Jangan Sepelekan Diare: Kenali Gejala dan Cara Menanganinya
Oleh: Masita Muchtar, M.Biomed*
Diare didefinisikan sebagai keluhan buang air besar encer atau berair yang terjadi lebih dari 3 kali dalam sehari. Kondisi ini disebabkan oleh konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi virus, bakteri, atau parasit. Secara klinis, diare dapat bersifat akut (kurang dari 14 hari) atau kronis.
Penyebab
Penyebab diare bisa bermacam-macam, mulai dari infeksi, keracunan makanan, alergi makanan, atau penyakit lain yang dapat memicu terjadinya diare. Saat mengalami diare, tubuh kehilangan banyak cairan dan elektrolit. Jika tidak segera ditangani, diare bisa menimbulkan dehidrasi, terutama pada anak-anak dan lansia.
Beberapa kondisi yang dapat menyebabkan diare, meliputi:
- Infeksi virus, seperti rotavirus, yang ditandai dengan diare berair dan biasanya terjadi pada anak-anak
- Infeksi bakteri Campylobacter dan Eschercia coli, yang biasanya disebut dengan keracunan makanan, disebabkan oleh konsumsi makanan yang tidak dimasak sampai matang
- Infeksi bakteri Clostridium difficile, yang ditandai dengan diare berair dan kram perut setelah konsumsi antibiotik
- Infeksi bakteri Salmonella, yang biasanya terjadi akibat konsumsi daging kurang matang, terutama daging ayam, dan telur mentah atau setengah matang
- Amebiasis dan infeksi bakteri Shigella, yang ditandai dengan tinja berbau amis, berdarah, atau berlendir
- Infeksi Cryptosporidium (kriptosporidiosis), yang terjadi setelah meminum atau tidak sengaja menelan air yang terkontaminasi dan tidak dimasak
- Alergi makanan, yang ditandai dengan diare beberapa menit atau maksimal 2 jam setelah mengonsumsi makanan pemicu alergi
- Intoleransi laktosa, yang biasanya disertai dengan kembung, feses berbau asam, serta anus perih atau kemerahan setelah konsumsi makanan dengan kandungan susu
- Sindrom malabsorbsi, yang ditandai dengan diare kronis yang berbau menyengat dan berat badan menurun
- Radang usus, yang dapat disertai dengan sakit perut, sering mulas, dan diare dengan darah atau lendir
- Irritable bowel syndrome, yang ditandai dengan BAB cair, serta kram perut yang hilang timbul dan membaik setelah buang air besar
- Efek samping terapi medis, seperti kemoterapi, radioterapi, atau operasi
- Penyakit lain, seperti hepatitis atau kanker usus besar
Cara mengatasi:
- Cegah Dehidrasi: Minum banyak cairan (air putih, sup, atau oralit) setiap kali selesai buang air besar.
- Pola Makan: Pilih makanan yang lembut seperti bubur, pisang, atau roti tawar (diet BRAT). Hindari makanan pedas, berminyak, dan produk susu untuk sementara.
- Jaga Kebersihan: Selalu cuci tangan dengan sabun setelah dari toilet dan sebelum makan.
Komplikasi
Diare rentan menyebabkan komplikasi jika tak mendapat penanganan yang tepat. Di antaranya:
- Dehidrasi yang bisa menyebabkan gangguan serius pada fungsi organ tubuh hingga kematian
- Ketidakseimbangan elektrolit yang bisa memicu gangguan jantung, kejang, dan kelumpuhan otot
- Malnutrisi atau gangguan kekurangan nutrisi, terutama pada anak-anak
- Gangguan keseimbangan asam-basa yang bisa mempengaruhi fungsi organ vital dan mengganggu sistem pernapasan serta peredaran darah
- Infeksi sekunder yang kian memperparah gejala
- Masalah pencernaan karena rusaknya lapisan usus atau gangguan fungsi organ lain
Pencegahan
Menjaga kebersihan diri dan lingkungan adalah cara utama untuk mencegah diare, antara lain dengan:
- Mencuci tangan menggunakan air mengalir dan sabun setelah menggunakan toilet atau menyentuh benda yang terkontaminasi
- Memastikan mengonsumsi minuman/makanan yang telah matang dan diolah secara higienis
- Jika ragu terhadap kebersihan makanan/minuman, sebaiknya tidak mengonsumsinya
- Menggunakan perlengkapan dan tempat makan yang bersih
- Menjalani vaksinasi, terutama anak-anak
Kapan harus ke Dokter?
Jika diare berlangsung lebih dari 48 jam, disertai demam tinggi, ada darah pada tinja, atau tanda-tanda dehidrasi parah (jarang buang air kecil, mata cekung), segera periksakan diri ke dokter.
Penulis adalah: Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Alkhairaat*
