Ketenangan Adalah Separuh Obat

Ketenangan Adalah Separuh Obat

Oleh; Ridwan Laki

Judul tulisan diatas adalah petikan ungkapan seorang ulama sekaligus ilmuwan muslim yang terkenal dibidang ilmu kedokteran, Ibnu Sina.
Sudah banyak tulisan dan ulasan dari cerdik pandai tentang corona atau Covid-19, nama penyakit yang konon bermula dari Wuhan. Penulis tidak mengulas tentang apa itu corona, melalui tulisan ini paling tidak bisa mengurangi rasa cemas dan takut yang menghantui pikiran kita belakangan ini. Perasaan takut mati dibungkus plastik dan tidak bisa disentuh dan tidak diantar keluarga hingga ke peristirahatan terakhir. Kecemasan itu lahir dari apa yang kita lihat setiap hari di smartphone milik kita. Belum lagi mindset yang terbangun dalam otak kita ketika disebut orang tersebut positif dalam pikiran kita mati. Padahal faktanya, warga yang dinyatakan positif di Palu berdasarkan informasi resmi keadaannya semakin membaik dan sehat. Tidak seperti yang ada dalam hayal kita.

Saat pertama kali media memberitakan Sulteng jebol, satu positif, banyak warga panik alias cemas. Para sosialita langsung down alias lemas saat membaca berita itu di smartphonenya.
Penulis mengutip beberapa pendapat para ahli, antara lain, pakar virus (virologist), drh Mohammad Indro Cahyono, ia melihat persoalan virus corona di Indonesia sudah bergeser, penyakit yang sebetulnya biasa-biasa saja dibikin seolah-olah menyeramkan. Sehingga takutlah orang seantero negeri ini.
Belum lagi, kita terlalu gampang menerima berita yang tidak benar, dimasukkan ke otak terus-menerus, corona-mati, corona-mati, padahal faktanya tidak begitu. Corona dibuat menimbulkan ketakutan yang tidak berdasar, dan kita harus mulai menyingkirkan bahwa corona bukan kematian, karena begitu kita menaruh handphone di bawah, lalu kemudian kita keluar rumah, kita baru sadar bahwa ternyata tidak ada orang-orang yang mati bergelimpangan di luar, seperti yang dilihat di smartphonenya.
Kita harus meyakinkan orang bahwa corona virus ini tidak ada hubungannya dengan kematian, kata Indro Cahyono. Belum tentu orang yang kena corona pasti mati, karena kenyataannya yang mati dalam skala dunia lebih sedikit, itu pun juga ada yang dikategorikan sebagai high risk group. Itu akan sangat gampang dihitung. Jadi jangan lihat sebarannya.
Kalau sebarannya cepat itu benar, tetapi tidak semua orang yang kena atau yang positif itu akan mati, karena pasien 1, 2 dan 3 membuktikan dua minggu kemudian malah sembuh. Disinilah perlunya kesadaran bermedsos untuk saling menguatkan. Media juga begitu, harus angkat data yang sakit bisa sembuh dan sehat, jangan yang mati-mati terus. Yakinkan masyarakat bahwa ini adalah sesuatu yang nyata, tidak ada yang perlu ditakutkan, maka masyarakat tenang. Saat masyarakat tenang, yach tidak ada yang namanya panic buying, atau lockdown.
Meskipun begitu, kita jangan anggap enteng, tetap waspada. Edukasi masyarakat bahwa virusnya gampang rusak pakai sabun, hand sanitizer, sampo juga bisa, cairan cuci piring juga bisa.
Bagian luar, bisa dihancurkan pakai sabun. Sementara untuk menjaga tubuh tetap vit, konsumsi vitamin C dan E untuk menaikkan antibodi. Jadi berbeda penanganan virus di dalam tubuh dan di luar.
Menurut dokter hewan ini, masyarakat kita minim sekali literasi buat belajar, minim sekali memilih informasi yang benar. Menerima informasi langsung ditelan mentah-mentah, tidak disaring dulu, masa dipercaya ada bayi yang bicara menganjurkan makan telur rebus sebelum jam 12 malam akan terhindar dari virus corona. Panik iyah, tapi jangan bodoh kata salah seorang teman diakun media sosialnya.Yang untung penjual telurnya. Hehe.
Sebelumnya juga begitu, dengan mudahnya kita percaya ramalan suku Maya yang kalendernya hanya sampai 2012, seluruh dunia geger dan percaya bahwa 2012 akan kiamat, tetapi kenyataanya tidak kiamat kan?
Mari edukasi masyarakat kita agar tidak panik dan cemas, kurangi smartphone, karena disana banyak berseliweran informasi yang buat imun tubuh kita drop. Mari kita saling menguatkan. Perbanyak baca Alqur’an.
Jauh hari Ibnu Sina sudah bilang bahwa kepanikan adalah separuh penyakit, ketenangan adalah separuh obat dan kesabaran adalah permulaan kesembuhan.
Bagi kaum muslimin dan muslimat mari tingkatkan kualitas ibadah kita. Pesan cintaNYA dari peristiwa ini, kita lebih banyak waktu dirumah bercengkrama dengan keluarga, lebih banyak waktu berzikir dan mengganti puasa bagi ibu-ibu.
Saatnya kita proteksi diri kita untuk tidak membaca dan menonton informasi yang membuat dada sesak. Kalau ada informasi lewat diberanda atau digrup WhatsApp langsung dihapus saja tidak usah dipedulikan dan dimasukkan di otak. Mari kita ikuti anjuran pemerintah dan Ulama kita untuk tetap dirumah, terapkan pola hidup bersih dan sehat, jaga jarak, hindari keramaian dan cuci tangan pake sabun sambil berdoa kepada Allah SWT agar corona kembali ke haribaanNYA sebelum bulan suci Ramadhan. Aamiin yaa Rabb
Wallahu A’lamu Bissawab

Penulis : Dosen Universitas Alkhairaat

Wartakiat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

shares