KETIKA ‘CINTA’ HILANG DI NEGERI INI

Oleh : Kasman Jaya Saad
Mengutip Jonathan Swift dalam kolom catatan pinggir Goenawan Mohamad (Tempo,13/4/08) “ Kita punya agama yang cukup untuk membuat kita membenci, tapi tak cukup untuk membuat kita mencintai…”. Kalimat ini seakan kembali arif dan sekaligus menusuk, bagaimana kejadian menimpa-penusukan- Menko Polhukam Jenderal Wiranto. Bagaimana penampilan yang sakral itu bertaut dengan perilaku yang brutal. Dan di ujung negeri ini, di Wamena Papua, bagaimana perilaku brutal itu juga disuguhkan. Puluhan nyawa tak berdosa menjadi korban, dan ribuan orang mengungsi. Dimanakah cinta dengan sesama bersemayam di negeri ini. Dimana nilai mencintai sesama dalam sila kemanusiaan yang adil dan beradab itu kini. Entah.
Dan di sisi lain negeri ini dipenuhi perilaku rakus para elitnya. Bagaimana mereka mempertontonkan keributan demi jabatan dan kuasa. Mereka terus beselisih, saling jegal baik dengan cara halus maupun dengan cara yang brutal. Nafsu akan kuasa demikian membutakan mata mereka, dan berlomba mengkhianati negeri dan sesamanya. Sumpah jabatan sebagai wujud permaknaan dari nilai ketaqwaan disalahgunakan, dijadikan formalitas, karena ketamakan dan hasrat meraih kehormatan rendah begitu merajalela. Tak lagi hirau dengan amanah yang terberikan untuk mensejahterahkan rakyat yang memilihnya. Rasa persaudaraan juga memudar. Karagaman tak lagi memberi energi untuk saling menghormati dan menguatkan, karena yang terjadi adalah saling meniadakan. Mereka lupa apa itu kemanusiaan dan cara memperlakukan manusia dengan cinta.
Bagaimana negeri ini bisa damai, bisa bersaing dan maju bila tak ada cinta sesama anak negeri. Kita kehilangan ‘cinta’ dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Menurut John C.Maxwell, “Tanpa cinta kasih, tidak ada hubungan, tidak ada masa depan dan tidak ada kesuksesan bersama”. Dan “ Cinta adalah kehidupan. Dan bila anda kehilangan cinta, berarti anda kehilangan kehidupan” begitu Leo Buscaglia, seorang profesor yang terkenal dengan teori Love A1, melanjutkan. Dan Dr. Karl Menninger seorang Psikiater asal Amerika Serikat menyatakan, “Cinta adalah solusi bagi banyak masalah di dunia. Namun kenyataannya, cinta itu suatu resep yang sering diberikan, tapi jarang digunakan”.
Ada sebuah momentum menakjubkan yang tertuang dalam sejarah kehidupan Nabi Muhammad Saw tentang cinta, tentang kasih sayang. Diriwayatkan saat Rasul dengan pasukannya memenangkan perang Badar dan setiap musuh yang masih hidup menjadi tawanan perang, sementara harta rampasan perang berhak menjadi milik orang muslim. Lalu mereka dikumpulkan di lapangan beserta harta rampasan. Lalu Rasul yang mulia itu berdiri di hadapan para tawanan perang lalu berkata “ Wahai saudaraku, hari ini adalah hari cinta kasih, hari kasih sayang bukan hari pembantaian, kalian semua kami bebaskan, kembalilah kepada keluarga kalian dengan damai dan ambillah harta kalian semua. Ini adalah hari Yaumil Marhamah (kasih sayang)”. Bahkan, dalam sebuah hadist, Rasulullah memasukan kategori kasih sayang terhadap sesama sebagai alat ukur keimanan seseorang. “Tidaklah beriman seorang pun di antara kamu yang tidak mencintai sesama saudaranya sebagaimana mencintai dirinya sendiri”. Jadi Rasul mengklasifikasikan atau mengkategorikan cinta kepada sesama bagian dari keimanan, bagian dari tolak ukur keimanan seseorang.
Plato lalu menyebut “Cinta adalah nikmat kebaikan, indahnya kebijaksanaan dan buah keajaiban dari Tuhan”, itu sebab nasihat Tiongkok kuno perlu menjadi pengingat bagi kita bahwa “Cintailah yang dibumi agar dicintai yang di langit”. Dan semua dari kita adalah ciptaan-Nya, itu sebab kita harus merawat cinta itu. Sekecil apapun cinta itu yang kita miliki akan sangat bermakna bagi negeri ini, karena cinta dan persaudaraan adalah harta yang paling berharga yang kita miliki. Negeri ini butuh banyak mata air keteladanan, yang mampu menyalami nilai-nilai cinta itu dengan baik lewat tutur dan perilakunya. Tak perlu menunggu berkuasa dan punya harta melimpah, cukup dengan senyum dan tegur sapa yang santun, tak dipenuhi basa-basi, dengan niat tulus untuk tidak mendzalimi sesama atau orang lain, cinta akan terwujud. Bunda Teresa pernah berujar bahwa, “ Tidak semua orang mampu melakukan hal-hal besar. Namun semua orang mampu melakukan hal-hal kecil dengan cinta yang besar”. Semoga kita tidak membiarkan cinta hilang di negeri ini, dimulai dari diri sendiri, bagikan cinta itu dengan sesama, karena mencinta adalah energi positif yang akan mendamaikan. “Tantangannya adalah bukan seberapa banyak kita memberi, melainkan berapa banyak cinta yang kita sampaikan saat memberi”. Tabe…
Penulis : Dosen Universitas Alkhairaat