MELESTARIKAN LINGKUNGAN HIDUP, AMANAH AGAMA (Refleksi Hari Lingkungan Hidup Sedunia)

MELESTARIKAN LINGKUNGAN HIDUP, AMANAH AGAMA (Refleksi Hari Lingkungan Hidup Sedunia)

Oleh: Dr.Ahmadan B. Lamuri, S.Ag.,M.H.*

Tanggal 5 Juni diperingati sebagai Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Menengok sejarah penetapannya pada Konferensi PBB di Swedia tahun 1972, kelahirannya dilatar belakangi oleh keprihatinan global terhadap kerusakan alam akibat aktivitas manusia. Meningkatnya industrialisasi menyebabkan polusi alam yang kadang kurang terkendali mengakibatkan rusaknya ekosistem global yang dapat mengancam kehidupan umat manusia. Keputusan ini secara singkat dapat dipahami begitu pentingnya kealamiahan lingkungan hidup bagi manusia; karena itu melestarikannya adalah langkah tepat.

Manusia Sebagai Khalifah

Ketika Allah swt berfirman kepada para malaikat, Aku akan menciptakan di muka bumi ini khalifah. Serentak para malaikat melakukan protes dengan mengajukan pertanyaan “mengapa Engkau ya Allah menciptakan makhluk seperti itu yang akan membuat kerusakan, saling menumpahkan darah…dst” (Q.S. al-Baqarah: 30). Siapa yang dimaksud Allah itu? Yakni “manusia”, sehingga sejak awal penciptaannya telah melekat amanah menjadi seorang khalifah..

Murtadha Muthahhari (2006) mengatakan manusia sebagai khalifah berarti wakilnya Tuhan untuk memegang kekuasaan-Nya di bumi. Selaku pemegang kekuasaan, maka diberikan tanggung jawab yang sangat besar untuk mengurus bumi ini dengan sebaik-baiknya sesuai dengan kehendak sang pemberi amanat. Jika Allah swt telah menciptakan bumi dengan segala isinya begitu sempurna, maka tugas manusia seyogyanya tetap menjaga dan mempertahankan kesempurnaan tersebut (ini bukan tugas mudah). Ditugaskannya sebagai khalifah atau wakil Tuhan karena manusia sebagai ciptaan yang paling sempurna (al-Munawwar, 2005), juga telah difasilitasi atau dibekali ilmu kepadanya dimana ilmu ini tidak dimiliki oleh para malaikat (Q.S. al-Baqarah: 31).

Jika kata khalifah itu dikonversi ke dalam teori manajemen, maka inilah yang disebut kepemimpinan dan kepemimpinan itu dianggap sebagai “inti manajemen” (Syam, 2018). Sementara Nasaruddin (2010) menilai kepemimpinan itu merupakan aspek vital dalam mengejar mutu. Mutu apapun yang hendak dicapai, salah satu penentu adalah kepemimpinan. Termasuk di dalamnya adalah mutu lingkungan hidup. Mendapatkan lingkungan hidup yang berkualitas akan tergantung pada kesiapan kepemimpinan itu (khalifah). Dengan demikian untuk mendapatkan lingkungan yang terpelihara dan melahirkan kualitas untuk dikonsumsi manusia; akan tergantung pada manusia sebagai pemimpin yang diberi amanah untuk mengelola, memelihara, dan memakmurkannya. Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar) (Q.S. ar-Rum: 41). Hidup manusia di muka bumi sebagai pemelihara segala yang ada di dalamnya merupakan amanah dan khittah Allah swt secara langsung; karena itu tugas memelihara lingkungan hidup adalah bagian dari amanah agama.

 Bumi dengan Segala Isinya untuk Manusia

Dalam surah al-A’raf (7) ayat 10 dan al-Hijr (15) ayat 20, Allah swt menjelaskan bahwa bumi adalah tempat dimana manusia hidup. Bumi merupakan satu-satunya tempat terbaik baginya karena telah difasilitasi serta dilengkapi segala macam keperluan hidupnya. Semua yang ada di dalamnya dapat dieksploitasi dan diambil manfaatnya untuk kelangsungan hidupnya. Allah swt telah membentangkan bumi ini untuk manusia (Thalbah, et.al, 2009).  Semua itu adalah karunia dan nikmat Allah yang disiapkan untuk dikonsumsinya.

وَلَقَدْ مَكَّنّٰكُمْ فِى الْاَرْضِ وَجَعَلْنَا لَكُمْ فِيْهَا مَعَايِشَۗ قَلِيْلًا مَّا تَشْكُرُوْنَ ࣖ

Sungguh, Kami benar-benar telah menempatkan kamu sekalian di bumi dan Kami sediakan di sana (bumi) penghidupan untukmu. (Akan tetapi,) sedikit sekali kamu bersyukur.

Kata ma’ayisy pada ayat diatas dipahami dengan “sumber penghidupan”. Karena itu ragam kemanfaatan yang dengannya manusia bisa memperoleh rezki untuk kehidupannya. Ayat tersebut menunjukkan penegasan Allah swt bahwa Dia telah menyediakan bumi untuk manusia tinggal di dalamnya, bebas berusaha dengan batas-batas tertentu sesuai dengan petunjuk-Nya, diberi segala perlengkapan lalu disempurnakan-Nya dengan bermacam-macam produk tumbuh-tumbuhan yang menghasilkan buah, air yang menjadi sumber kehidupan seluruh makhluk hidup-Nya; tujuan utamanya agar manusia dapat hidup senang dan tenang di dalamnya (Depaq, 2009).

Karunia dan nikmat dimaksud untuk memenuhi segala keperluan hidup yang sifatnya jasmaniyah duniawiyah kemudian dijadikan jembatan membangun kebahagiaan rohani guna kesucian dirinya untuk mempersiapkan kehidupan yang kekal di kemudian hari. Karunia dan nikmat yang tak terhingga banyaknya itu, mewajibkan kepada manusia untuk banyak bersyukur. Syukur itu harus dibuktikan dengan melaksanakan tugas utamanya sebagai khalifah yakni: memelihara, memakmurkan, dan mendayagunakan seluruh potensi kekayaan alam yang ada lalu manfaatkan untuk kemaslahatan hidup manusia bersama dan berkelanjutan.

Walaupun harus disayangkan, Allah swt telah menyatakan “kebanyakan manusia tidak bersyukur”. Salah satu bukti yang menunjukkan tidak bersyukur adalah manusia kebanyakan justru membuat kerusakan dipermukaan bumi. Terjadinya banjir bandang, erosi, kerusakan ekosistem di sekitar kita karena kita tidak menyadari dan menginsyafi kalau segala yang ada dipermukaan bumi ini adalah karunia dan nikmat Allah swt yang ditebarkan untuk kepentingan hidup manusia dan akan dimintai pertanggungjawaban di kemudian hari. “Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban” (al-Hadits).

Urgensi Pelestarian Lingkungan

Di atas telah dijelaskan peran dan posisi manusia sebagai salah satu makhluk ciptaan Allah swt yang ditugaskan menjadi khalifah. Akan tetapi dibalik mengemban tugas dimaksud, manusia juga memiliki ketergantungan terhadap alam. Sebab apa yang dibutuhkan manusia tidak lain ada makhluk lain juga yang sama diciptakan kemudian diperuntukkan bagi manusia. Adanya ketergantungan, menuntut agar tetap melakukan pelestarian alam untuk kelangsungan hidup seluruh makhluk.

Allah swt telah menundukkan seluruh makhluk-Nya yang ada di permukaan bumi ini untuk kehidupan manusia seluas-luasnya (Thalbah, et.al, 2009). Hal ini berdasarkan penjelasan Allah swt dalam al-Qur’an surah Ibrahim (14) ayat 32-34.

Allahlah yang telah menciptakan langit dan bumi, menurunkan air (hujan) dari langit, lalu dengan (air hujan) itu Dia mengeluarkan berbagai buah-buahan sebagai rezeki untukmu. Dia juga telah menundukkan kapal bagimu agar berlayar di lautan dengan kehendak-Nya. Dia pun telah menundukkan sungai-sungai bagimu. Dia telah menundukkan bagimu matahari dan bulan yang terus-menerus beredar (dalam orbitnya) dan telah pula menundukkan bagimu malam dan siang. Dia telah menganugerahkan kepadamu segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu benar-benar sangat zalim lagi sangat kufur.

Semua yang ada di permukaan bumi ini telah diatur dan dikendalikan oleh yang menciptakan. Manusia wajib menjaga dan memeliharanya, sebab semua itu untuk kepentingan manusia.

Etika Agar Lingkungan Tetap Maslahat

Ada banyak ayat yang telah melarang manusia untuk melakukan perbuatan yang dengan perbuatannya dapat mengancam eksistensi sumber daya alam yang menjadi sumber rezki dan penghidupannya.

Munculnya kerusakan di permukaan bumi disebabkan oleh karena perbuatan manusia itu sendiri:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar) (Q.S. ar-Rum: 41).

Peristiwa umat masa lalu yang banyak dikisahkan oleh Allah dalam al-Qur’an, dimana mereka mengalami kegagalan serta kehancuran hidup disebabkan ulah mereka sendiri, maka Allah perintahkan manusia untuk menjadikan semua itu sebagai nalar ibrah:

قُلْ سِيْرُوْا فِى الْاَرْضِ فَانْظُرُوْا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلُۗ كَانَ اَكْثَرُهُمْ مُّشْرِكِيْنَ

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Bepergianlah di bumi, lalu lihatlah bagaimana kesudahan orang-orang dahulu. Kebanyakan mereka adalah orang-orang musyrik.” (Q.S. ar-Rum: 42).

Sebagai contoh di sekitar kita saat ini wilayah Palu-Donggala; sebelum maraknya eksploitasi gunung di sepanjang wilayah ini masyarakat tidak dihadapkan dengan banjir bandang yang tiba-tiba terjadi; tetapi ketika maraknya perusahaan-perusahaan tambang yang telah mengeruk dari kaki gunung sampai ke bagian puncak telah memberi dampak terhadap kehidupan masyarakat sekitarnya. Padahal gunung-gunung yang berdiri kokoh itu tidak jadi secara kebetulan, melainkan memang diciptakan Allah untuk menjaga keseimbangan alam serta pasaknya bumi. Ketika fungsi ini dihilangkan, maka tinggal menunggu saatnya akan terjadi bencana yang sewaktu-waktu dapat melanda umat manusia. perhatikan pernyataan Allah dalam al-Qur’an:

اَلَمْ نَجْعَلِ الْاَرْضَ مِهٰدًاۙ وَّالْجِبَالَ اَوْتَادًاۖ

Bukankah Kami telah menjadikan bumi sebagai hamparan ?  dan gunung-gunung sebagai pasak?

Melakukan eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan hanya karena dorongan kemewahan dan kemegahan, jika tidak terkontrol dapat memberi dampak terhadap lingkungan hidup. Karena itu, diperingatkan untuk tidak israf (berlebihan) dan itraf (bermewah-mewah):

كُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْاۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ ࣖ

Makan serta minumlah, tetapi janganlah berlebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebihan (Q.S. al-A’raf: 31).

وَاِذَآ اَرَدْنَآ اَنْ نُّهْلِكَ قَرْيَةً اَمَرْنَا مُتْرَفِيْهَا فَفَسَقُوْا فِيْهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنٰهَا تَدْمِيْرًا

Jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, Kami perintahkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (agar menaati Allah). Lalu, mereka melakukan kedurhakaan di negeri itu sehingga pantaslah berlaku padanya perkataan (azab Kami). Maka, Kami hancurkan (negeri itu) sehancur-hancurnya.

Salah satu sifat dan karakter manusia kadang mubazir. Apabila mereka mendapatkan rezki yang melimpah, mereka menghambur melalui kegiatan foya-foya tanpa memperhatikan kepentingan sosial. Karakter ini akan memberi dampak buruk terhadap lingkungan disebabkan hanya memenuhi kepentingan hawa nafsunya. Karena itu, manusia diperingatkan untuk tidak mubazir:

اِنَّ الْمُبَذِّرِيْنَ كَانُوْٓا اِخْوَانَ الشَّيٰطِيْنِ ۗوَكَانَ الشَّيْطٰنُ لِرَبِّهٖ كَفُوْرًا

Sesungguhnya para pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.

Prinsip yang harusnya digunakan manusia dalam mengeksploitasi segala bentuk karunia dan nikmat itu (sumber daya alam) adalah pola selektif, memperhatikan kelestariannya, berusaha mengambil sesuai kebutuhan (penghematan), dan usaha memperbaharuinya atau memperhatikan kesinambungan dan keberlanjutannya (Jaya, 2020).

 Objek Lingkungan yang Dipelihara

Eksistensi laut. Laut merupakan bagian dari isi perut bumi yang lebih luas dari daratan; bahkan luasnya bisa mencapai 70%. Al-Qur’an menyinggung laut dengan dua bentuk kosa katanya, yaitu: bahr dengan kata jamaknya “bihar” diulang sebanyak 38 kali dan kata al-yamm disebut sebanyak 7 kali (Depaq, 2017). Luasnya laut disertai dengan kedalamannya terdapat ragam sumber penghidupan manusia; setiap saat dan waktu isinya diangkut tetap tidak pernah habis; sungguh Mahakuasa Allah swt. Maka manusia yang berakal dituntut untuk terus menjaga dan berusaha mengahalangi setiap kegiatan yang mengarah pada pengrusakannya (Q.S an-Nahl: 14; Fathir: 12).

Eksistensi air. Air menjadi sumber penghidupan seluruh makhluk hidup. Air begitu besar manfaatnya dalam kehidupan, walaupun kadang menjadi ancaman serta malapetaka bagi manusia. Air disebutkan dalam al-Qur’an sebanyak 63 kali dengan beberapa bentuknya. Keberadaan air juga terjadi melalui beberapa proses baik secara alami maupun buatan. Tetapi air bisa menjadi sumber energi yang tidak pernah habis. Tugas manusia melakukan konservasi  sebagai langkah pemeliharaannya (Q.S. al-Waqi’ah: 68-70; UU No. 7 Tahun 2004).

Eksistensi udara dan awan. Kebutuhan manusia terhadap udara begitu besar bahkan manusia tidak hidup tanpa udara. Karena itu, manusia harus terus menjaga terjadinya polusi, jika udara aman dari pengaruh polusi manusia yang menghirupinya akan sehat bugar selalu (Q.S. ar-Rum: 48).

Eksitensi tumbuh-tumbahan. Selain manusia membutuhkan hasil buah dari tumbuhan juga yang penting adalah oksigen yang diproduksinya sebagai salah satu kebutuhan terpenting manusia. Karena itu, perlunya penghijauan dengan aneka ragam tumbuhan, agar lingkungan menjadi asri (Q.S. ‘Abasa: 24-32; al-Mu’minun: 19).

Kebersihan lingkungan. Menjaga kebersihan lingkungan termasuk bagian dari usaha menjaga kesehatan. Dalam salah satu riwayat dikatakan “kebersihan itu bagian dari iman”. Hadits riwayat at-Tirmidzi dijelaskan: “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan; baik dan menyukai kebaikan; dan bersih serta menyukai kebersihan”. Lingkungan yang bersih akan melahirkan kondisi yang sehat (Q.S. al-Muddatsir: 4).

Kesadaran ekologis. Bagaimana pun aturan, pedoman, usaha sebagian orang untuk terus menyuarakan arti pentingnya pelestarian lingkungan dengan segala manfaat ataupun mudharatnya; tetapi jika tidak didukungan dengan kesadaran ekologis, maka usaha itu menjadi sia-sia. Kesadaran termasuk salah satu yang menentukan sukses usaha melestarikan lingkungan hidup (Kemenag, 2017).

Peringatan hari lingkungan hidup mengingatkan kembali kepada manusia arti pentingnya lingkungan hidup sebagai satu kesatuan ekosistem yang saling berhubungan (Jaya, 2020). Namun kelestariannya akan tergantung sejauh mana peran sentral manusia sebagai penanggungjawab utama (khalifah) diimplementasikan dalam hal tersebut. Sebagai makhluk yang telah difasilitasi akal, semoga bisa menjadi sumber lahirnya kesadaran bahwa semua yang diciptakan oleh Allah swt tidak ada yang sia-sia dan telah sempurna dan terbaik untuk keberlangsungan hidup manusia dan melestarikan lingkungan adalah amanah agama. Tugas manusia adalah berusaha dengan segala daya dan kemampuannya guna menjamin alam sekitarnya tetap memberi maslahat sepanjang masa. Wallahul A’lam!

Penulis adalah: Dosen Yayasan Fakultas Agama Islam Universitas Alkhairaat*

Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *