Puasa dan Kanker: Tentang Menjaga Ibadah Tanpa Khawatir Kesehatan
Oleh: dr. Muhamad Ikhlas, M.Kes, Sp.B, Subsp. Onk.(K)
Memasuki bulan suci Ramadhan, tidak sedikit pasien kanker yang menjalani terapi merasa khawatir terhadap kondisi fisik dan kesehatan selama menjalankan ibadah berpuasa. beberapa studi menyimpulkan bahwa berpuasa dapat mendatangkan kesehatan pada pasien kanker, begitu pula pada laporan penelitian mengenai stem cell bahwa puasa dapat mengaktifkan sel-sel imun untuk regenerasi dan perbaikan sel.
Suatu studi juga memberikan pembaruan penting tentang efek puasa pada kanker payudara, Studi tersebut meninjau data yang tersedia, menyimpulkan bahwa puasa dapat secara signifikan mengurangi pertumbuhan dan perkembangan tumor. Para penulis mencatat bahwa puasa mengurangi kadar insulin-like growth factor 1 (IGF-1) yang terkait dengan proliferasi sel kanker. Pengurangan IGF-1 ini dapat meningkatkan efektivitas pengobatan kanker payudara dengan membuat sel kanker lebih rentan terhadap apoptosis. Selama kemoterapi kanker, Ditemukan analisis studi bahwa periode puasa dapat mengurangi toksisitas terkait pengobatan, seperti kelelahan dan gejala gastrointestinal, sehingga meningkatkan kualitas hidup pasien.
Mekanisme yang terjadi dalam hal ini meliputi peningkatan proses autophagy dan pengurangan stres oksidatif, yang melindungi sel normal dari efek keras pengobatan kemoterapi sambil secara selektif menargetkan sel kanker. walaupun demikian, tidak semua penderita kanker diperbolehkan berpuasa. Hal ini tergantung pada kondisi kesehatan dan status gizi mereka. Berpuasa bagi pasien kanker memerlukan perencanaan matang dan pengawasan medis, karena kondisi tubuh yang unik dan sedang berjuang melawan sel kanker. Secara umum, puasa diperbolehkan bagi pasien kanker yang stabil dan mendapatkan lampu hijau dari dokter onkologi.
Berikut adalah tips dan panduan aman puasa untuk pasien kanker:
1. Konsultasi Medis (Paling Utama)
Wajib Izin Dokter: Lakukan konsultasi dahulu dengan dokter ahli onkologi sebelum memutuskan untuk berpuasa, Dokter akan menilai kondisi fisik, jenis kanker, jenis pengobatan (kemoterapi/radiasi), dan stadium penyakit. hal ini sekaligus dapat membantu pasien untuk mempersiapkan rencana puasa jauh lebih matang dan tanpa khawatir puasanya akan berpengaruh terhadap menurunnya kondisi fisik pasien. Kondisi yang tidak disarankan: Pasien yang menjalani kemoterapi aktif dengan efek samping berat, pasien dengan malnutrisi, atau pasien stadium lanjut biasanya disarankan untuk tidak berpuasa.
2. Tips Nutrisi saat Sahur dan Berbuka
Pasien kanker harus menerapkan pola hidup sehat dengan memenuhi asupan gizi seimbang dan menerapkan diet kanker.
Gizi Seimbang: Pastikan asupan nutrisi mencukupi kalori, protein, lemak sehat, vitamin, dan mineral untuk menjaga daya tahan tubuh dan memperbaiki jaringan yang rusak. Protein tinggi: Tingkatkan konsumsi protein hewani rendah lemak (ayam tanpa kulit, ikan, telur, susu skim, yoghurt) untuk memperkuat daya tahan tubuh. Karbohidrat kompleks: Pilih gandum utuh, beras merah, atau kacang-kacangan sebagai sumber energi yang tahan lama. Porsi makan: Bagi porsi makan menjadi 4 kali: 10% saat buka puasa, 40% setelah maghrib, 10% setelah tarawih, dan 40% saat sahur.
3. Makanan yang Harus Dihindari
Gula dan Karbohidrat Olahan
Hindari takjil terlalu manis (sirup, kolak gula merah) karena gula dapat memicu perkembangan sel kanker. Pilihan Kolak/Takjil Sehat Jika ingin makan takjil, buatlah kolak atau takjil tanpa gula pasir. Ganti dengan pemanis alami atau buat kolak buah (pisang/labu kuning) dengan santan encer agar lebih aman. Gorengan dan lemak Trans: Hindari makanan digoreng karena lemak jenuh tinggi dapat meningkatkan risiko kambuh. Makanan instan/Olahan (ultra processed food): Hindari makanan berpengawet, sosis, daging olahan, dan makanan bakar/gosong. Alkohol dan minuman berkafein: Hindari karena dapat menyebabkan dehidrasi.
4. Manajemen Cairan (Hidrasi)
Pasien kanker kerap kali mengalami dehirasi ringan, hal ini dapat menyebabkan cairan tubuh tidak bekerja sebagaimana mestinya.
Minum yang Cukup: Tubuh membutuhkan cairan untuk berfungsi optimal.Pastikan minum air putih minimal 2-3 liter antara waktu berbuka hingga sahur untuk mencegah dehidrasi, dimana takarannya ialah 2 gelas air putih saat sahur, 4 gelas saat berbuka puasa, 2 gelas setelah shalat tarawih (sebelum tidur). Cairan Nutritif: Konsumsi jus buah asli tanpa gula atau susu untuk membantu hidrasi dan asupan vitamin.
5. Memantau Kondisi Tubuh
Puasa ramadhan berlangsung 30 hari, hal yang utama diperhatikan kondisi fisik. Jangan memaksakan diri, jika merasa pusing, lemah ekstrem, mual, atau ada efek samping pengobatan yang memberat, segera batalkan puasa. Kelola stress, stres dapat memengaruhi perkembangan sel-sel kanker sehingga berdampak buruk bagi kesehatan, terutama mengalami kanker kambuh, beberapa hal dapat dilakukan terapi ko senseling,latihan meditasi, berfikiran positif dan menjalankan hobi yang menyenangkan. Rutin cek kesehatan, tetap lakukan jadwal kontrol ke dokter selama Ramadan.
6. Cukupi Kebutuhan Istirahat
Kebutuhan ini berbanding lurus dengan kecukupan cairan tubuh. dimana untuk waltu istrahat pasien kanker yang tengah berpuasa tetap dianjurkan untuk mencukupi kebutuhan tidur 6-8 jam setiap harinya. Istirahat cukup sangat penting untuk mencegah penyebaran sel-sel kanker dan mempertahankan sistem kekebalan tubuh. Dengan demikian berpuasa bukan merupakan halangan bagi pasien kanker. Tapi ingat, konsultasikanlah lebih dahulu kondisi anda pada dokter.
Penulis adalah: Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Alkhairaat*
