, Muhammad Haikal Nur Islami, Rizka Khairunnisa Djimsar, dan Dian Hikmayanti Khairullah.

Pengumuman pemenang dibacakan disela-sela kegiatan Seminar Dampak Program Mahasiswa Berdampak di Universitas Ahmad Dahlan (UAD). Yogyakarta pada tanggal 05/06 hingga 07/6. Sebanyak 60 tim mempresentasikan hasil inovasi dan dampak program berdampak di berbagai daerah Indonesia. Tim  dari Universitas Allkhairaat dihadiri langsung ketua tim, Dr. Jumardin, S.P.,M.P dan mahasiswa diwakili oleh  Moh. Radjab. Tim dari Universitas tidak menaruh harapan akan meraaih silver winner, mengingat banyakya pesaing dari seluruh Indonesia.

“Saya nanti Radjab yang bilang, pak, namanya bapak dipanggil, baru saya sadar dan bangkit dari tempat duduk kemudian menuju ke panggung,”singkatnya.

Selain Dosen Unisa Palu, penghargaan gold winner diraih oleh Muh Faturokhman dari Institut Pertanian Bogor. Sementara itu, bronze winner didapatkan oleh Bayu Hari Mukti dari Universitas Sari Mulia, Banjarmasin. Program ini adalah bentuk apresiasi resmi dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Penghargaan ini diberikan kepada dosen pendamping yang berkontribusi nyata dalam memberdayakan masyarakat. Mereka bertindak sebagai mentor, fasilitator, dan penggerak inovasi mahasiswa dilapangan. Dosen Unisa Palu dinilai berhasil mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan pengabdian masyarakat yang berkelanjutan.

Terdapat enam kriteria utama dalam penilaian Dosen Pendamping Inspiratif. Penilaian mencakup keberhasilan membimbing mahasiswa, besarnya dampak program, serta inovasi solusi yang diberikan. Selain itu, juri juga melihat keberlanjutan program, kolaborasi lintas sektor, dan peran aktif dalam pemberdayaan masyarakat.

Keberhasilan Dosen Unisa Palu meraih medali perak tingkat nasional mendapat apresiasi dari pihak pimpinan. Ketua Yayasan Alkhairaat SIS Aljufrie, Dr Hamdan Rampadio, mengatakan, prestasi yang diraih ini membuktikan bahwa kualitas tenaga pendidik dilingkungan kampus untuk terus bersaing dan memberikan solusi nyata bagi masyarakat sasaran.

“Prestasi ini menunjukkan kualitas dosen Unisa yang dapat bersaing di tingkat nasional. Bahkan ini sangat luar biasa capaiannya, penghargaan yang diterima adalah peringkat dua nasional, yakni medali perak. Saya harap ini menjadi pemicu dan motivasi untuk seluruh dosen Unisa agar berlomba meraih karya akademik tingkat nasional bahkan internasional,” kata Dr Hamdan Rampadio.

Sejumlah tim riset  dari berbagai kampus diundang berkumpul di Universitas Ahmad Dahlan (UAD)  menghadiri Seminar Dampak Pelaksanaan Program Mahasiswa Berdampak Tahun Anggaran 2025 berlangsung selama tiga hari, 5–7 Juni 2026. Termasuk Universitas Alkhairaat (UNISA) Palu. Kegiatan ini merupakan kerjasama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).

Seminar dampak ini difokuskan pada evaluasi pelaksanaan Program Mahasiswa Berdampak 2025 yang telah menyalurkan dana kurang lebih tiga puluh  miliar untuk ratusan proyek pengabdian dan inovasi  mahasiswa di berbagai daerah di Indonesia. Universitas Alkhairaat (UNISA) Palu, mengirim Dr. Jumardin, S.P.,M.P.

Jumardin yang juga wakil dekan Fakultas Pertanian itu saat dihubungi dari Yogyakarta mengatakan kegiatan itu tidak hanya menjadi forum diseminasi hasil program, melainkan menjadi ruang evaluasi untuk mengukur manfaat nyata yang dirasakan masyarakat dari berbagai inovasi yang dijalankan mahasiswa bersama dosen pendamping.

Sebanyak 60 tim terbaik dari berbagai perguruan tinggi hadir untuk memaparkan hasil kegiatan sekaligus menjelaskan perubahan yang terjadi di masyarakat mitra setelah program dijalankan.

Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek, Fauzan Adziman, mengatakan Program Mahasiswa Berdampak dirancang untuk mendorong mahasiswa menghadirkan solusi konkret atas berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.

Menurutnya, keberadaan jutaan mahasiswa di Indonesia merupakan potensi besar yang dapat menghubungkan hasil riset dan inovasi kampus dengan kebutuhan nyata masyarakat.

“Kita memiliki sekitar sepuluh juta mahasiswa di perguruan tinggi. Mereka adalah ujung tombak bagaimana masyarakat dapat merasakan manfaat dari inovasi, hasil penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, dan pemikiran yang lahir dari kampus. Karena itu, sesuatu yang dibangun dari mahasiswa dan oleh mahasiswa merupakan motor penting dalam menghadirkan dampak nyata bagi negeri,” katanya.

Dia menuturkan salah satu kekuatan utama Program Mahasiswa Berdampak terletak pada kolaborasi lintas disiplin ilmu atau collective intelligence. Melalui pendekatan tersebut, mahasiswa dari berbagai bidang keilmuan bekerja bersama untuk mengidentifikasi persoalan sosial berdasarkan data lapangan sekaligus membangun solusi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Tercatat sebanyak 957 proposal diajukan oleh perguruan tinggi dari seluruh Indonesia. Setelah melalui proses seleksi dan kurasi, sebanyak 263 proposal dinyatakan lolos dan memperoleh bantuan pendanaan dengan total nilai mencapai Rp30,1 miliar. Program tersebut melibatkan 199 perguruan tinggi yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

“Kami ingin mengukur bukan hanya aspek administratif dan teknis, tetapi sejauh mana masyarakat benar-benar merasakan perubahan, kapasitas lokal tumbuh, dan ilmu pengetahuan maupun teknologi berkembang di komunitas,” tambah Fauzan.

Rektor  Universitas Alkhairaat (UNISA), Palu Dr. Muhammasd Yasin, didampingi Wakil Rektor bidang Kemahasiswaan, Alumni dan Kerjasama, drg. Lutfiah, Kepala Biro Humas Kemahasiswaan dan Alumni, Ridwan Laki, menerima kembali Dr. Jumardin didampingi Spetriani, M.Sc  dan mahasiswa Moh. Radjab, pada hari Senin 08/06 diruang kerja Rektor. Pada kesempatan itu, Rektor  Unisa Palu menyampaikan apresiasi atas prestasi yang ditorehkan oleh Dr. Jumardin dan tim BEM Berdampak,  yang tidak hanya membawa nama baik Universitas Alkhairaat, tapi juga nama nama baik Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah XVI Gorontalo, Sulawesi Utara dan Sulawesi Tengah dikancah Nasional.

Laporan:  TIM HUMAS UNISA PALU

 

 

Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *