Puisi di Tengah Krisis Kemanusiaan

Puisi di Tengah Krisis Kemanusiaan

Oleh: Nasim Taha, S.Pd.,M.Pd.*

Di tengah krisis kemanusiaan yang kian kompleks perang, kemiskinan struktural, ketidakadilan sosial, hingga bencana kemanusiaan yang berulang, manusia sering kali kehilangan cara untuk menjelaskan penderitaannya. Angka dan statistik memang mampu memotret besarnya masalah, tetapi kerap gagal menyentuh sisi paling rapuh dari kemanusiaan itu sendiri yaitu bahasa menyentuh jiwa manusia, hingga ikut andil dalam persoalan dan permasalahan yang ada. Pada titik inilah puisi hadir sebagai bahasa alternatif sunyi, sederhana, namun menggugah kesadaran manusia.

Puisi mungkin tidak menawarkan solusi yang kompleks, tetapi ia menghadirkan empati. Dalam larik-lariknya, penderitaan tidak sekadar menjadi data, melainkan berubah menjadi pengalaman batin. Tangisan korban, kegelisahan pengungsi, jerit kaum terpinggirkan, dan kegamangan manusia modern menemukan rumahnya dalam kata-kata yang jujur dan intim. Puisi membuat pembaca tidak sekadar tahu, tetapi ikut merasa.

Dalam sejarahnya, puisi kerap lahir dari situasi krisis. Ia menjadi cara manusia bertahan ketika harapan nyaris runtuh. Ketika ruang-ruang publik dibungkam, puisi menjadi ruang aman untuk bersuara. Ketika kebenaran dipelintir, puisi menyelipkan makna dengan bahasa kias dan simbol. Ia adalah bentuk perlawanan yang tidak berteriak, tetapi justru lebih lama gaungnya.

Di tengah krisis kemanusiaan hari ini, puisi juga berfungsi sebagai pengingat nurani. Ia menolak kita untuk terbiasa dengan penderitaan. Puisi mengganggu kenyamanan, memaksa pembaca berhenti sejenak dari rutinitas, lalu bertanya, sejauh mana kita masih peduli? Dalam dunia yang serba cepat dan pragmatis, puisi mengajak kita kembali pada nilai paling dasar yaitu kemanusiaan.

Lebih dari itu, puisi berperan sebagai jembatan solidaritas. Ia melampaui batas geografis, ideologi, dan identitas. Sebuah puisi tentang penderitaan di satu tempat dapat menyentuh hati pembaca di tempat lain. Di sanalah puisi bekerja secara diam-diam, membangun kesadaran bahwa penderitaan manusia adalah urusan bersama.

Mungkin puisi tidak mampu menghentikan perang, menghapus kemiskinan, atau mengantisipasi bencana alam dalam sekejap. Namun tanpa puisi, krisis kemanusiaan berisiko kehilangan wajah manusianya. Puisi menjaga agar kita tidak sepenuhnya menjadi makhluk yang apatis oleh angka, kebijakan, dan wacana. Ia mengingatkan bahwa di balik setiap krisis, selalu ada manusia yang ingin didengar, dipahami, dan dimanusiakan.

Penulis adalah Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Alkhairaat*

Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *