Wajah Pendidikan Kita Ditengah PPKM Covid-19

Wajah Pendidikan Kita Ditengah PPKM Covid-19

Oleh: Ridwan, S.Pd.I.,M.Si.*

Wabah Pandemi Covid-19 datang menerobos dan menghancurkan semua sendi kehdupan anak manusia di muka bumi ini. Tidak terkecuali wajah pendidikan kita  jatuh pada titik terendah. Kerja keras para guru, dosen bahkan pemerintah tidak mampu membendung laju pandemi ini.  Sudah tidak terhitung lagi berapa nyawa yang meregang. Namun, kita jangan pasrah begitu saja, lakukan upaya mempertahankan diri dengan meningkatkan iman dan imun. Shalat, zikir berdoa seraya tetap ikhtiar dengan penerapan protokol kesehatan.

Wabah ini juga telah menarik kita pada satu masa, dimana  orang tua memainkan peran ganda. Orang tua, khususnya ibu rumah tangga diperhadapkan pada situasi serba  sulit. Betapa tidak, selain mengurusi kewajiban domestiknya, ia juga dituntut  harus menguasai informasi dan teknologi dan mendampingi buah hatinya.

Penggunaan media pembelajaran berbasis IT, semisal meeting zoom dan lain sebagainya adalah sebuah keniscayaan. Bagi yang diperkotaan, mereka sudah terbiasa melakukannya. Namun tidak bagi mayoritas masyarakat kita diakar rumput. Jangankan zoom meeting,  HP android saja  mereka tak punya. Belum lagi yang berhubungan dengan hal-hal non teknis lainnya, keterbatasan sumber daya manusia, pendapatan keluarga hingga gangguan signal dan lain sebagainya.

Kita juga sangat menghargai kerja keras para guru selama ini. Di tengah pembatasan sosial akibat wabah covid-19, mereka tetap semangat mengajar dengan berbagai simulasi metode yang mereka praktekkan, mendatangi langsung rumah para muridnya dan mengumpulkan beberapa siswa di rumah salah seorang murid berdasarkan jarak. Saban hari, guru terihat menenteng papan tulis dengan segudang ide di kepalanya. Namun, upaya itu dirasakan tidak efektif.

Sebagai pendidik sekaligus orang tua, sangat  merasakan dampak pandemi ini bagi anak kita. Setidaknya hal itu diakui oleh kedua anak saya. Sulung di bangku SMA dan sang adik di bangku SMP. Apa kata mereka, pembelajaran daring ini dirasakannya tidak efektif. Selain tidak adanya interaksi langsung antara guru dan murid, antar sesama teman di sekolah, juga hal lain yang tak kalah pelik yakni, seringnya terjadi gangguan jaringan atau signal tiba-tiba hilang disaat mereka  tengah mengikuti pembelajaran. Efeknya, anak-anak bisa stress, anak saya, tanpa dia sadari langsung berteriak jika tiba-tiba terjadi gangguan internet, sebab dia takut ketinggalan pelajaran dan dimarahi guru. Belum lebih kompleks lagi, jika dikaitkan dengan pendidikan karakter bagi anak usia TK, SD bahkan SMP yang butuh sentuhan langsung seorang guru sebagai panutan dan model bagi muridnya.

Mengutip tulisan Dr. Anam Sutopo, Dosen FKIP UMS yang berjudul Tantangan Pendidikan di Era Pandemi, ia mengatakan bahwa pemerintah kurang mengantisipasi. Konsep sekolah di rumah  (home-schooling) tidak pernah menjadi arus utama dalam wacana pendidikan nasional. Penerapan pembelajaran online (online learning) selama in hanya terbatas pada Universitas Terbuka, program kuliah bagi karyawan di sejumlah universitas dan kursus-kursus tambahan (online courses).

Kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), kembali memaksa perubahan dari pendidikan formal di bangku sekolah menjadi belajar dari rumah, dengan sistem online.  Sistem pendidikan online bukan perkara mudah. Dibutuhkan disiplin pribadi  belajar secara mandiri, disinilah kolaborasi guru dan orang tua. Belum lagi fasilitas dengan segala tetek bengeknya dan sumber daya orang tua.

Mencermati kondisi saat ini yang menunjukan trend peningkatan, bisa bisa diprediksi sampai kapan pandemi ini akan berakhir. Dalam catatan penulis pandemi ini masuk ke Indonesia sejak medio Maret 2020. Kaitannya dengan pendidikan, dperlukan langkah-langkah strategis agar pembelajaran di masa pandemi ini tetap berlangsung. Walaupun harus diakui, hal itu tidak efektif. Langkah ini dipandang sangat penting, jika tidak ada persiapan matang, maka kata Dr. Anam Sutopo dimungkinkan akan terjadi loss generation atau bahkan education death (kepunahan pendidikan). Dalam artian pendidikan sebagai sebuah proses yang membersamai pembelajaran tidak hadir secara nyata (induktik) atau bahkan punah sama sekali.

Selain itu, tidak sedikit peserta didik yang tidak mendapatkan hasil pembelajaran secara maksimal. Baik dari materi pelajaran maupun penugasan-penugasan yang diberikan oleh tenaga pendidik selama pandemi Covid-19 ini berlangsung.

Diterbitkannya SKB  empat Menteri, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Agama (Menag) Menteri Kesehatan (Menkes)  dan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) tentang panduan Penyelegaraan Pembelajaran Semester Genap Tahun Ajaran  dan Tahun Akademik 2020/2021 perlu diterjemahkan secara bijak oleh banyak pihak, khususnya penyelenggara lembaga pendidikan dan pembelajar,  baik siswa sekolah dasar, menengah maupun mahasiswa di perguruan tinggi.

Tugas mencerdaskan dan membuat bangsa ini berkarakter itu bukan hanya Kementerian Pendidikan dan Kebuyaaan, apalagi di masa Covid-19. Tentu, masalah koneksi internet semestinya menjadi domain Kementerian Komunikasi dan Informasi, lalu masalah kesehatan jelas berada di koordinasi Kementerian Kesehatan. Sekiranya kementerian kementerian saling bahu-membahu mempersiapkan infrastrukturnya maka tidak ada yang mustahil membangun kualitas intelektualitas peserta didik yang tetap sehat di masa adaptasi kebiasaan baru era Covid-19.

Pendidikan di era digital memerlukan inovasi dan kreasi yang terus-menerus sehingga guru maupun anak didik tidak mudah mengalami kejenuhan dan kebosanan. Pun jangan dimaknai pembelajaran daring hanya sekadar memberikan soal dan penugasan pada murid dan mahasiswa untuk menjawabnya. Harus diakui juga, ada beberapa hikmah yang bisa dipetik dari wabah ini tanpa kita menyadarinya. Antara lain, orang tua lebih mudah mengontrol dan memonitoring anaknya.

Selain itu, dari sisi kreativitas, baik dari tenaga pendidik maupun peserta didik dalam sistem pembelajaran online ini guru maupun murid semakin kreatif. Saat ini, banyak guru sudah pandai membuat materi pembelajaran berbasis video yang menarik. Begitu juga sebaliknya.

Suka tidak suka, pandemi Covid-19 telah melemahkan dan menyulitkan  aktivitas manusia pada umumnya. Tanpa kita sadari juga  banyak sisi-sisi positif yang dapat kita petik dari pandemi Covid-19 yang sedang melanda dunia hingga hari ini.

Namun, jangan jadikan alasan dengan adanya pandemi kita berhenti belajar. Islam telah memperkenalkan pada kita konsep pendidikan seumur hidup. Rasulullah SAW bersabda,”Tuntutah ilmu dari ayunan sampai ke liang lahat”. Long Life Education.

Semoga dengan ikhtiar iman maksimal pandemi Covid-19 ini  segera berakhir, sehingga pembelajaran tatap muka di sekolah dan kampus dimulai kembali. Karena pertalian emosional, pendidikan karakter, integritas, akhlak dan budi pekerti tidak bisa tergantikan oleh teknologi secanggih apapun.

Wallaahu A’lamu Bissawaab.

(Penulis; Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Alkhairaat Palu)

 

 

Ridwan Laki

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *